Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 11: Pemburu dari Bayangan Krawang

EPISODE 11

 

KABUT pagi masih belum sepenuhnya terangkat dari hutan pegunungan itu ketika Resi Wiradarma sudah berdiri di atas sebuah batu besar.

Matanya menatap jauh ke arah utara.

Arah di mana tiga orang bertopeng dari Perguruan Bayangan Krawang menghilang semalam.

Di bawah batu itu, Jaka Gendra sedang duduk bersila di atas tanah yang masih lembap oleh embun.

Matanya tertutup.

Napasnya panjang.

Perlahan.

Teratur.

Ia sedang menjalankan Jurus Nafas Bumi.

Tarik napas.

Tahan.

Biarkan tenaga dari tanah merambat naik melalui telapak kaki.

Mengalir ke pinggang.

Masuk ke dada.

Lalu dilepaskan perlahan.

Namun latihan pagi itu tidak terasa sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ada kegelisahan yang terus mengganggu pikirannya.

Bayangan tiga orang bertopeng itu masih jelas di kepalanya.

Terutama kata-kata terakhir mereka.

Seluruh Perguruan Bayangan Krawang akan memburumu.

Napas Jaka Gendra sedikit goyah.

Resi Wiradarma langsung berbicara tanpa menoleh.

“Tenangkan pikiranmu.”

Jaka Gendra membuka mata.

“Saya mencoba, Guru.”

Resi Wiradarma melompat turun dari batu.

“Kau tidak boleh memikirkan musuh saat berlatih.”

Beliau berdiri di depan Jaka Gendra.

“Jurus Nafas Bumi bukan sekadar mengumpulkan tenaga. Ia adalah cara menyatukan tubuh dengan tanah.”

Jaka Gendra mengangguk.

“Saya mengerti.”

“Kalau pikiranmu kacau,” lanjut sang resi, “tenaga yang kau tarik dari bumi juga akan kacau.”

Jaka Gendra kembali menutup mata.

Ia menarik napas panjang.

Kali ini ia mencoba mengosongkan pikirannya.

Tanah di bawahnya terasa dingin.

Namun di dalam tubuhnya mulai muncul kehangatan yang familiar.

Tenaga itu perlahan naik.

Lebih stabil.

Lebih kuat.

Resi Wiradarma mengamati dengan tenang.

Tiba-tiba—

Beliau mengangkat tangan.

“Cukup.”

Jaka Gendra langsung membuka mata.

“Ada apa, Guru?”

Resi Wiradarma tidak langsung menjawab.

Beliau menoleh ke arah pepohonan tinggi di sisi barat hutan.

Daun-daun di sana bergerak.

Bukan karena angin.

Jaka Gendra juga mulai merasakannya.

Ada sesuatu yang mendekat.

Langkah kaki.

Ringan.

Cepat.

“Sudah datang,” kata Resi Wiradarma pelan.

Jaka Gendra langsung berdiri.

“Bayangan Krawang?”

Resi Wiradarma tidak menjawab.

Namun tatapannya sudah cukup memberi jawaban.

Dari balik pepohonan, tiga sosok muncul.

Namun mereka bukan orang yang sama seperti kemarin.

Topeng mereka berbeda.

Jika sebelumnya topeng hitam polos, kini topeng yang mereka kenakan memiliki garis-garis merah seperti cakar.

Gerakan mereka juga lebih ringan.

Lebih cepat.

Salah satu dari mereka melangkah ke depan.

“Resi Wiradarma.”

Suaranya rendah dan serak.

Sang resi mengangguk sedikit.

“Jadi kalian sudah mengirim pemburu.”

Orang bertopeng itu tertawa pelan.

“Kabar tentang anak itu sudah sampai ke perguruan kami.”

Tatapannya beralih ke Jaka Gendra.

“Dan kami tidak ingin mengambil risiko.”

Jaka Gendra menatap balik tanpa berkedip.

“Kalian takut?”

Orang itu tertawa lagi.

“Kami tidak takut.”

Ia mengangkat tangannya.

“Kami hanya membunuh sebelum sesuatu menjadi berbahaya.”

Dua orang lainnya langsung bergerak menyebar.

Mengepung.

Resi Wiradarma melangkah sedikit ke depan.

Namun Jaka Gendra mengangkat tangannya.

“Guru.”

Resi Wiradarma menoleh.

“Biarkan saya mencoba.”

Sang resi menatap muridnya beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Baik.”

Jaka Gendra maju satu langkah.

Tubuhnya tegak.

Namun napasnya sudah turun dalam.

Jurus Nafas Bumi.

Ia menekan telapak kakinya ke tanah.

Tenaga dari bumi mulai naik.

Orang bertopeng pertama langsung menyerang.

Gerakannya cepat seperti kilat.

Tangannya menebas lurus ke arah leher Jaka Gendra.

Namun Jaka Gendra sudah bergerak lebih dulu.

Ia memutar tubuh.

Tangannya menangkis.

BRAK!

Benturan keras terdengar.

Orang bertopeng itu mundur satu langkah.

“Lumayan.”

Ia menyerang lagi.

Kali ini dari bawah.

Jaka Gendra melompat.

Kakinya menghantam bahu lawan.

DUK!

Orang bertopeng itu terdorong mundur dua langkah.

Namun dua orang lainnya langsung masuk.

Serangan datang bersamaan.

Satu dari kiri.

Satu dari kanan.

Jaka Gendra menurunkan napasnya lebih dalam.

Ia memutar tubuhnya seperti aliran air.

Tangannya bergerak mengikuti tenaga lawan.

Menangkis.

Mengalihkan.

Menghindar.

Namun tiga orang itu jauh lebih terlatih.

Salah satu dari mereka berhasil menendang perut Jaka Gendra.

BUK!

Jaka Gendra terpental beberapa langkah ke belakang.

Ia hampir jatuh.

Namun kakinya menekan tanah.

Jurus Nafas Bumi.

Tenaga dari tanah menahan tubuhnya.

Ia berdiri kembali.

Resi Wiradarma mengamati tanpa bergerak.

Namun matanya tajam.

Ia melihat sesuatu yang mulai berubah pada muridnya.

Jaka Gendra menarik napas panjang.

Kali ini lebih dalam.

Tenaga yang naik dari bumi terasa lebih besar.

Namun bersamaan dengan itu—

Ada sesuatu yang ikut bangkit.

Kekuatan gendra.

Matanya sedikit berubah.

Lebih tajam.

Lebih gelap.

Tiga orang bertopeng itu langsung merasakannya.

“Lihat itu,” kata salah satu dari mereka.

“Benar.”

Orang pertama menyeringai di balik topengnya.

“Kekuatan gendra itu memang ada.”

Mereka bertiga menyerang bersamaan.

Serangan kali ini jauh lebih ganas.

Namun Jaka Gendra tidak mundur.

Ia maju.

Telapak tangannya menghantam tanah.

BRAK!

Debu tanah terangkat.

Tenaga dari bumi mengalir ke seluruh tubuhnya.

Ia memutar tubuh.

Tangannya menghantam dada salah satu penyerang.

DUK!

Orang itu terpental keras ke batang pohon.

Dua lainnya terkejut.

Namun mereka tidak mundur.

Justru semakin ganas menyerang.

Pertarungan berlangsung cepat.

Daun-daun beterbangan.

Tanah terinjak.

Napas Jaka Gendra semakin berat.

Namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, tenaga baru muncul.

Akhirnya salah satu dari mereka melompat mundur.

“Cukup.”

Dua lainnya juga berhenti.

Mereka menatap Jaka Gendra beberapa saat.

Lalu orang pertama berkata pelan.

“Kami sudah melihat cukup.”

Resi Wiradarma melangkah maju sedikit.

“Kalian mau pergi?”

Orang bertopeng itu mengangguk.

“Kami bukan yang terkuat di Bayangan Krawang.”

Tatapannya kembali ke Jaka Gendra.

“Hari ini kami hanya memastikan.”

Ia menunjuk Jaka Gendra.

“Dan sekarang kami tahu.”

Salah satu dari mereka berkata dingin.

“Anak itu memang berbahaya.”

Angin berhembus melalui hutan.

Kabut bergerak.

Orang bertopeng pertama berkata sebelum pergi.

“Kami akan kembali.”

“Kali ini bukan sebagai pengintai.”

Ia berhenti sejenak.

“Melainkan sebagai pemburu.”

Dalam sekejap mereka melompat ke pepohonan.

Menghilang.

Hutan kembali sunyi.

Jaka Gendra terengah-engah.

Resi Wiradarma berjalan mendekat.

“Bagus.”

Jaka Gendra menatap gurunya.

“Tapi saya hampir kalah.”

Resi Wiradarma menggeleng.

“Tidak.”

Beliau menunjuk tanah di bawah kaki Jaka Gendra.

“Kau mulai memahami Jurus Nafas Bumi.”

Jaka Gendra menunduk melihat tanah.

Masih ada bekas retakan kecil di sana.

“Kau merasakan tenaga itu?” tanya sang resi.

Jaka Gendra mengangguk.

“Ya.”

“Dan gendra di dalam dirimu juga mulai menyatu dengannya.”

Jaka Gendra terdiam.

Namun Resi Wiradarma menatap ke arah hutan lagi.

“Masalahnya…”

Beliau berkata pelan.

“Bayangan Krawang tidak akan berhenti.”

Jaka Gendra mengangkat kepala.

“Apa yang harus kita lakukan?”

Resi Wiradarma menarik napas panjang.

“Kita harus bergerak lebih dulu.”

“Ke mana?”

Resi Wiradarma menatap ke arah pegunungan yang jauh di utara.

Ada sesuatu yang tersembunyi di sana.

Sesuatu dari masa lalu.

“Ke tempat di mana semua ini bermula.”

Jaka Gendra mengerutkan dahi.

“Bermula?”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Di sanalah kau akan mengetahui…”

Beliau berhenti sejenak.

“Kenapa kekuatan gendra bisa ada di dalam dirimu.”

Angin hutan kembali bertiup.

Daun-daun berdesir.

Dan tanpa mereka sadari—

Di kejauhan, dari balik tebing batu tinggi—

Seseorang sedang mengawasi.

Bukan dari Bayangan Krawang.

Melainkan seseorang yang jauh lebih berbahaya.

Tatapannya dingin.

Dan ia hanya berkata pelan.

“Jadi… anak itu sudah bangun.”

***

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *