Episode 3
PAGI itu desa terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada anak-anak bermain di pematang. Tidak ada suara lesung bertumbuk berirama. Bahkan ayam-ayam berkokok lebih pelan, seakan ikut merasakan sesuatu yang belum terucap.
Jejak itu ditemukan pertama kali oleh seorang petani di tepi sawah.
Jejak kaki.
Bukan kaki harimau.
Bukan pula kaki manusia biasa.
Jejak itu besar, dalam, dan jaraknya terlalu jauh untuk langkah manusia normal. Tanah basah seolah ditekan oleh beban berat yang tak terlihat.
Berita itu menyebar cepat.
Orang-orang berkumpul, berbisik cemas.
“Bukan harimau,” gumam seseorang.
“Ini lain…”
Jaka berdiri agak jauh, memperhatikan tanpa bersuara.
Dadanya terasa… berbeda.
Bukan panas seperti saat menghadapi harimau.
Melainkan seperti ada sesuatu yang memperhatikan balik.
Eyang datang perlahan, tongkatnya menekan tanah lembap. Ia berjongkok di dekat jejak itu. Jemarinya menyentuh tanah, lalu mengangkat sedikit lumpur dan mengendusnya pelan.
Wajahnya berubah tipis.
“Bukan binatang,” katanya tenang.
“Lalu apa, Eyang?” tanya Ki Wira.
Eyang berdiri. Tatapannya menyapu hutan di kejauhan.
“Yang datang semalam bukan mencari ternak.”
Semua orang terdiam.
“Lalu mencari apa?” suara seorang lelaki terdengar serak.
Eyang tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke arah Jaka.
Dan untuk pertama kalinya, Jaka merasa seperti jawaban itu… adalah dirinya.
***
Malam sebelumnya, Jaka sulit tidur.
Ia terus memikirkan harimau itu.
Bagaimana ia bisa terpental tanpa ia tahu caranya? Mengapa ia tidak terluka sedikit pun?
Ia mencoba mengulang gerakan tangannya di udara. Tidak terjadi apa-apa.
Ia mencoba memusatkan pikiran, memanggil rasa hangat itu.
Sunyi.
Seperti tidak pernah ada.
Namun saat ia hampir terlelap, ia merasa mimpi itu datang.
Ia berdiri di tengah hutan.
Kabut tebal menyelimuti pepohonan.
Di hadapannya berdiri sosok tinggi, gelap, tidak jelas wajahnya.
“Apa kau takut?” suara itu berat, bergema tanpa arah.
Jaka ingin menjawab, tapi suaranya tak keluar.

“Kau meminjam tenagaku,” suara itu melanjutkan.
“Aku tidak meminjam!” akhirnya Jaka berseru.
Tawa rendah terdengar.
“Kau bernapas… karena aku mengizinkan.”
Jaka terbangun dengan napas terengah.
Keringat membasahi dahinya.
Fajar belum menyingsing.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tidak sendirian.
***
Kabar tentang jejak aneh membuat beberapa warga ingin meminta bantuan padepokan di luar desa.
Namun Eyang menggeleng pelan.
“Belum perlu.”
“Bagaimana kalau itu makhluk kiriman?” tanya seseorang.
Eyang menatap Jaka lagi.
“Kalau memang kiriman… ia akan datang lagi.”
Kalimat itu seperti hukuman yang ditangguhkan.
Siang menjelang sore tanpa kejadian berarti.
Namun menjelang magrib, seekor anjing desa tiba-tiba melolong panjang. Disusul yang lain. Satu per satu.
Angin berubah dingin.
Burung-burung beterbangan rendah, gelisah.
Jaka yang sedang membantu ayahnya memotong kayu berhenti mendadak.
Ia merasakan sesuatu.
Getaran halus.
Bukan di dada.
Di tanah.
Seperti langkah berat… mendekat.
“Bapak…” bisiknya.
Ki Wira menatapnya, wajahnya langsung tegang.
Dari arah hutan, sosok itu muncul.
Tinggi. Lebih tinggi dari lelaki dewasa mana pun.
Tubuhnya besar, dibalut kain hitam compang-camping. Rambutnya panjang terurai, menutupi sebagian wajah.
Namun yang paling membuat bulu kuduk berdiri adalah matanya.
Merah redup.
Bukan menyala terang.
Tapi seperti bara yang hampir padam.
Beberapa warga mundur ketakutan.
“Itu… apa itu?”
Makhluk itu tidak menyerang.
Ia berjalan perlahan, langkahnya berat, membuat tanah bergetar tipis.
Lalu ia berhenti.
Tepat menghadap Jaka.
Sunyi menyelimuti desa.
Jaka merasakan dadanya mulai hangat.
Tidak, kali ini lebih dari hangat.
Seperti ada yang bangkit dan berdiri di dalam dirinya.
Makhluk itu berbicara.
Suaranya dalam, serak, seperti batu digesek batu.
“Akhirnya.”
Satu kata itu membuat udara terasa padat.
Jaka menelan ludah. “Kau siapa?”
Makhluk itu tidak menjawab.
Ia mengangkat tangannya.
Angin tiba-tiba berputar kencang. Debu beterbangan. Beberapa warga terjatuh.
Eyang melangkah maju, tongkatnya menghantam tanah.
“Cukup.”
Suara Eyang tidak keras, tapi menggema jelas.
Makhluk itu memiringkan kepala.
“Penjaga tua…” gumamnya.
Eyang berdiri di depan Jaka.
“Pergilah. Belum waktunya.”
Makhluk itu tertawa pendek. “Waktu tidak pernah bertanya.”
Ia melangkah lagi.
Dadanya Jaka terasa seperti terbakar.
Kali ini bukan rasa asing.
Melainkan dorongan kuat, mendesak.
Biarkan aku.
Suara itu.
Jelas.
Dekat.
Jaka terkejut.
“Tidak…” bisiknya hampir tanpa sadar.
Makhluk itu menatapnya tajam. “Kau mendengarnya.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.

Beberapa warga berteriak, lari menjauh.
Makhluk itu tiba-tiba melompat—gerakannya terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu.
Eyang mengangkat tongkatnya, lingkar cahaya tipis muncul sesaat di depannya.
Benturan terjadi.
Tanah retak.
Jaka terjatuh.
Kepalanya berdenging.
Dalam kekacauan itu, ia melihat makhluk itu dan Eyang saling berhadapan, tapi jelas Eyang bukan tandingan kekuatan kasar itu.
Dadanya terasa seperti akan meledak.
Biarkan aku.
Suara itu lagi.
Kali ini lebih kuat.
“Aku tidak tahu siapa kau!” Jaka berteriak dalam hati.
Aku adalah milikmu.
Panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Penglihatannya memudar di tepi.
Untuk sesaat, ia melihat bayangan lain berdiri bersamanya.
Lebih tinggi.
Lebih besar.
Namun masih samar.
“Jaka!” teriak Ki Wira.
Makhluk itu berbalik ke arahnya, mengabaikan Eyang.
“Bangkit,” katanya pelan.
Seolah memerintah.
Dan sesuatu di dalam Jaka… ingin menurut.
Ia berdiri perlahan.
Tubuhnya terasa ringan, tapi juga berat sekaligus.
Makhluk itu tersenyum tipis melihat perubahan sorot mata Jaka.
Namun sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi, Eyang menghantam tanah sekali lagi dengan tongkatnya.
“Cukup hari ini!”
Suara dentuman keras menggema. Tanah di antara mereka terbelah tipis, memaksa makhluk itu mundur satu langkah.
Langit tiba-tiba menggelap, meski belum malam.
Makhluk itu menatap Jaka lama.
“Kita akan bertemu lagi.”
Lalu tubuhnya seolah larut dalam kabut hitam yang muncul dari tanah.
Angin berhenti.
Sunyi kembali.
Jaka jatuh berlutut.
Panas itu perlahan mereda.
Napasnya berat.
“Apa… itu tadi, Eyang?” suaranya gemetar.
Eyang tidak langsung menjawab.
Ia tampak lebih lelah dari biasanya.
“Itu bukan makhluk biasa,” katanya akhirnya. “Ia adalah penjaga… dari sesuatu yang dulu dikunci.”
“Dikunci oleh siapa?”
Eyang menatap Jaka.
“Oleh leluhurmu.”
Kata-kata itu jatuh berat.
“Aku… tidak mengerti.”
“Kau tidak perlu mengerti semuanya sekarang,” jawab Eyang pelan. “Tapi satu hal harus kau tahu.”
Ia berlutut sejajar dengan Jaka.
“Apa yang ada di dalam dirimu… bukan kebetulan. Dan bukan sepenuhnya musuh.”
Jaka menunduk. Tangannya gemetar.
“Tapi aku hampir… menyerah tadi.”
Eyang mengangguk. “Itu sebabnya kau harus pergi.”
Jaka terangkat wajahnya. “Pergi?”
“Selama kau di sini, desa ini akan terus menjadi sasaran.”
Ki Wira terdiam, wajahnya berat.
“Aku akan membimbingmu,” lanjut Eyang. “Tapi tidak di sini.”
Malam turun lebih cepat hari itu.
Desa tidak lagi berbisik.
Mereka kini tahu.
Apa pun yang bangkit melalui Jaka, bukan lagi sekadar cerita.
Di tepi hutan yang sama, jauh dari pandangan desa, makhluk berjubah hitam itu berdiri kembali.
Namun kini ia tidak sendiri.
Seorang lelaki lain muncul dari balik bayangan pohon.
Wajahnya tertutup sebagian kain.
“Sudah kau pastikan?” tanya lelaki itu.
Makhluk tinggi itu mengangguk pelan.
“Segelnya retak.”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Bagus. Maka permainan lama… bisa dimulai lagi.”
Kabut menelan mereka berdua.
Dan di rumah kecil di tepi desa, Jaka duduk terdiam.
Ia menatap tangannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa takut.
Ia merasa… dipanggil.
BERSAMBUNG