Selain itu, di Jalur Pantura, kendaraan berat seperti truk dan bus sering meninggalkan oli dan debu pekat. Saat hujan ringan turun, air bercampur kotoran itu membentuk lapisan licin. Solusinya adalah mengurangi kecepatan secara bertahap dan menghindari pengereman mendadak, karena ban mudah kehilangan cengkraman.
“Udan Kethek menipu persepsi kita. Matahari masih terlihat, kita merasa aman, dan sering enggan menurunkan kecepatan. Padahal risiko kecelakaan nyata,” tambah Oke.
Menurutnya, menembus cuaca ekstrem di Jawa Tengah bukan soal siapa yang tercepat, melainkan siapa yang paling cerdas membaca tanda-tanda alam. Dengan persiapan matang, risiko bisa diminimalkan, dan perjalanan tetap aman meski hujan turun mendadak.