Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 4: Api yang Tidak Bisa Dipadamkan

 

Episode 4

 

LANGIT belum sepenuhnya gelap ketika firasat itu kembali datang.

Jaka sedang duduk di beranda rumahnya. Ayahnya di dalam, merapikan wayang-wayang yang belum selesai diukir. Sejak kemunculan makhluk berjubah hitam dua hari lalu, suasana desa tak pernah benar-benar tenang.

Tak ada yang berani keluar malam.

Tak ada yang berani menyebut nama Jaka keras-keras.

Angin sore bertiup lebih dingin dari biasanya.

Dadanya bergetar.

Bukan seperti sebelumnya.

Kali ini bukan hanya hangat.

Melainkan gelisah.

Seperti ada sesuatu yang mendekat dengan niat yang jelas“Bapak…” Jaka memanggil pelan.

Ki Wira keluar, wajahnya lelah tapi tetap tenang. “Kau merasakannya lagi?”

Jaka mengangguk.

Belum sempat ayahnya menjawab, suara teriakan pecah dari arah timur desa.

Api menyala.

Satu rumah terbakar.

Lalu satu lagi.

“Air! Ambil air!” teriak warga.

Jaka berdiri terpaku.

Api itu terlalu cepat menyebar. Terlalu tiba-tiba. Seolah muncul dari dalam kayu, bukan dari luar.

Dan di antara kepulan asap, sosok itu berdiri lagi.

Makhluk tinggi berjubah hitam.

Namun kali ini ia tidak sendiri.

Empat lelaki berpakaian gelap berdiri di belakangnya, wajah mereka tertutup kain, masing-masing membawa tombak dengan ujung berkilat aneh—seperti bukan logam biasa.

“Serahkan anak itu,” suara makhluk itu menggema.

Beberapa warga mundur, panik.

“Kami tidak tahu apa-apa!” seseorang berteriak ketakutan.

Makhluk itu mengangkat tangannya.

Rumah di sisi barat langsung meledak api dari dalam.

Jeritan perempuan dan anak-anak menggema.

Jaka merasakan dadanya seperti disayat.

Ini salahku.

Pikiran itu muncul begitu saja.

Biarkan aku, suara dalam dirinya berdesis.

“Tidak!” Jaka menggertakkan gigi.

Ki Wira memegang bahunya. “Masuk ke dalam!”

“Tidak, Pak! Mereka datang karena aku!”

Makhluk itu menoleh langsung ke arah Jaka.

Matanya merah redup, tapi kini jelas ada senyum di balik bayangan rambutnya.

“Bagus. Kau mengerti.”

Eyang muncul dari arah pinggir desa, tongkatnya menghantam tanah keras.

“Berhenti sekarang juga!”

Salah satu lelaki berpakaian gelap bergerak cepat, melesat menyerang Eyang. Gerakannya bukan gerakan orang biasa—ringan dan tajam.

Benturan terjadi.

Tongkat Eyang beradu dengan tombak berkilat. Percikan cahaya tipis menyambar udara.

Namun kali ini lawannya lebih dari satu.

Dua lelaki lain mengitari dari sisi berbeda.

Jaka melihat jelas: ujung tombak itu memancarkan aura gelap, seperti kabut tipis.

“Bapak, bawa warga menjauh!” teriak Eyang.

Makhluk tinggi itu melangkah maju.

Setiap langkahnya membuat tanah retak halus.

“Serahkan wadahnya. Desa ini akan selamat.”

“Jaka bukan benda untuk kau ambil!” teriak Ki Wira.

Makhluk itu menoleh pelan ke arah Ki Wira.

“Kalau begitu kau yang pertama.”

Ia mengangkat tangannya.

Angin berputar kencang. Atap rumah Ki Wira terangkat, kayu-kayunya beterbangan seperti daun kering.

Ki Wira terhempas beberapa langkah.

“Bapak!” Jaka berlari.

Panas itu kembali.

Kali ini lebih liar.

Lebih tidak sabar.

Mereka membakar karena kau menahan aku.

Suara itu kini jelas. Berat. Dalam.

“Aku tidak ingin mereka terluka!” Jaka berteriak dalam hati.

Maka berhenti menahan.

Api semakin membesar.

Salah satu lelaki gelap menerobos warga dan menarik seorang anak kecil, menjadikannya tameng.

“Keluar, atau anak ini mati!” ancamnya.

Waktu terasa berhenti.

Jaka membeku.

Dadanya seperti akan pecah.

Biarkan aku.

Bayangan besar itu terasa lebih nyata.

Ia hampir bisa melihat bentuknya.

Sebuah tangan… bukan tangan manusia… seolah merentang dari dalam dirinya.

“Jangan…” bisik Jaka.

Makhluk tinggi itu tertawa rendah. “Ia lemah. Belum pantas.”

Anak kecil itu menjerit.

Sesaat itu juga, sesuatu patah di dalam diri Jaka.

Bukan kesadarannya.

Bukan kemauannya.

Tapi batasnya.

Ia melangkah maju.

“Lepaskan dia.”

Suaranya terdengar berbeda.

Lebih dalam.

Makhluk itu menyipitkan mata.

“Menarik.”

Lelaki bertombak itu tertawa mengejek. “Apa yang bisa kau—”

Kalimatnya terhenti.

Udara di sekitar Jaka bergetar.

Tanah di bawah kakinya retak membentuk garis-garis tipis.

Warga mundur ketakutan.

Jaka tidak mengangkat tangan.

Ia tidak melakukan gerakan apa pun.

Namun tekanan tak terlihat menghantam lelaki itu.

Tubuhnya terpental keras, melepaskan anak kecil itu yang langsung berlari menangis.

Semua terdiam.

Jaka sendiri gemetar.

Ia tidak sepenuhnya sadar apa yang ia lakukan.

Yang ia rasakan hanya gelombang panas dan dorongan kuat yang meluap begitu saja.

Makhluk tinggi itu menatapnya lebih serius sekarang.

“Ya… itu dia.”

Empat lelaki gelap bergerak bersamaan.

Eyang mencoba menahan, tapi satu tombak berhasil melukai lengannya. Darah menetes.

“Eyang!” Jaka terkejut.

Melihat darah itu, sesuatu di dalam dirinya seperti mengaum.

Penglihatannya memerah di tepi.

Suara itu kini bukan lagi bisikan.

Melainkan gema.

Bangkit.

Tubuh Jaka terasa ringan dan berat sekaligus.

Bayangan di belakangnya memanjang—lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.

Beberapa warga bersumpah melihat siluet lain berdiri menyatu dengannya.

Makhluk tinggi itu tersenyum puas.

“Begitu.”

Namun sebelum keadaan lepas kendali, Ki Wira berdiri di depan Jaka.

“Cukup!”

Suaranya menggelegar tak seperti biasanya.

Ia memegang bahu anaknya erat.

“Jaka! Ingat siapa dirimu!”

Kalimat itu seperti palu menghantam kesadaran.

Bayangan besar itu bergetar.

Panas itu tersendat.

“Bapak…” suara Jaka kembali seperti biasa, gemetar.

Makhluk tinggi itu mendesis kesal.

“Bodoh. Kau menghambat takdirmu sendiri.”

Ia mengangkat kedua tangannya.

Api yang menyala di beberapa rumah tiba-tiba membesar.

Jeritan kembali terdengar.

Eyang, meski terluka, menghantam tanah sekali lagi.

“Jaka! Sekarang!”

Jaka mengerti.

Bukan untuk menyerang.

Tapi untuk pergi.

Ki Wira memandang anaknya dalam-dalam.

“Pergilah.”

“Bapak, aku tidak—”

“Kalau kau tinggal, mereka tidak akan berhenti.”

Air mata menahan di pelupuk mata Jaka.

Makhluk tinggi itu melangkah maju lagi.

“Pilihannya sederhana.”

Jaka menoleh ke desa yang mulai dilahap api.

Warga berlarian.

Tangisan terdengar di mana-mana.

Ini tidak akan berhenti.

Selama aku di sini.

Ia menarik napas panjang.

Lalu melangkah mundur.

Eyang sudah berdiri di sampingnya.

“Kita pergi sekarang.”

Makhluk tinggi itu tidak mengejar.

Ia hanya tertawa rendah.

“Lari sejauh apa pun… kau tetap milikku.”

Eyang mengayunkan tongkatnya ke tanah sekali lagi.

Kabut tipis naik dari bumi, menutup pandangan sesaat.

Ketika kabut menghilang, Jaka dan Eyang sudah tidak ada.

Makhluk tinggi itu menatap ke arah hutan.

“Biarkan,” katanya pada lelaki-lelaki gelap. “Perjalanan akan membuatnya matang.”

Api akhirnya padam menjelang tengah malam.

Beberapa rumah hangus.

Beberapa orang terluka.

Namun tidak ada yang mati.

Ki Wira berdiri di tengah reruntuhan rumahnya yang kini benar-benar hancur.

Ia menatap ke arah hutan tempat anaknya menghilang.

“Maafkan Bapak,” bisiknya.

***

 

Di dalam hutan, jauh dari desa, Jaka berjalan tanpa bicara.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Eyang berjalan di sampingnya, langkahnya berat karena luka.

“Eyang…” suara Jaka parau.

“Ya.”

“Apa aku monster?”

Eyang berhenti.

Menatapnya tegas.

“Monster tidak menangis karena menyakiti orang lain.”

Jaka menggenggam tangannya.

“Kalau aku tidak belajar mengendalikannya?”

“Maka kau akan belajar dengan cara yang lebih pahit.”

Angin malam berdesir di antara pepohonan.

Untuk pertama kalinya, desa itu benar-benar tertinggal di belakang.

Dan untuk pertama kalinya, perjalanan Jaka bukan lagi pilihan.

Melainkan keharusan.

Di kejauhan, di balik puncak gunung, makhluk tinggi itu berdiri bersama lelaki berjubah lain.

“Segel akan runtuh sepenuhnya,” kata lelaki itu pelan.

Makhluk tinggi itu tersenyum tipis.

“Dan ketika itu terjadi… dunia akan mengingat namanya.”

Kabut menelan mereka.

Sementara di tengah hutan gelap, Jaka melangkah menuju takdir yang tak lagi bisa ia hindari.

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *