EPISODE 14
BATU kecil berderak ketika delapan anggota Perguruan Bayangan Krawang mendarat di tanah lembah.
Gerakan mereka hampir serempak.
Cepat.
Rapi.
Terlatih.
Jaka Gendra berdiri di tengah lembah dengan kuda-kuda rendah. Telapak kakinya menekan tanah dengan kuat, seperti yang diajarkan Resi Wiradarma.
Napasnya perlahan.
Tarik.
Tahan.
Lepaskan.
Jurus Nafas Bumi.
Sekar Laras bergerak ke sisi kiri Jaka, pedangnya sudah terhunus.
Sementara Resi Wiradarma berdiri di belakang mereka dengan sikap tenang, tetapi mata beliau tajam memperhatikan setiap gerakan lawan.
Raksa Wening melipat tangan di dada.
Ia tidak bergerak.
Hanya menonton.
“Jangan langsung bunuh mereka,” katanya kepada anak buahnya.
“Aku ingin melihat seberapa kuat pemuda itu.”
Delapan anggota Bayangan Krawang langsung menyerang.
Dua orang melompat ke arah Sekar Laras.
Tiga orang mengincar Resi Wiradarma.
Tiga lainnya mengurung Jaka Gendra.
Gerakan mereka cepat seperti bayangan.

Pedang pendek berkilat di udara.
Jaka tidak mundur.
Ia justru menekan kakinya lebih dalam ke tanah.
Getaran lembah terasa jelas melalui telapak kakinya.
Ia bisa merasakan arah langkah musuh.
Satu dari kanan.
Satu dari kiri.
Satu lagi langsung dari depan.
“Sekarang!”
Salah satu penyerang berteriak.
Pedangnya mengarah lurus ke dada Jaka.
Namun pada saat itu Jaka bergerak.
Tubuhnya berputar setengah lingkaran.
Tangannya menepis pergelangan lawan dengan gerakan sederhana.
Tenaga dari tanah mengalir melalui tubuhnya.
Dorongan kecil itu membuat penyerang terlempar beberapa langkah.
Belum sempat ia berdiri—
Jaka sudah memutar tubuhnya lagi.
Siku kirinya menghantam dada penyerang kedua.
Orang itu terjatuh keras ke tanah.
Penyerang ketiga meloncat dari belakang.
Pedangnya menebas ke arah leher Jaka.
Tetapi Jaka sudah merasakan getarannya lebih dulu.
Ia menunduk.
Lalu menghentakkan telapak tangannya ke tanah.
Sebuah dorongan tenaga dalam meledak dari kuda-kudanya.
Debu lembah beterbangan.
Penyerang ketiga terpental mundur.
Raksa Wening yang menonton dari jauh mengangkat alis.
“Hm.”
“Anak itu benar-benar sudah menguasai dasar Nafas Bumi.”
Sementara itu di sisi lain, Sekar Laras bertarung dengan dua orang sekaligus.
Pedangnya berputar cepat.
Gerakannya lincah seperti burung yang menari di udara.
Salah satu penyerang mencoba menusuk dari samping.
Namun Sekar Laras berputar dan menendang lutut lawannya.
Orang itu langsung jatuh.
Penyerang kedua melompat tinggi, menebas dari atas.
Sekar Laras menangkis dengan pedangnya.
Benturan logam menggema di lembah.
Di belakang mereka, tiga orang menyerang Resi Wiradarma.
Tetapi sang resi bahkan belum mencabut senjata.
Beliau hanya bergerak perlahan.
Setiap langkahnya ringan seperti angin.
Satu pukulan telapak tangan mendorong penyerang pertama jatuh.
Satu putaran tubuh membuat pedang penyerang kedua meleset jauh.
Penyerang ketiga mencoba menusuk dari belakang.
Namun Resi Wiradarma hanya menggeser tubuh sedikit.
Tusukan itu melewati jubahnya.
Kemudian beliau menyentuh bahu penyerang itu dengan dua jari.
Sekejap kemudian tubuh orang itu melemah dan jatuh berlutut.
Raksa Wening tersenyum tipis.
“Menarik.”
Ia kembali menatap Jaka Gendra.
Pertarungan di sekitar Jaka semakin cepat.
Tiga penyerang kini bangkit kembali.
Mereka tidak lagi menyerang satu per satu.
Kali ini mereka bergerak bersamaan.
Satu menyerang kaki.
Satu menyerang dada.
Satu lagi dari belakang.
Jaka menarik napas dalam.
Nafas Bumi mengalir lebih kuat.
Namun pada saat yang sama—
Ia merasakan sesuatu bergerak dalam tubuhnya.
Getaran itu semakin jelas.
Seperti denyut lain di dalam dirinya.
Gendra.
Suara dalam pikirannya terasa samar.
Seperti gema dari tempat yang sangat jauh.
Jaka memejamkan mata sekejap.
Resi Wiradarma yang melihat dari belakang langsung memahami apa yang terjadi.
“Tenangkan pikiranmu!”
Suara beliau tegas.

“Jangan biarkan Gendra mengambil alih!”
Jaka membuka mata lagi.
Serangan musuh sudah sangat dekat.
Ia memutar tubuhnya dengan cepat.
Kakinya menghentak tanah.
Debu lembah kembali terangkat.
Gerakan tangannya berubah menjadi lebih kuat.
Setiap tepisan terasa berat seperti batu.
Penyerang pertama terhuyung.
Penyerang kedua terlempar dua langkah.
Penyerang ketiga hampir jatuh.
Namun kali ini Jaka tidak berhenti.
Ia maju satu langkah.
Telapak tangannya mendorong dada penyerang itu.
Tenaga dari tanah mengalir deras melalui tubuhnya.
Orang itu terpental jauh hingga menghantam dinding batu lembah.
Sekar Laras yang melihat itu berseru,
“Tenaganya meningkat!”
Raksa Wening juga menyadarinya.
Matanya menyipit.
“Jadi itu kekuatan roh yang dibicarakan…”
Ia menurunkan tangannya.
“Cukup.”
Delapan anggota Bayangan Krawang langsung mundur beberapa langkah.
Mereka kembali berkumpul di belakang pemimpin mereka.
Raksa Wening berjalan perlahan mendekat.
Langkahnya tenang.
Namun tekanan dari tubuhnya terasa berat.
Sekar Laras menegang.
“Jaka… hati-hati.”
Resi Wiradarma juga mulai bergerak maju sedikit.
Raksa Wening berhenti beberapa langkah dari Jaka Gendra.
Ia memandang pemuda itu dari atas ke bawah.
“Tidak buruk.”
“Tapi kau masih mentah.”
Jaka tidak menjawab.
Ia tetap dalam kuda-kuda Nafas Bumi.
Raksa Wening tersenyum tipis.
“Kita akan bertemu lagi.”
Sekar Laras marah.
“Kau mau lari?”
Raksa Wening tertawa kecil.
“Lari?”
Ia menunjuk Jaka Gendra.
“Anak ini belum siap.”
“Terlalu cepat membunuhnya akan merusak rencana besar kami.”
Ucapan itu membuat Resi Wiradarma memperhatikan lebih tajam.
“Rencana besar?”
Raksa Wening tidak menjawab.
Ia berbalik.
“Tarik pasukan.”
Delapan anggota Bayangan Krawang langsung melompat ke dinding batu.
Dalam beberapa detik mereka sudah menghilang di atas tebing.
Raksa Wening melompat terakhir.
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Jaka.
“Kita akan bertemu lagi, Jaka Gendra.”
“Dan saat itu… kau harus menunjukkan kekuatan rohmu yang sebenarnya.”
Setelah itu ia menghilang.
Lembah kembali sunyi.
Sekar Laras menurunkan pedangnya perlahan.
“Kenapa mereka mundur?”
Resi Wiradarma menjawab pelan.
“Karena mereka sudah mendapatkan yang mereka inginkan.”
Jaka menatap gurunya.
“Apa maksud Eyang?”
Resi Wiradarma memandang tebing tempat Raksa Wening menghilang.
“Mereka ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”
Resi Wiradarma berkata pelan,
“Bahwa roh Gendra benar-benar ada di dalam dirimu.”
Jaka terdiam.
Napasnya masih berat setelah pertarungan.
Namun di dalam tubuhnya—
Getaran itu masih terasa.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Resi Wiradarma menepuk bahunya.
“Pertarungan ini baru permulaan.”
Sekar Laras menatap ke arah jalan lembah di depan.
“Kita harus bergerak.”
“Jika Bayangan Krawang sudah yakin tentang Jaka…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun semua orang mengerti.
Mulai hari itu—
Jaka Gendra bukan lagi hanya murid pengembara.
Ia sudah menjadi target utama Perguruan Bayangan Krawang.
Dan perjalanan mereka ke depan akan jauh lebih berbahaya.
***
BERSAMBUNG