Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 15: Jejak yang Mengarah ke Akar Perang

 

EPISODE 15

 

ANGIN malam berembus pelan di sela pepohonan tua yang menjulang tinggi. Dedaunan bergerak pelan, menciptakan suara gemerisik yang seolah menjadi bisikan alam yang tak pernah berhenti. Di bawah cahaya bulan yang pucat, tiga sosok berjalan menyusuri jalur sempit di lereng hutan.

Mereka adalah Jaka Gendra, Resi Wiradarma, dan Ki Tunggul Wasesa.

Perjalanan mereka telah berlangsung berhari-hari sejak pertemuan dengan orang-orang dari Perguruan Bayangan Krawang di lembah sebelumnya.

Jaka Gendra kini berjalan lebih tenang dibanding beberapa waktu lalu. Tubuhnya tampak lebih ringan, napasnya lebih teratur. Latihan Jurus Nafas Bumi yang dimatangkan selama beberapa hari terakhir mulai memberi perubahan nyata.

Langkahnya mantap.

Namun di balik ketenangan itu, sesuatu di dalam dirinya tetap terasa bergerak.

Gendra.

Bukan lagi sesuatu yang asing.

Bukan pula sesuatu yang sepenuhnya ia pahami.

Kadang energi itu muncul seperti arus hangat yang mengalir melalui tulang-tulangnya. Kadang muncul sebagai tekanan kuat di dada, seperti kekuatan yang menunggu untuk dilepaskan.

Resi Wiradarma yang berjalan di depan sesekali menoleh.

Ia bisa merasakan perubahan itu.

“Langkahmu sudah berbeda,” kata sang resi tanpa menoleh.

Jaka Gendra mengangkat kepala sedikit.

“Maksud Guru?”

“Tubuhmu mulai menyatu dengan napas bumi.”

Ki Tunggul Wasesa tertawa pendek.

“Itu artinya bocah ini tidak sia-sia latihan.”

Jaka Gendra hanya tersenyum kecil.

Namun Resi Wiradarma belum selesai.

“Tapi perjalanan kita baru saja memasuki bagian yang sebenarnya.”

Ucapan itu membuat langkah Jaka Gendra sedikit melambat.

“Maksud Guru…?”

Resi Wiradarma berhenti.

Ia menatap ke arah lembah gelap yang terlihat di kejauhan.

“Kemunculan Perguruan Bayangan Krawang bukan peristiwa kebetulan.”

Ki Tunggul Wasesa menyilangkan tangan di dada.

“Mereka biasanya tidak bergerak keluar wilayahnya.”

Jaka Gendra mengingat kembali pertemuan beberapa hari lalu.

Tiga orang misterius.

Gerakan mereka cepat.

Serangan mereka terukur.

Bahkan saat mundur pun mereka melakukannya dengan rapi, seolah sudah memiliki tujuan yang jelas.

“Kalau mereka tidak bergerak sembarangan,” kata Jaka Gendra, “berarti mereka sedang menjalankan sesuatu.”

Resi Wiradarma mengangguk pelan.

“Benar.”

“Pertanyaannya,” lanjut Ki Tunggul Wasesa, “untuk siapa.”

Keheningan kembali turun.

Angin malam terasa lebih dingin.

Resi Wiradarma kemudian berjalan menuju batu besar di pinggir jalur. Ia duduk perlahan, seperti seseorang yang sedang menyusun ingatan lama.

“Beberapa puluh tahun lalu,” katanya perlahan, “dunia persilatan pernah berada di ambang perang besar.”

Jaka Gendra dan Ki Tunggul Wasesa menatapnya.

“Perang antara perguruan-perguruan besar?”

Resi Wiradarma menggeleng.

“Bukan.”

“Perang melawan sesuatu yang lebih gelap.”

Jaka Gendra merasakan hawa di sekitarnya berubah.

“Sesungguhnya,” lanjut sang resi, “Perguruan Bayangan Krawang hanyalah salah satu cabang dari jaringan yang jauh lebih luas.”

Ki Tunggul Wasesa mendesah pelan.

“Aku sudah lama mencurigainya.”

Resi Wiradarma menatap lurus ke depan.

“Ada kekuatan yang selama ini bergerak dalam bayangan.”

“Dan mereka mengumpulkan orang-orang dari berbagai perguruan yang menyimpang.”

Jaka Gendra menelan ludah.

“Untuk apa?”

Resi Wiradarma menatapnya.

“Untuk sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami.”

Angin kembali berembus.

Namun kali ini Jaka Gendra merasakan sesuatu yang lain.

Insting.

Ia menoleh ke arah pepohonan di sebelah kanan jalur.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Ia memejamkan mata sebentar.

Napasnya turun perlahan.

Nafas Bumi.

Energi dalam tubuhnya mengalir mengikuti ritme tanah di bawah kaki.

Saat matanya terbuka kembali, ia berkata pelan.

“Kita tidak sendirian.”

Ki Tunggul Wasesa langsung berdiri.

Resi Wiradarma tidak tampak terkejut.

Dari balik pepohonan, bayangan mulai bergerak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lima orang keluar dari kegelapan hutan.

Pakaian mereka hitam kusam.

Gerakan mereka ringan namun penuh kewaspadaan.

Ki Tunggul Wasesa tersenyum tipis.

“Benar juga firasatmu, bocah.”

Salah satu dari lima orang itu maju selangkah.

Wajahnya tertutup sebagian oleh kain gelap.

Namun sorot matanya tajam.

“Kalian berjalan cukup jauh,” katanya dingin.

Jaka Gendra langsung mengenali nada suara itu.

Salah satu dari tiga orang yang sebelumnya mereka temui di lembah.

Resi Wiradarma berdiri perlahan.

“Perguruan Bayangan Krawang,” ucapnya tenang.

Pria itu tersenyum tipis.

“Nama itu masih diingat rupanya.”

Ki Tunggul Wasesa mendengus.

“Sulit melupakan orang yang suka muncul dari bayangan.”

Pria itu tidak terpancing.

“Kami tidak datang untuk bertarung.”

Ucapan itu justru membuat Ki Tunggul Wasesa tertawa.

“Kalau begitu kalian datang untuk apa?”

Pria itu menatap langsung ke arah Jaka Gendra.

“Untuk memastikan sesuatu.”

Jaka Gendra merasakan tatapan itu seperti menembus tubuhnya.

“Kau yang mereka cari,” lanjut pria itu.

Resi Wiradarma sedikit memiringkan kepala.

“Siapa yang kalian maksud dengan mereka?”

Pria itu tidak menjawab.

Sebaliknya, ia berkata,

“Energi di dalam tubuh anak itu sudah mulai bangkit.”

Suasana berubah tegang.

Ki Tunggul Wasesa melangkah maju.

“Kalau kau datang untuk mencampuri urusan murid kami—”

Pria itu mengangkat tangan.

“Kami hanya memastikan.”

“Bahwa tanda itu benar.”

Jaka Gendra mengerutkan dahi.

“Tanda apa?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Gendra.”

Udara di sekitar mereka seolah menegang.

Jaka Gendra merasakan energi di dalam dadanya bergerak kuat.

Namun Resi Wiradarma lebih cepat.

“Cukup.”

Suaranya tenang, tetapi memiliki tekanan kuat.

“Pergilah sebelum keadaan berubah.”

Lima orang itu saling berpandangan.

Pria yang berbicara tadi menghela napas kecil.

“Tidak hari ini.”

Ia melangkah mundur.

“Tapi kami akan bertemu lagi.”

Sebelum menghilang di antara pepohonan, ia menambahkan,

“Karena perang yang lama tertunda akhirnya akan dimulai kembali.”

Hutan kembali sunyi.

Ki Tunggul Wasesa memecah keheningan.

“Orang-orang itu tahu terlalu banyak.”

Resi Wiradarma tidak menjawab.

Tatapannya tertuju pada Jaka Gendra.

“Sekarang kau mengerti,” katanya pelan.

“Kenapa perjalanan ini tidak sederhana.”

Jaka Gendra menarik napas dalam.

Energi dalam tubuhnya masih bergerak.

Namun kini ia mulai memahami sesuatu.

Kemunculan Gendra dalam dirinya bukan sekadar perubahan pribadi.

Itu adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ia menatap ke arah kegelapan hutan tempat lima orang tadi menghilang.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal.

Perjalanan yang ia jalani bersama Resi Wiradarma bukan hanya perjalanan belajar.

Tetapi perjalanan menuju pusat sebuah konflik yang telah lama tersembunyi.

Dan kini…

Semua pihak mulai bergerak.

***

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *