Episode 28
DEK kapal semakin sempit ketika Jaka Gendra dan Raka menyusuri lorong dalam. Lampu minyak berpendar lemah, memantul di dinding kayu yang penuh simbol kuno. Hati mereka berdebar—setiap langkah harus tepat, setiap suara bisa menjadi pertanda bahaya.
“Di sinilah,” bisik Raka sambil menunjuk pintu kayu besar di ujung lorong. Pintu itu tampak lebih kokoh daripada bagian kapal lainnya, seolah menahan sesuatu yang sangat berharga di baliknya.
Jaka menyalurkan energi dari Jurus Nafas Bumi, merasakan getaran halus dari gulungan kuno yang disembunyikan di ruang itu. Suara Gendra muncul di pikirannya:
Ini… tempat yang harus kau jaga. Rahasia yang lebih tua dari perguruan itu sendiri.
Dengan hati-hati, mereka membuka pintu. Di dalam, ruang penyimpanan penuh gulungan dan kotak kayu berukir simbol kuno. Aroma kertas tua dan lilin membakar memenuhi udara. Raka menelan ludah, matanya terpana.
“Terlalu banyak rahasia di sini,” bisiknya. “Kalau ini jatuh ke tangan mereka…”

Jaka menatap gulungan yang paling besar, diposisikan di tengah ruangan di atas tatami kayu. “Ini yang mereka cari… gulungan yang berhubungan dengan Gendra.”
Tiba-tiba, suara langkah muncul dari atas tangga samping ruangan. Bayangan sosok tinggi muncul, wajah tertutup topeng gelap, tapi aura yang keluar terasa kuat—lebih kuat daripada pasukan elite sebelumnya.
Jaka menegakkan tubuh. Suara Gendra muncul jelas:
Inilah mata dalangnya… jangan lengah.
Sosok itu berdiri di atas tangga, matanya mengamati mereka dari kegelapan. “Kau… Jaka Gendra,” suaranya berat. “Aku sudah menunggu saat ini.”
Raka menyiapkan tali, namun Jaka mengangkat tangan, memberi isyarat untuk tetap tenang. “Kita tidak bisa menyerang secara gegabah,” kata Jaka pelan. “Kita harus tahu siapa dia dulu.”
Dalang itu menuruni tangga perlahan, setiap langkahnya memancarkan aura yang menekan. “Perguruan Bayangan Krawang… dan rahasia kuno ini… adalah milikku untuk dijaga. Tapi… kau, Gendra… membawa sesuatu yang tidak bisa kuabaikan.”
Jaka menatap mata lawannya, merasakan energi Gendra berdenyut kuat di dadanya. Suara itu terdengar lebih jelas daripada sebelumnya:
Hati-hati… ini bukan sekadar pertarungan fisik. Ini ujianmu untuk memahami kekuatan dan batasanmu.
Dalang itu berhenti beberapa langkah dari Jaka, tangannya menyingkap sebagian simbol di topengnya. Wajahnya tetap tersembunyi, tapi aura kekuatannya membuat ruangan itu terasa lebih sempit, lebih berat.

Raka menatap Jaka, gemetar sedikit. “Kau… merasakannya juga?”
Jaka mengangguk, napasnya terkontrol. “Ya… ini yang kita hadapi. Dan kita harus siap.”
Di sekeliling mereka, gulungan kuno bergetar lembut, seolah mengenali kehadiran dalang. Ketegangan memenuhi ruangan.
Dalang itu tersenyum samar. “Mari kita lihat… seberapa jauh kau bisa mengendalikan Gendra di dalam dirimu. Itu satu-satunya cara kau bisa bertahan di sini.”
Jaka menegakkan tubuhnya, menyalurkan seluruh energi Gendra, siap menghadapi ujian pertama dari dalang Perguruan Bayangan.
Lampu minyak bergetar, bayangan di ruangan menari liar. Suara ombak di luar menjadi musik latar untuk pertarungan yang akan segera dimulai—bukan sekadar adu tenaga, tapi adu kecerdikan, energi roh, dan strategi silat.
Dan satu hal jelas di benak Jaka: rahasia kuno ini akan menentukan takdirnya, dan juga masa depan Perguruan Bayangan Krawang.
BERSAMBUNG