Cerita Suraji, Datang Sendiri Membangun Jalan TMMD Kebumen meski Tanpa Dibayar

KEBUMEN, top62.id — Pagi di Desa Somagede belum sepenuhnya hangat. Kabut tipis masih menggantung ketika suara molen dan gesekan cangkul mulai terdengar dari lokasi TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen.

Di antara prajurit yang bekerja meratakan rabat beton, ada satu sosok warga yang tak pernah absen: Suraji. Celananya digulung hingga betis, telapak tangannya berbalut sisa semen yang mengering. Ia bergerak dari satu titik ke titik lain, membantu mengangkat ember adukan, lalu meratakan cor dengan hati-hati.

Bagi Suraji, jalan yang sedang dibangun itu bukan sekadar proyek. Jalan itu yang setiap hari ia lewati—menuju sawah, ke rumah tetangga, atau mengantar anak ke sekolah. Saat hujan turun, jalan tanah berubah licin. Motor sering tergelincir, langkah menjadi ragu.

“Kalau bukan kita yang ikut bantu, siapa lagi?” katanya singkat, sambil menyeka keringat dengan lengan baju.

Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan alasan mengapa ia selalu datang sejak pekerjaan dimulai. Ia tidak dibayar. Ia datang karena merasa memiliki.

Di lokasi itu, batas antara seragam loreng dan pakaian kerja warga seakan mengabur. Sekop berpindah tangan, ember dioper dari satu orang ke orang lain. Tak banyak percakapan panjang—hanya gurauan kecil untuk menjaga semangat tetap hidup.

“Capek?” tanya seorang prajurit kepadanya.

Suraji tersenyum. “Capek pasti. Tapi nanti kalau jalannya sudah bagus, kita juga yang menikmati.”

Komandan Satgas TMMD Reguler ke-127 Kodim 0709/Kebumen, Letkol Inf. Eko Majlistyawan Prihantono, S.H., M.I.P., menyebut keterlibatan warga sebagai kekuatan utama dalam program tersebut.

“TMMD tidak bisa berjalan sendiri. Partisipasi masyarakat seperti Pak Suraji inilah yang membuat pembangunan benar-benar menjadi milik bersama,” ujarnya.

Menjelang siang, matahari mulai terasa terik. Namun ritme kerja tidak banyak berubah. Suraji tetap di sana, memastikan permukaan cor rata sebelum mengering.

Di Desa Somagede, rabat beton itu memang sedang dibangun dengan pasir dan semen. Tetapi yang membuatnya bertahan kelak adalah rasa memiliki—bahwa jalan itu dikerjakan dengan tangan sendiri, oleh orang-orang yang setiap hari melaluinya.

Dan di antara suara molen yang terus berputar, ada keyakinan sederhana: gotong royong masih hidup, selama masih ada orang seperti Suraji yang memilih datang dan bekerja bersama.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *