Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 20: Jejak Perguruan Bayangan

 

EPISODE 20

 

LANGIT malam masih gelap ketika Jaka Gendra membuka matanya.

Api kecil yang mereka nyalakan di dataran batu sudah hampir padam. Bara merahnya hanya menyala samar di antara abu.

Angin gunung berembus dingin melewati celah-celah pepohonan.

Beberapa saat Jaka hanya duduk diam.

Pikirannya masih teringat peristiwa tadi malam.

Tiga orang dari Perguruan Bayangan Krawang.

Cara mereka bertarung.

Cara mereka memandangnya.

Dan kata-kata terakhir yang mereka tinggalkan.

“Suatu saat kau harus memilih… menjadi manusia… atau menjadi Gendra sepenuhnya.

Jaka mengepalkan tangannya.

Di dalam dadanya terasa sesuatu bergerak pelan.

Namun ia menahannya.

Tidak sekarang.

Di seberangnya, Resi Wiradarma masih duduk bersila seperti batu tua yang tidak pernah berubah.

Sang resi membuka mata.

“Kau tidak tidur lagi?”

Jaka menggeleng.

“Mereka tidak datang untuk membunuhku.”

Resi Wiradarma menatapnya tenang.

“Benar.”

“Mereka hanya ingin memastikan sesuatu.”

Sang resi mengangguk pelan.

“Bahwa Gendra benar-benar ada di dalam dirimu.”

***

 

Langit di timur mulai memucat.

Cahaya pertama fajar perlahan muncul di balik gunung.

Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan.

Resi Wiradarma berdiri.

“Kita harus bergerak sebelum matahari terlalu tinggi.”

Jaka ikut berdiri.

“Kita akan pergi ke mana, Guru?”

Resi Wiradarma menatap ke arah utara.

“Ada sesuatu yang harus kau ketahui.”

Mereka mulai berjalan menuruni lereng batu.

Tanah masih lembab oleh embun malam.

Suara langkah mereka bercampur dengan gemericik air sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari sana.

Setelah berjalan beberapa saat, Resi Wiradarma akhirnya berkata,

“Perguruan Bayangan Krawang bukan perguruan biasa.”

Jaka langsung menoleh.

“Apa maksud Guru?”

Sang resi tidak berhenti berjalan.

“Banyak perguruan berdiri untuk menjaga keseimbangan.”

“Ada juga yang berdiri untuk mengejar kekuatan.”

Langkahnya melambat.

“Namun perguruan itu berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Resi Wiradarma berhenti di tepi sungai kecil.

Airnya jernih, mengalir di antara batu-batu besar.

Sang resi memandang permukaan air sejenak sebelum berkata,

“Perguruan Bayangan Krawang berdiri dari pencarian terhadap kekuatan roh.”

Jaka mengerutkan dahi.

“Roh?”

“Roh leluhur… roh penjaga… bahkan roh yang telah lama dilupakan manusia.”

Jaka langsung teringat sesuatu.

“Seperti Gendra?”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Ya.”

***

 

Angin pagi berembus pelan.

Daun-daun bergoyang lembut di atas kepala mereka.

“Namun ada satu hal yang membuat perguruan itu berbahaya,” lanjut Resi Wiradarma.

“Apa?”

“Mereka tidak hanya ingin memahami roh.”

Jaka menatap gurunya.

“Mereka ingin menguasainya.”

Jaka terdiam.

“Apakah itu mungkin?”

Resi Wiradarma menatapnya dalam.

“Banyak yang mencoba.”

“Dan?”

“Tidak ada yang berhasil tanpa membayar harga besar.”

Jaka memandang tangannya sendiri.

Ia merasakan denyut halus di dalam tubuhnya.

Suara Gendra terdengar lagi.

Manusia selalu ingin menguasai sesuatu yang lebih tua dari mereka.

Jaka menghela napas pelan.

***

 

Resi Wiradarma melanjutkan,

“Beberapa puluh tahun terakhir, Perguruan Bayangan Krawang mulai mencari sesuatu yang mereka sebut warisan roh besar.”

“Warisan roh besar?”

“Roh yang tidak hanya memberi kekuatan… tetapi juga membuka jalan ke kekuatan yang lebih tua.”

Jaka langsung memahami arah pembicaraan itu.

“Mereka mencari Gendra.”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Dan sekarang mereka tahu di mana menemukannya.”

Jaka memandang ke arah hutan.

Pohon-pohon tinggi berdiri seperti bayangan raksasa.

“Tapi mereka tidak langsung menyerang.”

“Karena mereka masih ragu.”

“Ragu?”

“Apakah kau benar-benar mampu menahan Gendra… atau justru akan dikuasai olehnya.”

***

 

Jaka teringat kembali pertempuran semalam.

Gerakan mereka.

Serangan mereka.

Memang terasa seperti ujian, bukan pertarungan sungguhan.

“Mereka mengujiku.”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Dan mereka belum puas.”

Beberapa saat mereka terdiam.

Air sungai terus mengalir pelan.

Akhirnya Jaka bertanya,

“Guru… apakah mereka pernah menemukan orang lain seperti aku?”

Resi Wiradarma menjawab tanpa ragu.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Sang resi memandang jauh ke arah hutan yang semakin terang oleh cahaya pagi.

“Karena roh seperti Gendra tidak memilih sembarang tubuh.”

Jaka menelan napas.

“Lalu kenapa ia memilihku?”

Resi Wiradarma tidak langsung menjawab.

Ia justru berkata pelan,

“Itulah yang harus kita cari tahu.”

***

 

Tiba-tiba angin bertiup lebih kuat.

Daun-daun kering beterbangan melintasi sungai.

Jaka merasakan getaran aneh di dalam dadanya lagi.

Suara Gendra muncul lebih jelas kali ini.

Anak muda.

Jaka menegang sedikit.

Perguruan itu… tidak akan berhenti.

“Aku tahu,” jawab Jaka di dalam pikirannya.

Karena mereka telah menemukan jejakku.

Jaka memejamkan mata sesaat.

“Jejakmu?”

Namun suara itu kembali menghilang.

***

 

Resi Wiradarma memperhatikan wajah Jaka.

“Kau mendengar sesuatu lagi.”

Jaka mengangguk.

“Dia bilang mereka menemukan jejaknya.”

Sang resi terdiam beberapa detik.

Kemudian ia berkata,

“Kalau begitu… waktu kita tidak banyak.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

Resi Wiradarma menatap langsung ke mata Jaka.

“Kita harus mendahului mereka.”

“Mendahului?”

Sang resi menunjuk ke arah pegunungan di utara.

“Di sana ada tempat yang telah lama ditinggalkan.”

“Tempat apa?”

“Tempat di mana kekuatan seperti Gendra pernah disegel.”

Jaka merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar kuat.

Seolah tubuhnya sendiri mengenali arah itu.

Suara Gendra muncul sekali lagi.

Pelan.

Namun jelas.

Ya…

Di sanalah semuanya bermula.

Jaka membuka matanya.

Tatapannya kini jauh lebih tajam.

“Kalau begitu,” katanya pelan.

“Kita harus sampai di sana sebelum mereka.”

Resi Wiradarma mengangguk.

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua kembali berjalan menyusuri hutan pegunungan Krawang.

Namun jauh di balik pepohonan yang lebat…

Sepasang mata mengawasi mereka dari kejauhan.

Siluet bertopeng itu berdiri diam di antara bayangan.

Ia kemudian berbalik.

Dan menghilang ke dalam hutan.

Perguruan Bayangan Krawang…

ternyata sudah mulai bergerak.

***

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *