Episode 26
DINI hari di pelabuhan utara, ketika kabut tipis menutupi air laut. Suara ombak lembut berpadu dengan derit papan dermaga. Jaka Gendra dan Raka bergerak perlahan di tepi dermaga, bersembunyi di balik tumpukan peti dan tali kapal.
“Lihat itu,” bisik Raka, menunjuk ke arah kapal-kapal kayu yang tertambat rapi. Lampu-lampu kecil di dek berpendar samar. “Ini armada mereka… Perguruan Bayangan Krawang menyembunyikan sesuatu di kapal-kapal itu.”
Jaka mengamati. Suara Gendra muncul di dalam dirinya:
Hati-hati… setiap gerakan mereka diawasi.
Ia mengangguk pelan. Kuda-kuda dan napasnya menenangkan energi yang berdenyut di tubuhnya. Setiap langkah harus diperhitungkan—jangan sampai ketahuan.
Mereka menyusuri gang sempit di sisi dermaga. Bayangan bergerak cepat di antara kapal-kapal; beberapa orang berseragam gelap tampak mengawasi, sementara anjing penjaga berderik menambah ketegangan.
“Raka, kau bisa mencari jalur masuk ke kapal besar itu?” tanya Jaka.

Raka mengangguk. “Ada lorong kecil di sisi utara. Tidak banyak yang tahu. Tapi… aku merasakan ada jebakan di dekat sana. Mereka sengaja membuat penghalang dan alarm sederhana.”
Jaka tersenyum tipis. “Bagus. Itu artinya kita punya waktu untuk pengintaian sebelum mereka sadar.”
Mereka bergerak lebih dekat. Jaka mencondongkan tubuh, memanfaatkan bayangan untuk menutupi langkahnya. Setiap desah napasnya diatur, energi Gendra di dalamnya tetap stabil, siap dilepaskan bila diperlukan.
Dari atas dek, dua penjaga terlihat sedang berbicara. Suara mereka lembut, tapi Jaka menangkap kata-kata: “…siap mengawasi gulungan…”
Jaka menelan ludah. Artinya, perguruan itu sudah mengetahui adanya gulungan kuno yang mereka bawa. Raka memberi isyarat untuk tetap diam.
Mereka berhenti di belakang tumpukan peti. Raka mencondongkan tubuh, mengintip lorong kecil. “Kita bisa masuk… tapi kalau ketahuan, kapal itu akan dijaga semua orang. Mereka menunggu satu sinyal.”
Jaka menatap Raka. “Kalau begitu, kita harus cerdas. Bukan hanya tenaga, tapi strategi. Setiap langkah kita harus membuat mereka lengah.”
Tiba-tiba, suara langkah lain terdengar dari arah yang berbeda. Bayangan tambahan muncul, lebih banyak dari yang mereka perkirakan. Raka menahan napasnya, matanya melebar.
Jaka menenangkan diri. Suara Gendra di kepalanya muncul tegas:
Pertarungan ini bukan hanya fisik… tapi siapa yang lebih dulu memahami pola lawan akan menang.

Mereka mundur perlahan ke balik peti, menyusun rencana. Jaka tahu, di kota pelabuhan ini, bahkan satu kesalahan kecil bisa berarti kematian atau rahasia kuno mereka jatuh ke tangan Perguruan Bayangan.
Raka menatap Jaka dengan serius. “Kau siap?”
Jaka menatap laut yang gelap, napasnya stabil. “Siap. Ini baru permulaan. Kita harus menelusuri dalang mereka… dan kita akan menemukannya.”
Kabut malam semakin tebal. Bayangan kapal dan lampu lentera menari di permukaan laut. Di antara riuh angin dan suara ombak, Jaka merasa satu hal pasti: pertarungan di pelabuhan utara akan menentukan langkah mereka berikutnya—dan rahasia kuno itu akan menjadi kunci seluruh konflik.
BERSAMBUNG