Episode 23
KABUT pagi di hutan pegunungan Krawang telah hilang, digantikan oleh udara asin dari laut ketika Jaka Gendra dan Resi Wiradarma menuruni lereng terakhir sebelum menuju kota pelabuhan. Tujuan mereka jelas: mencari tempat yang disebut sang resi sebagai lokasi rahasia kuno, tempat kekuatan seperti Gendra pernah disegel.
“Guru,” kata Jaka sambil menatap jauh ke cakrawala, “apakah kota ini aman?”
Resi Wiradarma menoleh sebentar. “Kita tidak akan pernah benar-benar aman dari mereka. Tapi di sini, kita bisa menemukan petunjuk yang tidak ada di gunung.”
Jaka menunduk, menyadari bahwa setiap langkah mereka kini diperhatikan. Perguruan Bayangan Krawang mungkin tidak hanya mengawasi dari hutan. Informasi mereka bisa sampai ke kota, bahkan melalui jaringan tersembunyi di pelabuhan ini.
Di dermaga, suara kapal bersandar dan pedagang berteriak menambah riuh. Jaka merasakan keanehan—ada aura gelap yang menyelimuti sebagian gang-gang sempit. Mata orang-orang seolah menatap tanpa menatap, bayangan yang bergerak cepat di tepi pandangannya.
Tiba-tiba, dari balik tumpukan peti, muncul seorang pemuda berambut hitam panjang, menatap tajam ke arah mereka. “Kau Jaka Gendra, bukan?” Suaranya cepat tapi tidak terdengar gugup.
Jaka menatapnya. “Siapa kau?”
“Nama saya Raka,” jawab pemuda itu. “Aku tahu apa yang kalian cari, dan aku bisa membantu… tapi ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang kota ini.”
Resi Wiradarma mengamati Raka dengan seksama. “Kau punya informasi tentang perguruan itu?”
Raka mengangguk. “Mereka memiliki kaki di setiap sudut pelabuhan ini. Mereka mencari Gendra, tapi… mereka juga mencari benda yang tersegel di kota ini, peninggalan kuno yang berkaitan dengan roh seperti yang ada di tubuhmu.”
Jaka menahan napas. Suara Gendra muncul di dalam dirinya, pelan namun jelas.
Ini benar… mereka bergerak lebih dekat.
Raka mengajak mereka menyusuri gang sempit menuju gudang tua. Setiap langkah dipenuhi ketegangan. Pedagang dan buruh pelabuhan menatap mereka dengan penasaran, seolah merasakan aura berbeda dari kedua tamu asing itu.
Di gudang tua, Raka membuka peti kayu dan menunjuk pada gulungan perkamen tua. “Ini salah satu petunjuk tentang segel kuno yang disebut gurumu. Banyak orang mengira ini legenda… tapi sekarang perguruan itu tahu benar adanya.”
Jaka mendekat, membaca simbol-simbol yang samar. Napasnya tertahan. Ia merasakan getaran kuat dari gulungan itu, seperti energi yang tersimpan selama berabad-abad.
“Jika mereka tahu ini, mereka akan datang ke pelabuhan… lebih cepat daripada yang kalian bayangkan,” kata Raka dengan serius.
Resi Wiradarma menunduk, kemudian menatap Jaka. “Kita harus berhati-hati. Pelabuhan ini bisa menjadi perangkap… atau jalan menuju rahasia yang kau cari.”
Di luar gudang, suara langkah cepat terdengar di atas papan dermaga. Bayangan bergerak di antara tumpukan peti. Jaka tahu—ini bukan orang biasa. Perguruan Bayangan Krawang sudah mulai menempatkan mata-mata mereka di kota pelabuhan.
Jaka menatap Resi Wiradarma. “Kita hadapi mereka di sini?”
Sang resi tersenyum tipis. “Tidak. Kita tunggu… dan kita lihat siapa yang berani membuat langkah pertama.”
Malam menjelang. Lampu lentera menyala di sepanjang jalan berbatu, membentuk bayangan panjang yang menari-nari di tembok gedung. Jaka menyiapkan diri, tahu bahwa pertarungan berikutnya bukan sekadar adu tenaga, tapi adu strategi, intrik, dan silat.
Dan satu hal jelas: rahasia kuno itu… mungkin akan mengubah segalanya.
BERSAMBUNG