Sebelum meninggalkan lokasi, Dandim menoleh kembali.
“Bapak sabar ya. Kita kawal sampai rumah ini benar-benar siap ditempati,” ujarnya hangat.
Ratman hanya bisa mengangguk, bibirnya bergetar menahan haru.
Di Desa Somagede pagi itu, genteng-genteng masih menunggu untuk dipasang. Namun satu hal sudah lebih dulu terpasang kokoh—keyakinan bahwa rumah ini tidak dibangun seadanya. Ia dijaga. Ia diawasi. Ia dibangun dengan hati.
Di bawah langit Somagede, harapan keluarga kecil itu kini tidak lagi rapuh. Ia mulai mengeras, seteguh genteng yang sebentar lagi akan menaungi kehidupan baru mereka.