Episod e 21
PAGI baru saja menyentuh lereng pegunungan Krawang ketika Jaka Gendra dan Resi Wiradarma melanjutkan perjalanan mereka. Udara terasa lebih dingin dibanding hari-hari sebelumnya, dan angin yang turun dari puncak gunung membawa aroma tanah basah serta daun-daun tua.
Jaka berjalan dengan langkah lebih hati-hati.
Sejak pertemuan dengan tiga orang dari Perguruan Bayangan Krawang, ia merasa seolah hutan ini tidak lagi sunyi seperti dulu. Ada sesuatu yang mengawasi.
Sesuatu yang menunggu.
Resi Wiradarma berjalan di depan tanpa banyak bicara. Namun dari sikapnya, Jaka tahu gurunya juga merasakan hal yang sama.
“Guru,” kata Jaka akhirnya.
Resi Wiradarma tidak menoleh.
“Mereka masih mengikuti kita, bukan?”
Sang resi mengangguk pelan.
“Mungkin.”
Jawaban itu singkat, tetapi cukup membuat Jaka semakin waspada.
***
Mereka menyusuri jalan setapak yang menurun menuju sebuah lembah kecil. Di sana tumbuh pohon-pohon besar yang akarnya menjalar keluar dari tanah seperti ular raksasa.
Langkah Resi Wiradarma tiba-tiba berhenti.
Jaka ikut berhenti.
“Ada apa, Guru?”
Resi Wiradarma menunjuk ke tanah.
Di atas tanah lembab itu terlihat bekas jejak kaki.
Bukan jejak hewan.
Jejak manusia.
Jaka berjongkok dan memperhatikannya dengan seksama.
“Baru,” katanya pelan.
Resi Wiradarma mengangguk.
“Tidak lebih dari satu malam.”
Jaka memandang sekeliling hutan.
Sunyi.
Namun keheningan itu justru terasa aneh.
Seolah ada banyak mata yang bersembunyi di balik pepohonan.
***
Mereka melanjutkan perjalanan lebih dalam ke lembah.
Langit mulai tertutup oleh dahan-dahan besar sehingga cahaya matahari hanya masuk sebagai garis-garis tipis.
Tiba-tiba angin berembus lebih kuat.
Daun-daun kering berjatuhan dari atas.
Di saat itulah Jaka merasakan sesuatu.
Getaran halus.
Bukan dari tanah.
Melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Suara Gendra muncul.
Hati-hati.
Jaka menegang sedikit.
“Kenapa?” tanya Jaka dalam hati.
Ada yang menunggu.
Jaka langsung mengangkat kepalanya.
Matanya menelusuri hutan di sekeliling mereka.
***

Resi Wiradarma tampaknya juga merasakan perubahan itu.
Ia berhenti berjalan dan berkata pelan,
“Keluarlah.”
Hutan tetap diam.
Tidak ada jawaban.
Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara ranting patah dari balik pepohonan.
Satu bayangan muncul.
Lalu satu lagi.
Kemudian satu lagi.
Tiga orang bertopeng berdiri di antara batang-batang pohon.
Jaka mengenali mereka.
Mereka adalah tiga orang yang pernah menyerangnya di dataran batu beberapa hari lalu.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
“Kami hanya ingin memastikan sesuatu.”
Resi Wiradarma memandang mereka tanpa rasa takut.
“Apa lagi yang ingin kalian pastikan?”
Orang bertopeng itu menunjuk ke arah Jaka.
“Bahwa dia memang membawa Gendra.”
***
Jaka merasakan darahnya menghangat.
Tangannya perlahan mengepal.
Namun Resi Wiradarma mengangkat tangannya sedikit.
Tanda agar Jaka tidak gegabah.
“Bukankah kalian sudah melihatnya?” kata sang resi tenang.
Pria bertopeng itu tertawa kecil.
“Melihat saja tidak cukup.”
“Lalu?”
“Kami ingin melihat seberapa jauh dia bisa mengendalikannya.”
***
Tiga orang itu bergerak hampir bersamaan.
Cepat.
Langkah mereka menyebar mengelilingi Jaka.
Gerakan mereka ringan seperti bayangan.
Jaka langsung memasang kuda-kuda.
Napasnya perlahan menurun.
Ia memusatkan tenaga ke tanah.
Jurus Nafas Bumi.
Tanah di bawah kakinya terasa kokoh.
Seperti memberi kekuatan.
Salah satu penyerang melompat maju.
Serangannya cepat.
Jaka menghindar dan memutar tubuhnya.
Tangannya bergerak menangkis dengan tenaga dari bawah.
Duk!
Benturan keras terdengar ketika serangan itu tertahan.
Penyerang itu mundur satu langkah.
Namun dua orang lainnya langsung menyerang dari sisi berbeda.
Jaka memutar tubuhnya.
Tangannya menghantam tanah dengan tenaga Nafas Bumi.
BRAK!
Debu tanah terangkat.
Getaran kecil merambat di permukaan tanah.
Ketiga penyerang itu langsung melompat mundur.
Mereka saling bertukar pandang.
***
Orang yang tadi memimpin mereka berkata pelan,
“Benar.”
Ia menatap Jaka dengan lebih serius.
“Gendra memang ada di dalam tubuhnya.”
Jaka merasakan sesuatu berdenyut di dadanya.
Suara Gendra terdengar lagi.
Kau mulai memahami.
Namun Jaka menahannya.
Ia tidak ingin kehilangan kendali.
***
Orang bertopeng itu lalu melangkah mundur.
“Kami sudah mendapatkan jawaban.”
Resi Wiradarma menatap tajam.
“Jawaban untuk apa?”
Pria itu tersenyum di balik topengnya.
“Untuk memberitahu guru kami.”
Jaka mengerutkan dahi.
“Guru kalian?”
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ketiga orang itu sudah melompat mundur ke dalam bayangan pepohonan.
Dalam beberapa detik saja mereka menghilang dari pandangan.
Hutan kembali sunyi.
***

Jaka masih berdiri dengan napas berat.
“Guru…”
Resi Wiradarma memandang ke arah hutan tempat mereka menghilang.
“Mereka tidak datang untuk menang.”
“Lalu untuk apa?”
Sang resi menjawab pelan.
“Untuk memastikan.”
“Memastikan apa?”
Resi Wiradarma menatap Jaka dalam-dalam.
“Bahwa kau memang orang yang mereka cari.”
Angin kembali berembus di lereng gunung Krawang.
Namun kali ini Jaka tahu satu hal pasti.
Perguruan Bayangan Krawang…
tidak akan berhenti memburunya.
BERSAMBUNG