Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 27: Penyusupan ke Kapal Rahasia

Episode 27

KABUT malam masih tebal, menutupi garis-garis dermaga. Jaka Gendra dan Raka bergerak perlahan ke sisi kapal terbesar yang bersandar di pelabuhan utara. Lampu lentera berpendar samar, memantul di permukaan air yang gelap, menciptakan bayangan menakutkan di dinding kapal.

“Raka, di sini jalurnya,” bisik Jaka sambil menunjuk lorong sempit di sisi kapal. “Tapi aku bisa merasakan ada jebakan di dekat dek.”

Raka mengangguk, matanya menyapu sekitar. “Ya. Ada tali dan papan pengawas yang terpasang. Kita harus melompat dari peti ke dek dengan gerakan tepat.”

Dengan napas terkontrol, Jaka melompat dari tumpukan peti ke dek, menyalurkan tenaga dari Jurus Nafas Bumi untuk menjaga keseimbangan. Raka mengikuti, melompat dengan cekatan.

Begitu kaki mereka menapak dek, suara gesekan muncul—sebuah alarm sederhana berbunyi, meski tidak keras. Dua penjaga yang sedang berpatroli menoleh, wajah mereka tertutup topeng gelap.

Jaka segera menunduk, memanfaatkan bayangan dek. Ia merasakan Gendra di dalam tubuhnya berdenyut, menuntun gerakan mereka. “Kita harus cepat, Raka. Jangan beri mereka waktu untuk bereaksi.”

Raka mengangguk, lalu mengambil tali tipis dari tasnya, melempar ke tiang untuk membuat jebakan kecil, mengalihkan perhatian penjaga. Dua sosok itu terperangkap sementara, memberi waktu Jaka dan Raka masuk lebih dalam ke ruang tengah kapal.

Di dalam, kapal terasa sempit dan penuh simbol-simbol aneh di dinding. Beberapa lampu minyak menerangi ruangan, menyorot gulungan-gulungan dan kotak kayu yang ditumpuk rapi. Jaka menahan napas. Energi gulungan kuno yang mereka bawa terasa beresonansi dengan simbol di kapal ini.

“Tunggu… dengar itu,” bisik Raka. Dari dek atas terdengar suara langkah cepat—lebih banyak penjaga elite turun, wajah mereka tertutup topeng, gerakannya seperti bayangan.

Jaka menegakkan tubuh, energi Gendra mengalir di tangannya. Suara dalam kepala terdengar jelas:

Ini pasukan elit… mereka tidak main-main.

Dengan satu gerakan, Jaka menendang lantai kapal, menciptakan getaran kecil. Debu dan serpihan kayu beterbangan, mengalihkan perhatian pasukan elite itu sesaat.

Raka memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunci pintu samping dengan tali, membatasi akses mereka. “Kita harus bergerak sekarang, Jaka!”

Jaka mengangguk. Ia menyalurkan seluruh kekuatan tubuhnya, menggabungkan gerakan silat dengan energi Gendra. Satu serangan kilat menahan serangan bayangan pertama, tangannya menangkis serangan kedua. Debu beterbangan, cahaya lampu minyak menyorot kilatan gerakan mereka seperti tarian bayangan.

Namun, meski berhasil menahan serangan awal, Jaka tahu: ini hanya awal. Pasukan elite itu bukan sekadar penjaga biasa. Mereka adalah perpanjangan tangan langsung dalang Perguruan Bayangan, dan setiap langkah mereka bisa membawa malapetaka bagi siapa pun yang mencoba menguak rahasia kuno.

Raka menatap Jaka. “Kita harus mencari ruang penyimpanan utama… di sanalah rahasia itu pasti disembunyikan.”

Jaka mengangguk, napasnya masih terkontrol. “Kita masuk lebih dalam… tapi hati-hati. Setiap langkah bisa menjadi jebakan.”

Kabut malam yang menyelimuti pelabuhan seolah ikut menahan napas. Di dalam kapal, bayangan bergerak cepat, lampu lentera berpendar, dan Jaka sadar satu hal pasti: pertemuan pertama dengan pasukan elit hanyalah permulaan dari pertarungan yang jauh lebih berbahaya.

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *