Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 13: Pemburu dari Bayangan Krawang

 

EPISODE 13

 

LANGIT siang mulai condong ketika Jaka Gendra, Resi Wiradarma, dan Sekar Laras meninggalkan dataran batu tempat pertempuran singkat itu terjadi.

Langkah mereka tidak lagi santai.

Sekar Laras berjalan paling depan, seolah sudah mengenal jalur pegunungan itu dengan baik.

Resi Wiradarma berada di tengah.

Sedangkan Jaka Gendra menutup barisan.

Namun perhatian Jaka tidak hanya tertuju pada jalan.

Ia terus melatih napasnya.

Tarik.

Tahan.

Lepaskan perlahan.

Jurus Nafas Bumi.

Latihan itu kini menjadi kebiasaan yang tidak pernah ia lepaskan.

Resi Wiradarma pernah berkata bahwa seorang pendekar sejati tidak menunggu waktu latihan.

Setiap langkah, setiap tarikan napas, harus menjadi latihan.

Tanah di bawah telapak kaki Jaka terasa berbeda.

Kadang keras.

Kadang lembut.

Kadang bergetar halus oleh langkah binatang kecil.

Ia mulai memahami apa yang dimaksud gurunya tentang mendengar bumi.

Di depan, Sekar Laras tiba-tiba berhenti.

Ia mengangkat tangan memberi isyarat.

“Jangan bersuara.”

Jaka dan Resi Wiradarma langsung berhenti.

Sekar Laras berjongkok, menyentuh tanah di dekat sebuah batu besar.

“Bekas api.”

Jaka ikut mendekat.

Benar.

Ada sisa arang kecil di antara batu-batu.

Resi Wiradarma mengamati sekeliling.

“Api kecil seperti ini biasanya untuk pengintaian.”

Sekar Laras berdiri.

“Mereka pernah berkemah di sini.”

Jaka mengerutkan dahi.

“Berarti mereka sudah menunggu lebih dulu?”

Sekar Laras mengangguk.

“Perguruan Bayangan Krawang tidak pernah bergerak tanpa rencana.”

Resi Wiradarma berkata tenang.

“Itu berarti kita sudah berada di wilayah pengawasan mereka.”

Jaka menatap hutan di sekeliling.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Ia menekan telapak kaki ke tanah.

Menarik napas.

Namun tidak ada getaran manusia.

“Hari ini mereka tidak di sini.”

Sekar Laras berkata pelan.

“Bukan tidak ada.”

“Mereka hanya tidak menampakkan diri.”

Ucapan itu membuat Jaka semakin waspada.

Mereka kembali berjalan.

Kali ini jalur mulai berubah.

Tanah menjadi lebih curam.

Pepohonan tinggi menjulang seperti dinding alam.

Sekar Laras menunjuk ke depan.

“Setelah bukit itu ada lembah sempit.”

“Kalau kita lewat sana, kita bisa memotong perjalanan dua hari.”

Jaka bertanya,

“Kenapa jalur itu tidak dipakai orang?”

Sekar Laras menjawab singkat.

“Karena berbahaya.”

Resi Wiradarma tersenyum tipis.

“Berbahaya bagi orang biasa.”

Sekar Laras melirik beliau.

“Tapi tidak bagi kita?”

Resi Wiradarma tidak menjawab.

Mereka tiba di puncak bukit beberapa saat kemudian.

Dari sana terlihat sebuah lembah panjang di antara dua dinding batu tinggi.

Jalur itu sempit.

Namun tampak cukup untuk dilalui.

Jaka menatap ke bawah.

Tiba-tiba dadanya terasa aneh.

Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.

Bukan rasa sakit.

Lebih seperti getaran halus.

Gendra.

Ia sudah mulai mengenali sensasi itu.

Resi Wiradarma memperhatikan perubahan wajah muridnya.

“Apa yang kau rasakan?”

Jaka menjawab pelan.

“Tenaga di dalam tubuhku bergerak sendiri.”

Sekar Laras menatapnya dengan penasaran.

Resi Wiradarma berkata,

“Itu karena kau mendekati tempat yang memiliki jejak energi lama.”

Jaka bertanya,

“Energi apa?”

Resi Wiradarma memandang lembah di bawah.

“Energi pertempuran.”

Sekar Laras mengernyit.

“Pertempuran?”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Lembah itu dulu pernah menjadi medan pertarungan besar.”

Jaka terdiam.

“Pertarungan siapa?”

Resi Wiradarma menjawab pelan.

“Para pendekar yang memiliki kekuatan roh leluhur.”

Jaka menatap lembah itu lagi.

Entah kenapa dadanya semakin bergetar.

Seolah sesuatu di dalam dirinya mengenali tempat itu.

Sekar Laras mulai berjalan menuruni bukit.

“Kalau begitu kita harus melewatinya sebelum malam.”

Mereka turun perlahan.

Semakin mendekat ke lembah, udara terasa semakin dingin.

Namun bukan dingin biasa.

Ada perasaan aneh.

Seperti tekanan tak terlihat.

Jaka kembali mengatur napas.

Nafas Bumi membuat pikirannya tetap tenang.

Mereka akhirnya memasuki lembah.

Dinding batu menjulang di kiri kanan.

Suara langkah kaki mereka bergema pelan.

Beberapa saat mereka berjalan tanpa bicara.

Lalu—

Jaka berhenti lagi.

Kali ini lebih cepat.

“Berhenti.”

Sekar Laras langsung menoleh.

“Ada apa?”

Jaka menutup mata.

Ia merasakan tanah.

Getaran.

Banyak.

Lebih dari sebelumnya.

“Tidak mungkin…”

Sekar Laras berbisik.

“Berapa?”

Jaka membuka mata.

“Delapan.”

Suasana langsung tegang.

Resi Wiradarma berkata tenang.

“Jadi mereka benar-benar menunggu kita.”

Sekar Laras mencabut pedangnya.

“Jebakan lembah.”

Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari atas tebing.

Seseorang berdiri di sana.

Seorang pria tinggi dengan jubah hitam panjang.

Wajahnya tertutup topeng setengah.

Namun dari sikap tubuhnya terlihat jelas bahwa ia bukan anggota biasa.

“Hebat.”

Suara pria itu bergema di lembah.

“Kalian bahkan bisa mendeteksi penyergapan ini.”

Sekar Laras berbisik,

“Komandan lapangan…”

Jaka menatap pria itu.

“Siapa kau?”

Pria itu tertawa kecil.

“Aku?”

Ia melompat turun dengan ringan ke tengah lembah.

Gerakannya tenang, tetapi penuh tekanan.

“Aku Raksa Wening.”

“Pemimpin pemburu Perguruan Bayangan Krawang.”

Nama itu membuat Sekar Laras menggertakkan gigi.

“Jadi kau yang memimpin pembantaian di desa utara.”

Raksa Wening tersenyum dingin.

“Kalau kau masih hidup, berarti kau yang lolos waktu itu.”

Sekar Laras tidak menjawab.

Ia sudah bersiap menyerang.

Raksa Wening menatap Jaka Gendra.

Tatapannya tajam.

“Jadi kau… wadah roh itu.”

Jaka tidak menjawab.

Namun tangannya perlahan membentuk kuda-kuda.

Nafas Bumi mengalir di tubuhnya.

Raksa Wening tersenyum.

“Aku ingin melihat sendiri seberapa kuat kau.”

Ia memberi isyarat kecil.

Delapan orang anggota Bayangan Krawang muncul di atas tebing.

Mengelilingi mereka.

Sekar Laras berbisik,

“Ini jebakan besar.”

Resi Wiradarma berkata pelan,

“Tenang.”

Beliau memandang Jaka.

“Gunakan yang sudah kau pelajari.”

Jaka mengangguk.

Ia menarik napas panjang.

Telapak kakinya menekan tanah lembah.

Energi bumi terasa jelas.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Namun di saat yang sama—

Sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Gendra.

Raksa Wening mengangkat tangannya.

“Serang.”

Delapan bayangan melompat turun bersamaan.

Dan pertempuran di lembah tua itu pun dimulai.

Namun kali ini—

Jaka Gendra tidak lagi hanya bertahan.

Ia mulai memahami bagaimana menggunakan kekuatan Nafas Bumi dalam pertarungan.

Dan Raksa Wening akan menjadi orang pertama yang benar-benar menguji kekuatan itu.

***

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *