EPISODE 18
RAKSA Wening berdiri tenang di tengah dataran batu di depan Gerbang Batu Tua.
Angin pegunungan bertiup pelan, menggerakkan ujung jubah hitamnya.
Di sekelilingnya, para anggota Perguruan Bayangan Krawang yang tersisa tidak lagi menyerang. Mereka justru mundur beberapa langkah, memberi ruang bagi pemimpin mereka.
Semua perhatian kini tertuju pada dua orang.
Jaka Gendra
dan
Raksa Wening.
Jaka menurunkan pusat tubuhnya sedikit lagi.
Kuda-kuda Nafas Bumi tetap kokoh.
Telapak kakinya menekan tanah berbatu yang dingin.
Tarik napas.
Tahan.
Lepaskan perlahan.
Getaran tanah terasa jelas.
Namun kali ini bukan hanya langkah-langkah manusia yang ia rasakan.
Tanah di sekitar Gerbang Batu Tua seperti menyimpan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih tua.
Lebih dalam.
Resi Wiradarma yang berdiri di belakang memperhatikan muridnya dengan saksama.
Beliau tahu Jaka sedang mencoba menenangkan energi yang mulai bergerak di dalam tubuhnya.
Raksa Wening mengangkat pedangnya perlahan.
Pedang hitam itu tampak tidak memantulkan cahaya.
Seperti menelan cahaya bulan yang jatuh di atasnya.
“Jadi kau wadah roh itu,” katanya dingin.
Jaka tidak menjawab.
Tatapannya tidak lepas dari gerakan lawan.
Raksa Wening melangkah maju satu langkah.
Tekanan dari tubuhnya langsung terasa di udara.
Sekar Laras yang berdiri beberapa langkah di samping Resi Wiradarma berbisik pelan,
“Tenaga orang itu berat sekali.”
Resi Wiradarma mengangguk.
“Dia bukan sekadar pemburu.”
Raksa Wening kembali berbicara.
“Sudah lama aku ingin melihat seperti apa rupa orang yang dipilih oleh roh Gendra.”
Ia mengangkat pedangnya setinggi bahu.
“Sekarang… aku akan memastikan apakah kau benar-benar pantas menyandang kekuatan itu.”
Tanpa peringatan, tubuhnya melesat maju.

Gerakannya cepat.
Lebih cepat dari semua anggota Bayangan Krawang yang sebelumnya menyerang.
Pedangnya menebas lurus ke arah bahu Jaka.
Namun Jaka sudah merasakan getaran langkah itu lebih dulu.
Ia memutar tubuh setengah langkah.
Pedang itu meleset hanya beberapa jari dari bahunya.
Raksa Wening langsung memutar pergelangan tangan.
Tebasan kedua datang dari bawah.
Jaka menangkis dengan lengan kirinya.
Benturan keras terdengar.
Jaka mundur setengah langkah.
Matanya menyipit.
Tenaga lawan jauh lebih berat dari yang ia kira.
Raksa Wening tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ia kembali menyerang.
Tebasan kali ini datang bertubi-tubi.
Kanan.
Kiri.
Atas.
Bawah.
Gerakan pedangnya cepat dan rapi seperti aliran air yang tidak pernah berhenti.
Jaka bertahan dengan kuda-kuda Nafas Bumi.
Setiap langkahnya menekan tanah dengan kuat.
Ia tidak melompat.
Ia tidak mundur jauh.
Ia hanya menggeser tubuh, menangkis, dan mengalihkan tenaga lawan.
Namun tekanan Raksa Wening semakin kuat.
Satu tebasan keras menghantam pertahanan Jaka.
DUK!
Tubuh Jaka terdorong mundur dua langkah.
Debu kecil terangkat dari tanah.
Sekar Laras menggertakkan gigi.
“Dia menekan Jaka.”
Resi Wiradarma tetap tenang.
“Jaka masih membaca ritme serangannya.”
Di tengah medan, Raksa Wening menghentikan serangannya sejenak.
“Kenapa hanya bertahan?”
“Apakah hanya itu yang kau pelajari dari gurumu?”
Jaka menarik napas dalam.
Nafas Bumi kembali mengalir melalui tubuhnya.
Namun kali ini ia melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia menekan kedua kakinya lebih kuat ke tanah.
Seperti menancapkan tubuhnya ke bumi.
Raksa Wening memperhatikan dengan penuh minat.
“Hmm.”
Jaka melangkah maju satu langkah.
Gerakan sederhana.
Namun berat.
Seolah tanah sendiri ikut bergerak bersama langkah itu.
Raksa Wening menyeringai.
“Akhirnya kau menyerang.”
Jaka tidak menggunakan senjata.
Ia hanya mengangkat telapak tangannya.
Raksa Wening menebas.
Namun kali ini Jaka tidak menghindar.
Ia memutar tubuhnya dan menepis pergelangan tangan lawan.
Tenaga dari kuda-kuda yang kokoh membuat tepisan itu kuat.
Pedang Raksa Wening sedikit melenceng.
Pada saat yang sama—
Jaka menghentakkan telapak tangannya ke arah dada lawan.
Tenaga yang mengalir dari Nafas Bumi keluar bersama dorongan itu.
BRAK!
Raksa Wening terdorong mundur satu langkah.
Tidak jauh.
Namun cukup membuat semua orang di sekeliling terdiam.
Sekar Laras berseru,
“Dia berhasil mengenai!”
Raksa Wening menatap dadanya sebentar.
Lalu ia tertawa pelan.
“Bagus sekali.”
Ia mengangkat kepalanya.
“Tapi itu belum cukup.”
Dalam sekejap tubuhnya kembali melesat maju.
Serangan kali ini jauh lebih cepat.
Pedangnya bergerak seperti kilat.
Jaka hampir tidak sempat menghindar.
Tebasan itu mengenai bahunya.
Robekan kecil muncul di pakaiannya.
Jaka mundur beberapa langkah.
Namun ia tidak jatuh.
Ia kembali menekan telapak kakinya ke tanah.
Nafas Bumi menjaga keseimbangannya.
Raksa Wening memutar pedangnya.
“Sekarang aku yakin.”

Ia menatap Jaka dengan mata tajam.
“Roh itu memang ada di dalam dirimu.”
Di belakang mereka, Gerbang Batu Tua tiba-tiba bergetar pelan.
Semua orang menoleh.
Ukiran di permukaan batu itu tampak memancarkan cahaya redup.
Jaka merasakan sesuatu di dalam tubuhnya bereaksi.
Energi Gendra berdenyut lebih kuat.
Resi Wiradarma langsung berkata tegas,
“Jaka, kendalikan dirimu!”
Raksa Wening justru tersenyum lebar.
“Jadi gerbang itu benar-benar meresponsnya.”
Ia mengangkat pedangnya lagi.
“Bagus.”
“Kita lanjutkan.”
Angin gunung tiba-tiba bertiup lebih kencang.
Debu dan daun kering berputar di sekitar mereka.
Dan di tengah dataran batu itu—
Pertarungan antara Jaka Gendra dan Raksa Wening baru saja memasuki tahap yang jauh lebih berbahaya.
Karena kini bukan hanya kekuatan manusia yang terlibat.
Tetapi juga roh Gendra yang mulai bangkit dari dalam diri Jaka.
***
BERSAMBUNG