Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 5: Jejak di Tanah Sunyi

 

Episode 5

 

FAJAR belum benar-benar lahir ketika Jaka meninggalkan batas desa. Asap masih membumbung tipis dari sisa rumah yang terbakar. Tanah yang semalam dipenuhi jerit kini sunyi seperti kuburan panjang. Ia tidak menoleh lagi.

Di belakangnya berjalan seorang lelaki tua berjubah kelabu, rambutnya memutih panjang diikat sederhana. Dialah Resi Wiradarma, yang sejak kecil dipanggilnya Eyang. Namun pagi itu, langkah Resi Wiradarma terasa lebih berat dari biasanya.

“Jaka,” suara tua itu pelan namun tegas, “jangan kau pikul semua dengan amarah. Api yang kau bawa semalam belum padam.”

Jaka mengepalkan tangan. “Aku tidak ingin itu terjadi lagi, Yang. Kalau aku tidak ada di desa, mereka takkan kembali.”

Resi Wiradarma tidak langsung menjawab. Angin pegunungan berdesir, membawa bau tanah basah dan sisa arang. Mereka berjalan menuju arah timur, ke hutan-hutan lereng yang lebih dalam. Kepergian itu bukan pelarian semata—melainkan awal perjalanan yang sudah diramalkan jauh sebelum Jaka lahir.

Namun Jaka belum tahu seluruhnya.

***

Bayangan yang Mengikuti

Menjelang siang, mereka tiba di sebuah sendang tua tersembunyi di balik rimbun pohon beringin. Airnya jernih, memantulkan langit pucat. Resi Wiradarma berhenti.

“Di sini kita beristirahat.”

Jaka membasuh wajahnya. Air terasa dingin menembus tulang. Ketika ia menatap pantulannya, bayangan itu muncul lagi—sekilas. Seperti wajahnya sendiri, namun matanya lebih dalam, lebih tua, lebih kelam.

Ia tersentak mundur.

“Yang…” suaranya bergetar, “itu muncul lagi.”

Resi Wiradarma menutup mata sejenak. “Ia tidak muncul. Ia memang ada.”

Jaka terdiam.

“Namanya Gendra,” lanjut sang resi. “Ia bukan setan. Bukan pula dewa. Ia adalah bagian dari garis darahmu.”

“Bagian… dariku?” Jaka menggeleng. “Kalau ia bagian dariku, kenapa rasanya seperti orang lain yang ingin mengambil alih tubuhku?”

Resi Wiradarma duduk bersila di bawah beringin. “Karena kau belum mengenalnya. Dan ia belum mengenalmu.”

Jawaban itu tidak menenangkan.

***

Tirakat Pertama

 

Malamnya, Resi Wiradarma menyalakan dupa kecil. Mereka berada di pelataran batu yang menghadap jurang. Angin malam menusuk, bulan separuh menggantung pucat.

“Kau harus mulai belajar mendengar,” kata Resi Wiradarma. “Bukan dengan telinga. Tapi dengan rasa.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Duduk. Pejamkan mata. Jangan melawan bila ia datang. Tapi jangan pula membiarkannya menguasai.”

Itulah awal tirakat pertama Jaka.

Ia duduk bersila, memejamkan mata. Awalnya hanya suara angin. Lalu detak jantungnya sendiri. Lalu sesuatu yang lebih dalam.

Gelap.

Di dalam gelap itu, ia berdiri sendirian. Tanah retak di bawah kakinya. Langit merah tua. Dari kejauhan, sesosok bayangan berjalan mendekat.

Sosok itu tinggi, rambutnya panjang terurai, wajahnya samar namun menyerupai Jaka sendiri.

“Akhirnya kau datang,” suara itu berat, bergema seperti dari gua purba.

Jaka ingin mundur, tapi kakinya tak bergerak. “Siapa kau?”

“Kau sudah tahu namaku.”

“Gendra…”

Bayangan itu tersenyum tipis. “Kau memanggilku ketika kau marah. Ketika kau takut. Tapi kau juga mengutukku saat kau sadar.”

“Aku tidak ingin melukai siapa pun.”

“Dan kau pikir aku ingin?” Suara itu tiba-tiba keras. Tanah di sekeliling mereka bergetar. “Aku adalah api yang diwariskan. Api tidak memilih apa yang ia bakar. Ia hanya ada.”

Jaka menahan napas. “Kalau kau bagian dariku… kenapa aku tak bisa mengendalikanmu?”

“Karena kau hanya melihatku sebagai kutukan.”

Tiba-tiba gelap itu retak. Cahaya bulan menembus. Jaka tersentak membuka mata. Tubuhnya berkeringat dingin.

Resi Wiradarma menatapnya tajam. “Apa yang kau lihat?”

“Dia… berbicara padaku.”

Resi Wiradarma mengangguk perlahan. “Itu baru permulaan.”

***

 

Pemburu di Belakang Jejak

Tanpa mereka sadari, jauh di batas hutan, dua sosok bertopeng berdiri mengamati. Jubah mereka gelap, lambang mata terbelah terukir di dada.

“Sinyalnya semakin kuat,” salah satu berbisik.

“Biarkan ia belajar sedikit,” jawab yang lain. “Semakin matang, semakin mudah dipanen.”

Mereka menghilang seperti kabut.

 

Ujian Tanpa Amarah

Keesokan harinya, Resi Wiradarma membawa Jaka ke sebuah lembah sempit berbatu. Di sana mengalir sungai deras dengan arus memutar.

“Masuklah,” perintah sang resi.

“Arusnya terlalu kuat.”

“Itu sebabnya kau harus masuk.”

Jaka menggigit bibir, lalu melangkah ke sungai. Arus menghantam tubuhnya, hampir menjatuhkannya. Ia mencoba menahan dengan tenaga dalam, tapi dorongan air justru semakin liar.

“Jangan lawan dengan marah!” teriak Resi Wiradarma dari tepi. “Rasakan iramanya!”

Jaka memejamkan mata, mencoba mendengar detak air. Ia ingat kata-kata Gendra. Aku adalah api. Lalu ia sadar—api dan air tidak selalu bermusuhan. Air bisa mengarahkan api, bukan memadamkan.

Ia mengubah napasnya. Tidak lagi memaksa menahan arus, melainkan mengikuti pusaran, memutar tubuhnya searah aliran. Perlahan, ia mampu berdiri lebih tegak.

Di dalam dirinya, sesuatu bergetar—namun tidak meledak.

Resi Wiradarma tersenyum tipis. “Kau mulai mengerti.”

***

Kabar dari Desa

Sore itu, seorang pemuda desa tetangga berlari tergopoh mendaki lereng mencari Resi Wiradarma.

“Resi! Pasukan bertopeng terlihat di perbatasan selatan. Mereka bertanya tentang seorang anak bernama Jaka!”

Darah Jaka mendidih.

“Aku akan kembali,” katanya spontan.

Resi Wiradarma mengangkat tangan menahan. “Belum.”

“Kalau mereka menyerang lagi—”

“Kalau kau kembali sekarang dengan amarah yang sama, kau justru memberi mereka alasan.”

Jaka gemetar. “Lalu apa yang harus kulakukan? Bersembunyi?”

“Bertumbuh.”

Satu kata itu terasa lebih berat dari pedang.

***

Percakapan Kedua

Malam turun lebih cepat. Jaka kembali duduk dalam tirakat. Kali ini, ia tidak menunggu dengan takut.

Gelap itu datang lagi.

Gendra berdiri lebih dekat.

“Kau ingin kembali,” suara bayangan itu tenang.

“Mereka memburu aku.”

“Mereka memburu kita.”

Jaka terdiam. “Apa yang sebenarnya mereka inginkan?”

Gendra memandang langit merah di atas mereka. “Kekuatan leluhurmu bukan sekadar tenaga dalam. Ia adalah kunci.”

“Kunci apa?”

“Gerbang yang telah lama disegel.”

Jantung Jaka berdegup keras. “Gerbang apa?”

Namun sebelum Gendra menjawab, suara Resi Wiradarma menggema dari kejauhan, memanggil namanya dari dunia nyata.

Gelap itu pecah.

***

Keputusan di Ujung Tebing

Resi Wiradarma berdiri memandang cakrawala ketika Jaka membuka mata.

“Aku merasakan mereka makin dekat,” kata sang resi pelan. “Kita tak bisa lama di sini.”

“Ke mana kita akan pergi, Yang?”

Resi Wiradarma menoleh, tatapannya tajam namun lembut. “Ke tempat asal segel itu dibuat.”

“Di mana?”

“Gunung yang tak disebut dalam peta. Padepokan tua yang bahkan namanya telah dilupakan.”

Jaka menarik napas panjang. “Dan di sana… aku akan tahu siapa sebenarnya Gendra?”

Resi Wiradarma mengangguk. “Dan siapa sebenarnya dirimu.”

Angin malam berembus lebih kencang, seolah membawa bisikan masa lalu.

Di kejauhan, kilatan cahaya samar muncul di balik pepohonan—tanda bahwa para pemburu tidak pernah benar-benar jauh.

Jaka berdiri, menatap kegelapan tanpa gentar seperti sebelumnya.

“Aku tidak akan lari lagi,” katanya pelan.

Resi Wiradarma tersenyum tipis. “Bagus. Karena mulai sekarang, perjalanan ini bukan tentang melarikan diri. Ini tentang menghadapi warisan.”

Mereka melangkah meninggalkan tebing itu, menuju pegunungan yang lebih sunyi—tempat rahasia leluhur menunggu untuk dibuka.

Dan di dalam dada Jaka, api itu tidak lagi mengamuk.

Ia mulai menyala dengan arah.

 

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *