Banjir Lahar Merapi Magelang: 1 Penambang Tewas, 4 Hilang

MAGELANG, top62.id – Hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak Gunung Merapi pada Selasa (3/3/2026) siang hingga sore memicu banjir lahar dingin di aliran Sungai Senowo, sisi barat daya Merapi, Kabupaten Magelang.

Arus material vulkanik bercampur air hujan itu menerjang area penambangan pasir yang berada di bantaran sungai. Tiga truk penambang hanyut terseret derasnya arus. Dua alat berat serta 12 truk lainnya tertimbun material lahar.

Bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa. Satu orang dilaporkan meninggal dunia, enam petani mengalami luka-luka, dan empat penambang yang sedang beraktivitas di sekitar aliran Sungai Senowo hilang terseret arus.

“Kami menerima laporan pada Selasa sore sekitar pukul 16.00 telah terjadi bencana lahar dingin yang menyeret empat penambang di Sungai Senowo. Saat ini kami telah mengirimkan satu tim dari Unit Siaga SAR Magelang untuk melakukan pencarian,” ujar Budiono, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang.

Empat penambang yang masih dalam pencarian masing-masing Maryuni, Heru, dan Hasyim yang merupakan warga Dukuh Krinjing, Dukun, serta Fuad, warga Srumbung. Seluruhnya tercatat sebagai warga Kabupaten Magelang.

Sementara korban meninggal dunia diketahui bernama Iman Setiawan (21), warga Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Tim dari Basarnas Unit Siaga SAR Magelang bersama SAR gabungan langsung bergerak ke lokasi. Proses pencarian melibatkan anjing pelacak (K9) milik Polresta Magelang, penggunaan drone untuk pemetaan aliran sungai, serta penyisiran manual ke arah hilir sejauh satu kilometer dari titik awal kejadian.

“Tim SAR gabungan telah di lokasi untuk melakukan pencarian dan saat ini cuaca cukup cerah dengan debit air sungai telah normal kembali. Semoga tim diberi kemudahan untuk segera menemukan korban,” tutup Budiono.

Apa Itu Lahar Dingin?

Lahar dingin merupakan salah satu ancaman utama pascaerupsi gunung api, termasuk di kawasan Merapi. Menurut penjelasan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lahar dingin adalah aliran material vulkanik seperti pasir, batu, kerikil, dan abu yang bercampur dengan air, umumnya berasal dari air hujan yang mengguyur lereng gunung.

Berbeda dengan lava yang keluar saat erupsi dalam kondisi panas dan berpijar, lahar dingin tidak selalu terjadi bersamaan dengan letusan. Material sisa erupsi yang menumpuk di lereng gunung dapat sewaktu-waktu terbawa air hujan deras dan mengalir mengikuti alur sungai. Karena membawa campuran batu dan pasir dalam jumlah besar, daya rusaknya sangat tinggi.

Di wilayah Merapi, sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung memang menjadi jalur alami aliran lahar. Sungai Senowo termasuk salah satu yang berada di sisi barat daya dan kerap dilalui material saat hujan dengan intensitas tinggi.

Secara karakteristik, lahar dingin memiliki kecepatan aliran yang sulit diprediksi. Dalam waktu singkat, debit air dapat meningkat drastis dan berubah menjadi arus lumpur pekat bercampur batu besar. Kendaraan berat sekalipun berisiko terseret atau tertimbun jika berada terlalu dekat dengan bantaran sungai.

Risiko di Area Penambangan

Aktivitas penambangan pasir di lereng Merapi memang sudah berlangsung lama dan menjadi sumber mata pencaharian warga sekitar. Namun, lokasi penambangan yang berada di alur sungai membuat para pekerja rentan terhadap ancaman lahar, terutama saat musim hujan.

Hujan deras yang mengguyur kawasan puncak tidak selalu langsung terasa di lokasi penambangan. Kondisi ini kerap menimbulkan risiko karena banjir lahar bisa datang tiba-tiba dari arah hulu tanpa tanda yang jelas di hilir.

Dalam kejadian Selasa sore itu, arus lahar disebut datang dengan cepat, menyeret kendaraan yang sedang beroperasi di sungai. Material berupa batu besar dan pasir tebal juga menyebabkan sejumlah alat berat dan truk tertimbun.

Selain menimbulkan korban jiwa dan hilang, peristiwa ini juga menyebabkan kerugian material yang tidak sedikit. Proses evakuasi kendaraan dan alat berat diperkirakan memerlukan waktu karena harus menunggu kondisi benar-benar aman.

Pencarian Masih Berlangsung

Hingga malam hari, tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian terhadap empat penambang yang dilaporkan hilang. Metode pencarian dilakukan secara terpadu, mulai dari penyisiran darat, pemantauan udara menggunakan drone, hingga pelibatan anjing pelacak.

Cuaca yang berangsur cerah dan debit sungai yang kembali normal memberikan peluang lebih baik bagi tim untuk memperluas area pencarian. Namun demikian, tim tetap waspada terhadap potensi hujan susulan di kawasan puncak yang bisa kembali meningkatkan debit air.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat, khususnya penambang dan warga yang beraktivitas di sepanjang aliran sungai berhulu Merapi, untuk meningkatkan kewaspadaan saat hujan turun di wilayah puncak. Informasi cuaca dan peringatan dari instansi terkait diharapkan menjadi acuan utama sebelum melakukan aktivitas di bantaran sungai.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman lahar dingin tidak hanya muncul saat erupsi, tetapi juga saat hujan deras mengguyur lereng gunung. Material sisa letusan yang masih tersimpan di atas menjadi potensi bahaya yang bisa turun sewaktu-waktu mengikuti aliran sungai.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *