Episode 24
MALAM menebar bayangannya di sepanjang dermaga. Lampu lentera menggantung rendah, memantul di permukaan laut yang tenang. Jaka Gendra berdiri di samping Raka, matanya tajam menelusuri setiap gerakan di sekeliling gudang tua. Gulungan kuno yang baru saja mereka temukan kini berada di tangan mereka—sebuah rahasia yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan.
“Guru…,” kata Jaka, menatap Resi Wiradarma yang tetap tenang di belakang mereka. “Mereka pasti sudah dekat.”
Resi mengangguk. “Ya. Aku bisa merasakannya. Perguruan Bayangan tidak akan membiarkan gulungan ini berada di tangan orang lain.”
Suasana menjadi tegang. Angin malam membawa aroma asin laut, bercampur suara kayu dermaga yang berderit. Tiba-tiba, dari balik tumpukan peti, muncul bayangan gelap—lincah, cepat, nyaris tak terdengar.
“Siap?” bisik Raka.
Jaka mengangguk, menyiapkan kuda-kuda. Getaran di tubuhnya sudah mulai terasa, energi Gendra perlahan meresap ke tangan dan kakinya. Suara di dalam dirinya muncul, jelas dan tegas.
Ini waktumu…

Dua sosok melompat dari kegelapan, menyerang dari sisi yang berbeda. Langkah mereka senyap tapi serangannya tajam, mengarah ke titik vital.
Jaka mengayunkan tangannya ke tanah, menyalurkan tenaga dari Jurus Nafas Bumi.
Duk! Benturan pertama menahan serangan lawan, debu kecil beterbangan.
Serangan kedua datang lebih cepat. Jaka memutar tubuhnya, menghindar, lalu melompat menangkis serangan dengan siku dan kaki. Bayangan lawan berlari seperti angin, namun Jaka menyesuaikan ritme.
Raka menatapnya kagum. “Dia… benar-benar berbeda dari yang kukira.”
Sosok ketiga muncul dari atas tumpukan peti, mencoba memanfaatkan kegelapan untuk menyerang dari belakang. Jaka menoleh, merasakan energi yang familiar. Suara Gendra muncul lagi:
Fokus… jangan biarkan kemarahan menguasaimu.
Dengan satu gerakan cepat, Jaka menendang lantai dermaga, mengirim getaran kecil yang membuat ketiga penyerang kehilangan keseimbangan sejenak.
Resi Wiradarma yang berdiri di samping, tetap tenang. “Jaga jarak mereka… tapi jangan serang terlalu cepat. Kita butuh informasi.”
Pertarungan berlanjut, namun kali ini bukan sekadar adu tenaga. Jaka menggunakan kombinasi silat dan kecerdikan, mengarahkan lawan ke posisi yang menguntungkan. Setiap serangan dibalas dengan gerakan yang membuat musuh kebingungan.
Salah satu penyerang tersandung, jatuh, dan Raka segera menahannya dengan tali yang sudah ia persiapkan. Sosok itu terjerat dan tak bisa bergerak.

Yang lain menatap sekeliling, ragu. Jaka memanfaatkan kesempatan itu, matanya menatap lawan. “Siapa yang mengirim kalian?”
Tidak ada jawaban. Mereka hanya saling bertukar pandang, sadar bahwa pertarungan ini bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.
Resi Wiradarma melangkah maju, tangannya menepuk pundak Jaka. “Ingat… mereka hanya mata-mata. Perguruan itu lebih besar dari yang kita kira.”
Jaka menarik napas, menenangkan diri. Suara Gendra muncul lembut di pikirannya:
Perjalananmu baru dimulai… dan kota ini hanya permulaan.
Lampu lentera di dermaga bergetar seiring angin malam. Bayangan lawan menghilang ke kegelapan, meninggalkan ketegangan yang belum usai. Jaka tahu, pertarungan berikutnya akan lebih rumit—dan rahasia kuno yang mereka lindungi baru saja mulai menarik perhatian lawan yang jauh lebih berbahaya.
BERSAMBUNG