Episode 25
MALAM masih pekat ketika Jaka Gendra dan Raka menyusuri gang-gang sempit di kota pelabuhan. Setiap sudut dipenuhi suara burung malam, kayu berderit, dan aroma asin laut yang menempel di udara.
“Guru… mereka pasti punya markas di kota ini,” kata Raka pelan. “Setiap mata-mata yang kita temui pasti di bawah perintah seseorang.”
Resi Wiradarma hanya mengangguk dari belakang, matanya menelusuri setiap gerakan di sekeliling. “Kota ini tidak sekadar pelabuhan. Banyak orang yang bekerja di sini… tapi tidak semua orang bisa dipercaya.”
Jaka menekan napasnya, merasakan getaran energi Gendra di dalam tubuhnya. Suara di kepalanya muncul jelas:
Jejak mereka mengarah ke utara dermaga… ke gudang yang tak pernah tampak di peta resmi.
Mereka bergerak pelan, menyusuri jalan berbatu, melewati pedagang yang sudah menutup kios, dan anak-anak jalanan yang bersembunyi di bayangan. Semua terasa waspada, seperti kota itu sendiri menahan napas.
Di sebuah sudut gelap, Raka berhenti. “Di sini… aku merasakan sesuatu. Jejak mata-mata terakhir kita berakhir di sini. Tapi ini tidak biasa. Seolah ada perlindungan di sekitar tempat ini.”

Jaka menatap gedung tua yang berdiri terpencil, sebagian dindingnya retak, sebagian lagi diselimuti lumut. Pintu kayu berat, tapi tidak terkunci.
Dengan hati-hati, mereka masuk. Di dalam, cahaya lampu lentera berpendar di dinding yang dipenuhi simbol-simbol aneh, sebagian mirip dengan yang ada di gulungan kuno.
Tiba-tiba, suara langkah datang dari atas tangga. Dua sosok berseragam gelap menuruni tangga dengan gerakan terlatih, wajah mereka tertutup topeng.
Jaka segera memasang kuda-kuda. “Siap, Raka.”
Pertarungan tidak bisa dihindari. Serangan pertama datang cepat, bertubi-tubi, memaksa Jaka dan Raka bergerak bersamaan. Jaka menyalurkan tenaga dari Jurus Nafas Bumi, menahan serangan lawan, sementara Raka menahan dengan tali dan pukulan cepat.
Benturan terdengar keras di ruangan sempit itu. Lampu lentera bergetar, simbol di dinding tampak bergetar seiring energi yang dilepaskan Jaka.
Setelah beberapa menit adu tenaga, kedua mata-mata itu mundur ke arah tangga. Salah satunya berteriak, suara terdistorsi oleh topengnya: “Lapor! Dia… Gendra… lebih kuat dari perkiraan!”
Jaka menatap tangga, napasnya berat tapi stabil. “Mereka mengakuinya… tapi itu berarti dalangnya lebih kuat,” katanya pelan.
Raka mengangguk. “Kita harus segera menemukan pemimpin mereka. Jika tidak… kota ini akan menjadi perangkap.”

Resi Wiradarma menatap keduanya. “Benar. Tapi ingat, kekuatan bukan satu-satunya yang akan menentukan. Kita harus menelusuri petunjuk, membaca gerakan lawan, dan… menjaga rahasia kuno itu tetap aman.”
Di luar gudang, angin malam berhembus kencang, mengibarkan kain-lentera yang tergantung di dermaga. Bayangan bergerak cepat di balik bangunan—mata-mata yang tersisa mengintai.
Jaka menatap ke arah laut yang gelap, mendengar suara Gendra di pikirannya:
Perjalananmu menuju dalang… baru saja dimulai. Kota ini penuh tipu daya, dan tidak semua sekutu yang kau temui bisa dipercaya.
Raka menepuk bahunya. “Kita tidak punya banyak waktu. Kita mulai dari utara pelabuhan—tempat kapal-kapal yang dikendalikan perguruan itu bersandar.”
Jaka mengangguk. Dalam hati ia tahu, rahasia kuno dan dalang Perguruan Bayangan akan segera menghadirkan konflik yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Dan satu hal pasti: pertarungan berikutnya bukan sekadar adu tenaga, tapi pertarungan strategi dan pengkhianatan di kota pelabuhan.
BERSAMBUNG