KEBUMEN, top62.id – Pagi di Desa Somagede menggeliat pelan, menembus kabut tipis dan menyapu rumah-rumah sederhana. Di lokasi TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen, dentingan sekop dan gemuruh adukan semen berpadu, menandai pekerjaan rabat beton yang terus berjalan. Di tengah itu, satu langkah memilih arah berbeda—langkah Sertu Agus, prajurit yang tak hanya menapak tanah pembangunan, tetapi juga menyusuri lorong-lorong kehidupan rakyatnya.
Tak jauh dari titik pengecoran, di beranda rumah sederhana, Bu Sinem duduk bersila. Di tangannya, helai-helai pandan perlahan berubah menjadi anyaman Complong—tas, dompet, topi, hingga sandal. Setiap simpul bukan sekadar ikatan pandan, tetapi doa dan ketekunan yang dirajut dengan sabar.
Sertu Agus mendekat. Ia berjongkok, menatap jemari renta yang tetap lincah menari di atas anyaman, dan menyapa hangat. Percakapan mereka sederhana, namun sarat makna: tentang pemasaran, tentang harga bahan baku, dan tentang harapan agar kerajinan tradisional tak lekang oleh zaman.
“Ini bukan hanya kerajinan, Bu. Ini warisan dan kebanggaan desa,” kata Sertu Agus, matanya menyiratkan rasa hormat yang tulus. Bu Sinem tersenyum haru. Kunjungan singkat itu mungkin terlihat sepele, namun baginya terasa panjang—sebuah pelita di tengah kerasnya perjuangan ekonomi.
Di lokasi rabat beton, semangat gotong royong tetap menyala. TMMD bukan sekadar menata jalan agar roda kehidupan lebih lancar; ia juga menata rasa, mendekatkan yang berseragam dengan warga yang bersahaja.