Cerita Silat JAKA GENDRA: Bayang di Balik Napas

 

Episode 2:

 

SEJAK malam ketika dinding rumahnya retak tanpa sebab, desa tidak lagi sama.

Bukan hanya rumah yang berubah. Cara orang memandang Jaka pun ikut bergeser.

Pagi hari di pasar kecil, ketika ibunya hendak membeli beras, orang-orang memberi jalan terlalu cepat. Bukan hormat—melainkan menghindar. Anak-anak yang biasa bermain layangan bersamanya kini menunduk, pura-pura sibuk dengan tanah.

“Anak itu membawa hawa panas,” bisik seorang perempuan tua.

“Semalam aku bermimpi api di atas atapnya,” sahut yang lain.

Jaka mendengar semuanya.

Ia tidak marah. Ia hanya merasa ada sesuatu yang menjauh—seperti dirinya berdiri di tepi sungai, sementara dunia perlahan hanyut meninggalkannya.

Ki Wira Wening bekerja tanpa banyak bicara. Ia mengganti kayu penyangga yang patah, menambal retakan dengan campuran tanah liat dan serabut kelapa. Setiap ayunan palunya seperti doa yang tak terucap.

“Bapak…” Jaka memulai suatu sore.

Ki Wira berhenti sebentar, menoleh. “Hm?”

“Kalau rumah bisa retak sendiri… berarti ada yang salah, ya?”

Ki Wira menatap anaknya cukup lama sebelum menjawab. “Kadang bukan rumahnya yang salah. Kadang waktunya saja yang sudah sampai.”

Jaka tidak sepenuhnya mengerti.

Namun sejak malam itu, ia merasakan sesuatu di dalam dadanya. Bukan sakit. Bukan juga sesak. Hanya seperti ruang kosong yang kadang bergetar tanpa sebab.

Ketika ia sendirian, terutama menjelang magrib, getaran itu terasa lebih jelas.

Seperti ada yang ingin berbicara.

Tapi belum punya kata.

***

 

Sore itu, seorang lelaki tua datang dari arah lereng.

Rambutnya putih panjang, disanggul sederhana. Jubahnya coklat tanah. Di tangannya tongkat kayu berukir motif sulur dan kepala burung kecil di ujungnya.

Orang-orang langsung mengenalinya.

“Resi dari Kendalisada…” bisik beberapa warga.

Ia berjalan tenang, langkahnya ringan meski usianya tak lagi muda. Tatapannya teduh, tapi dalam.

Ki Wira menyambutnya di depan rumah.

“Eyang…” Ki Wira menunduk hormat.

Resi itu mengangguk pelan. “Aku mencium getar yang tak biasa dari lereng. Maka kakiku mengarah ke sini.”

Tatapannya jatuh pada Jaka.

Untuk sesaat, Jaka merasa seperti dilihat bukan hanya tubuhnya, tapi juga pikirannya.

Ia refleks menunduk. “Wilujeng rawuh, Eyang.”

Resi tersenyum tipis. “Kau anak yang sopan.”

Ia melangkah mendekat, berhenti sejengkal dari Jaka. “Apakah akhir-akhir ini kau sering merasa dadamu hangat saat marah?”

Jaka terdiam.

Ia ingin menjawab tidak. Tapi itu bohong.

Kadang, saat kesal pada bisik-bisik warga, dadanya memang terasa seperti bara kecil.

“Sedikit, Eyang,” jawabnya pelan.

Resi mengangguk pelan, seperti seseorang yang sudah menduga jawabannya.

“Jangan kau lawan rasa itu dengan benci,” katanya. “Amarah yang ditolak akan mencari jalan sendiri.”

Jaka mengerutkan kening. “Amarah siapa, Eyang?”

Resi tidak langsung menjawab.

Ia memejamkan mata sejenak. Angin sore berembus pelan, menggerakkan ujung jubahnya.

“Kadang yang kita rasa bukan hanya milik kita sendiri.”

Kalimat itu menggantung.

Jaka ingin bertanya lebih jauh, tetapi dari arah ladang terdengar teriakan.

“Harimau! Harimau turun!”

Suara panik memecah sore.

Beberapa lelaki desa berlari membawa tombak dan kayu. Perempuan menarik anak-anak masuk ke rumah.

Jaka menoleh ke arah hutan kecil di pinggir sawah. Debu mengepul.

“Jangan ke sana!” Ki Wira memperingatkan.

Namun jeritan kambing terdengar menyayat.

Tanpa berpikir panjang, kaki Jaka bergerak sendiri.

Ia berlari melewati pematang sawah, melewati lelaki-lelaki yang setengah ragu.

Di tepi hutan, seekor harimau besar berdiri di dekat kandang kambing yang roboh. Tubuhnya kekar. Lorengnya jelas. Mata kuningnya menyala waspada.

Seekor kambing sudah tergeletak tak bergerak.

Harimau itu mengangkat kepala ketika melihat Jaka mendekat.

Semua orang berhenti.

“Jaka! Mundur!” teriak seseorang.

Namun Jaka justru merasa kakinya menancap di tanah.

Jantungnya berdetak keras. Dunia terasa sunyi, hanya napasnya dan desah harimau yang terdengar.

Ada rasa takut.

Tentu saja.

Tapi ada juga sesuatu yang lain.

Hangat.

Di dadanya.

Ia tidak tahu kenapa, tapi rasa takut itu seperti… tidak sepenuhnya miliknya.

Harimau itu menggeram rendah, lalu melangkah maju.

Beberapa lelaki desa mengangkat tombak, tapi tak ada yang cukup berani mendekat.

Jaka menelan ludah.

“Pergilah…” bisiknya, tak yakin pada siapa kata itu ditujukan.

Harimau itu meloncat.

Semua terjadi begitu cepat.

Tubuh besar itu melesat ke arahnya, cakar terangkat.

Jaka mengangkat tangan secara refleks.

Ia tidak tahu apa yang ia lakukan.

Hanya naluri.

Tiba-tiba udara di antara mereka terasa menebal.

Seperti dinding tak terlihat.

Harimau itu terpental ke samping, berguling beberapa kali sebelum berdiri kembali, tampak terkejut.

Orang-orang ternganga.

Jaka sendiri terhuyung mundur.

Dadanya terasa panas—lebih panas dari sebelumnya. Bukan sakit, tapi seperti api kecil yang membesar lalu menyusut lagi.

Ia terengah.

Apa yang barusan terjadi?

Ia tidak melihat apa-apa keluar dari tangannya. Tidak ada cahaya. Tidak ada kilat.

Hanya perasaan aneh.

Harimau itu menatapnya beberapa detik yang terasa panjang.

Lalu, tanpa sebab jelas, ia menggeram sekali lagi dan mundur perlahan ke dalam hutan.

Daun-daun bergetar ketika tubuhnya lenyap di balik pepohonan.

Keheningan turun seperti kabut.

Beberapa lelaki desa mendekat perlahan.

“Bagaimana kau melakukannya?” tanya seseorang.

Jaka menatap tangannya sendiri. “Aku… tidak tahu.”

Ia benar-benar tidak tahu.

Yang ia ingat hanya rasa hangat, dan sekelebat bayangan dalam pikirannya—gelap, besar, tapi tidak jelas bentuknya.

Resi berjalan mendekat dengan langkah tenang.

“Jaka,” panggilnya lembut.

Jaka menoleh cepat. “Eyang…”

Resi menatapnya lama. “Apa yang kau rasakan barusan?”

“Panas… dan seperti ada yang mendorong dari dalam.”

“Apakah kau memanggil sesuatu?”

Jaka menggeleng. “Tidak, Eyang. Aku hanya takut.”

Resi mengangguk pelan.

“Baik.”

Ki Wira datang dan memegang bahu anaknya. “Kau tidak apa-apa?”

Jaka mengangguk, meski kakinya masih gemetar.

Resi menatap hutan yang kini kembali tenang.

“Harimau bukan turun tanpa sebab,” katanya pelan. “Kadang alam membaca perubahan lebih cepat daripada manusia.”

***

 

Malam itu, desa ramai membicarakan kejadian tersebut.

Ada yang menyebut Jaka dilindungi leluhur. Ada yang menyebutnya pertanda buruk.

Jaka duduk sendirian di luar rumah, memandangi langit yang gelap.

Bintang-bintang bertaburan seperti biasa.

Tapi ia tidak merasa seperti biasa.

Ia mencoba mengingat detik ketika harimau meloncat.

Ada sesuatu.

Seperti bayangan melintas di sudut penglihatannya.

Namun ketika ia menoleh, tidak ada apa-apa.

“Eyang…” panggilnya ketika melihat resi duduk tak jauh darinya.

Resi menghampiri, lalu duduk di sampingnya.

“Kenapa harimau itu berhenti?” tanya Jaka.

Resi tersenyum tipis. “Karena kau tidak membunuhnya.”

Jaka mengerutkan kening. “Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa.”

“Justru itu.”

Angin malam berembus pelan.

“Jaka,” lanjut resi, “di dalam setiap manusia ada ruang yang tidak selalu kita kenal. Kadang ruang itu diwariskan. Kadang tumbuh dari luka yang tidak sempat sembuh.”

Jaka terdiam.

“Apakah di dalamku ada sesuatu, Eyang?”

Resi menatapnya, lama sekali.

“Ada kekuatan yang belum kau pahami,” jawabnya hati-hati. “Tapi kekuatan bukan selalu musuh. Ia menjadi berbahaya ketika tuannya tidak mengenal dirinya sendiri.”

Jaka menunduk. “Aku takut, Eyang.”

Resi mengangguk. “Takut adalah pertanda kau masih memegang kendali.”

Mereka terdiam beberapa saat.

Jaka memejamkan mata.

Di antara napasnya, ia merasa lagi getaran kecil itu.

Lembut.

Tidak mengancam.

Hanya… ada.

Seperti bayang di balik dinding tipis.

Ia membuka mata cepat.

“Eyang… kalau suatu saat aku tidak bisa mengendalikannya?”

Resi menepuk bahunya pelan. “Maka kau harus belajar sebelum saat itu tiba.”

“Belajar apa?”

“Mengenali dirimu sendiri. Amarahmu. Ketakutanmu. Keinginanmu.”

Jaka menarik napas panjang.

Di kejauhan, burung hantu bersuara.

Desa perlahan terlelap.

Namun jauh di balik hutan, sesuatu bergerak.

Seseorang berdiri di antara pepohonan, memandangi desa dari kejauhan.

Matanya menyipit.

“Anak itu…” gumamnya pelan. “Akhirnya bangkit juga.”

Ia berbalik, jubah hitamnya menyapu tanah.

Langkahnya menghilang ke dalam gelap.

Sementara itu, di rumah sederhana di tepi desa, Jaka akhirnya berbaring.

Ia mencoba tidur.

Namun tepat sebelum terlelap, ia merasa seolah bayangannya di dinding bergerak sedikit lebih lambat daripada tubuhnya.

Ia berkedip.

Bayangan itu kembali normal.

Jaka memalingkan wajah ke arah tembok.

Mungkin ia hanya lelah.

Di dalam dadanya, hangat itu kembali terasa.

Tidak membakar.

Hanya… menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, tanpa benar-benar menyadari, Jaka berbisik dalam hati:

Siapa pun kau… jangan sakiti mereka.

Malam menjawab dengan sunyi.

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *