SEMARANG, top62.id – Gerakan literasi keuangan kini mulai tumbuh dari kalangan pelajar. Di Kota Semarang, seorang siswa SMA menggagas edukasi finansial sejak dini dengan melibatkan ratusan pelajar SMP dalam kegiatan kreatif bertema keuangan negara.
Adalah Calvin Santoso (16), siswa kelas 10 dari SMA Jakarta Intercultural School (JIS) Jakarta, yang menginisiasi program “Inveskids” sejak 2022. Ia menilai literasi keuangan menjadi bekal penting yang masih minim diajarkan di sekolah.
“Sebagai pemuda Indonesia, saya ingin anak-anak lebih paham keuangan sejak dini. Harapannya ke depan mereka bisa membawa Indonesia jadi negara maju,” ujarnya saat ditemui di Grand Maerokoco, Semarang.

Bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Inveskid menggelar Wall Gallery Competition dengan tema “Hutang Negara, Buat Apa?”.
Kompetisi ini diikuti ratusan siswa SMP yang ditantang menyajikan pemahaman mereka tentang keuangan negara melalui karya majalah dinding (mading).
Berlangsung di kawasan wisata Grand Maerokoco, kegiatan ini menghadirkan suasana edukatif yang berbeda. Para siswa tampak aktif berdiskusi, menggambar, hingga mempresentasikan hasil karya mereka di hadapan juri dan pengunjung.
Tema utang negara yang diangkat memang tergolong kompleks. Namun melalui pendekatan visual dan kreatif, siswa mampu menyederhanakan konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami.

Salah satu peserta mengaku, kegiatan ini membuka sudut pandang baru tentang peran masyarakat dalam mendukung keuangan negara.
“Kalau kita sebagai pelajar bisa mengurangi jajan dan rajin menabung, itu juga membantu. Jadi utang negara bisa digunakan untuk pembangunan, bukan hal konsumtif,” ujarnya.
Peserta lainnya, Aquila Nancia, siswa SMP Negeri 4 Semarang, mengaku baru pertama kali mengikuti lomba bertema keuangan.
“Seru banget, jadi tahu arti utang negara dan kenapa itu penting. Jadi lebih paham dibanding sebelumnya,” katanya.
Tak hanya bagi siswa, kegiatan ini juga menjadi ruang peningkatan kapasitas bagi para guru. Mereka mendapatkan pembekalan terkait penguatan literasi keuangan dalam kurikulum.

Materi yang diberikan mencakup edukasi tentang bahaya pinjaman online (pinjol), judi online (judol), hingga investasi bodong yang marak di era digital.
Selain itu, guru juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu pembelajaran yang lebih interaktif.
Subkoordinator Kurikulum dan Penilaian SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang, Fajriyah, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini.
“Kami sangat mengapresiasi. Literasi keuangan penting agar anak-anak tidak tertinggal, terutama di tengah perkembangan digital saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, metode lomba mading menjadi cara efektif untuk mendorong pemahaman siswa.

“Anak-anak belajar dengan cara praktik. Mereka harus memahami dulu konsepnya sebelum membuat karya. Ini pembelajaran yang nyata,” jelasnya.
Perwakilan MGMP IPS Kota Semarang menambahkan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat literasi keuangan di kalangan pelajar.
“Kami bersama Inveskid bergerak untuk membangun pemahaman siswa tentang keuangan negara. Ini penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.
Calvin berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia.
“Mulai dari Semarang, semoga ke depan bisa berkembang lebih luas,” katanya.