Sebelum Beton TMMD Kebumen Mengering, Tawa Itu Lebih Dulu Merekat

 

 

KEBUMEN, top62.id — Lokasi TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen di Desa Somagede belum sepenuhnya sibuk. Mesin molen masih diam, tumpukan pasir dan batu tertata rapi menunggu giliran diaduk. Udara terasa ringan, menyisakan ruang bagi percakapan sebelum pekerjaan dimulai.

Di tepi jalur yang akan dicor rabat beton, beberapa anggota Satgas duduk bersama warga. Helm proyek diletakkan di samping, cangkir teh hangat berpindah tangan. Di antara mereka, Ibu Suwatri berbicara tanpa canggung, seperti menyapa tetangga sendiri.

“Pak Tentara, nanti jalannya harus kuat ya. Biar saya lewat bawa belanjaan nggak oleng lagi,” katanya, disusul tawa kecil, Minggu (1/3/2026).

Seorang prajurit menjawab santai, “Tenang, Bu. Ibu lewat bawa belanjaan atau dorong sepeda, tetap aman.”

Candaan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat pagi terasa akrab. Di tempat yang sebentar lagi dipenuhi suara mesin dan ritme kerja, obrolan ringan menjadi pengikat awal. Tidak ada jarak yang terasa kaku. Seragam loreng dan pakaian rumahan duduk sejajar di atas hamparan tanah yang akan segera berubah menjadi jalan beton.

Bagi warga, rabat beton itu bukan sekadar proyek. Jalan yang lebih rata berarti akses lebih mudah ke pasar, ke sekolah, atau ke kebun. Selama ini, ketika hujan turun, permukaan tanah berubah licin dan berlumpur. Belanjaan bisa tumpah, sepeda sulit dikendalikan. Keluhan yang terdengar ringan sesungguhnya menyimpan kebutuhan yang nyata.

Tak lama, aba-aba kerja terdengar. Prajurit berdiri, mengenakan kembali perlengkapan. Wajah yang tadi dipenuhi tawa beralih fokus. Mesin molen mulai berputar, adukan semen dituangkan, dan pekerjaan pengecoran pun dimulai.

Komandan Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., menyebut kedekatan sosial sebagai bagian penting dari pelaksanaan TMMD.

“Kehadiran prajurit di tengah masyarakat bukan hanya untuk membangun fisik, tetapi juga membangun kepercayaan. Dari interaksi sederhana itulah kemanunggalan terjaga,” ujarnya.

Perlahan, beton menghampar menutup permukaan tanah yang selama ini berdebu dan berlumpur. Namun pagi itu menyisakan sesuatu yang tak kalah penting: rasa memiliki bersama atas jalan yang sedang dibangun.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *