Oke menekankan, keselamatan lebih penting daripada mengejar waktu berbuka. Ada beberapa langkah praktis agar tetap aman:
1. Pahami kapasitas diri: Jika mata terasa berat atau fokus terpecah, berhenti sejenak di masjid atau rest area. Istirahat 10–15 menit lebih berharga daripada memaksakan diri.
2. Jaga jarak ekstra: Dengan reaksi otak melambat, tambahkan jarak aman dari kendaraan depan. Misalnya, dari 3 meter menjadi 5 meter.
3. Hindari manuver agresif: Gerakan tajam menguras energi dan memicu emosi.
Selain itu, pola makan saat sahur menjadi kunci. Konsumsi karbohidrat kompleks untuk energi yang lebih lama, perbanyak minum air putih, dan hindari jaket tebal di siang hari untuk mencegah dehidrasi.
“Jangan korbankan keselamatan demi selisih beberapa menit berbuka. Berkendaralah dengan sabar. Kesabaran adalah inti dari puasa itu sendiri. Teko panggonan kanthi slamet, ibadah lancar, ati ayem,” pesan Oke.
Dengan memahami tubuh sendiri dan menyesuaikan gaya berkendara, Ramadan bukan hanya soal menahan haus dan lapar, tapi juga menjaga diri agar tetap selamat di jalan, agar ibadah lancar dan hati tetap tenang.