Terungkap! Kenapa Tanggal 25 Jadi Hari Favorit Beli Reksa Dana

SEMARANG, top62.id — Fenomena unik terjadi di industri investasi reksa dana. Setiap memasuki tanggal 25, aktivitas transaksi cenderung meningkat signifikan. Pola ini bukan kebetulan, melainkan mencerminkan perilaku finansial masyarakat Indonesia.

Ketua Panitia SOSEDU APRDI 2026, Gresia Kusyanto, mengungkapkan bahwa lonjakan transaksi tersebut erat kaitannya dengan siklus penerimaan gaji bulanan.

Menurutnya, mayoritas investor mulai mengalokasikan dana ke instrumen investasi setelah kebutuhan utama terpenuhi, yang umumnya terjadi di akhir bulan.

“Biasanya mulai tanggal 25 hingga awal bulan berikutnya, transaksi reksa dana meningkat. Ini momentum ketika masyarakat punya dana lebih untuk investasi,” jelasnya, di Kantor Otoritas Jasa Keuangan Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026).

Fenomena ini dimanfaatkan dalam penyelenggaraan Pekan Reksa Dana 2026 yang digelar mulai 25 April hingga 1 Mei. Harapannya, masyarakat tidak hanya memahami investasi, tetapi langsung mempraktikkannya.

Di sisi lain, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah, Hidayat Prabowo, menyebut tren investasi di wilayahnya menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat.

Jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) di Jawa Tengah mencapai 2,16 juta atau sekitar 63,98 persen merupakan investor domestik. Angka ini tumbuh 38,29 persen secara tahunan.

Tak hanya jumlah investor, nilai transaksi juga melonjak tajam. Per Januari 2026, pertumbuhan penjualan reksa dana di Jawa Tengah tercatat mencapai 105,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi semakin tinggi, bahkan meningkat lebih dari satu setengah kali lipat,” ungkapnya.

Meski demikian, OJK mengingatkan pentingnya keseimbangan antara literasi dan inklusi keuangan. Tingginya minat investasi harus dibarengi pemahaman yang cukup agar masyarakat tidak salah mengambil keputusan.

“Literasi bukan sekadar mengenal produk, tapi memahami manfaat, risiko, dan kesesuaiannya dengan profil masing-masing,” tegas Hidayat.

Ia juga menambahkan, reksa dana—terutama jenis pasar uang—bisa menjadi pintu masuk bagi investor pemula karena relatif stabil dan mudah diakses.

Saat ini, kemudahan akses menjadi faktor pendorong utama. Investasi reksa dana bisa dimulai dari nominal kecil, bahkan mulai Rp10 ribu, serta dapat dilakukan secara online kapan saja.

Melalui program SOSEDU APRDI 2026, edukasi dilakukan secara masif dengan pendekatan offline dan digital, menyasar mahasiswa, jurnalis, hingga masyarakat umum.

Mengusung tema “Investasi Setenang Itu” dan kampanye #ReksaDanaAja, program ini diharapkan mampu membangun kebiasaan investasi yang lebih terencana.

Fenomena ramainya transaksi setiap tanggal 25 pun menjadi bukti bahwa masyarakat mulai menjadikan investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan rutin.

“Literasi yang kuat akan melahirkan keyakinan. Dan keyakinan akan mendorong keputusan investasi yang lebih bijak,” pungkasnya.

 

 

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *