Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 22: Bayangan yang Mengikuti

 

Episode 22

 

HUTAN kembali sunyi setelah tiga orang bertopeng dari Perguruan Bayangan Krawang menghilang di antara pepohonan. Hanya suara angin yang bergerak di sela dedaunan dan gemericik air dari sungai kecil di dasar lembah yang terdengar.

Jaka Gendra masih berdiri dalam posisi siaga.

Napasnya perlahan kembali teratur.

Namun matanya tetap menatap ke arah hutan tempat para penyerang tadi menghilang.

“Guru,” katanya pelan.

Resi Wiradarma tidak langsung menjawab.

Ia masih memandang jauh ke dalam rimbunnya pepohonan.

“Apa mereka akan kembali?” tanya Jaka.

Sang resi akhirnya mengalihkan pandangannya.

“Pasti.”

Jawaban itu begitu tenang, tetapi terasa berat.

Jaka mengerutkan dahi.

“Kalau begitu kenapa mereka mundur?”

Resi Wiradarma menarik napas perlahan.

“Karena mereka sudah mendapatkan yang mereka inginkan.”

***

 

Jaka teringat kembali kata-kata pria bertopeng itu.

“Kami hanya ingin memastikan sesuatu.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Mereka ingin memastikan bahwa Gendra benar-benar ada di dalam tubuhku.”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Dan sekarang mereka sudah yakin.”

Angin dari arah gunung berembus lebih kencang.

Dahan-dahan pohon bergoyang perlahan.

Suasana hutan terasa lebih dingin dari sebelumnya.

***

Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri lembah.

Langkah mereka kini lebih cepat.

Resi Wiradarma tampak ingin segera meninggalkan tempat itu.

“Guru,” kata Jaka lagi.

“Apa perguruan itu benar-benar sekuat yang Guru katakan?”

Resi Wiradarma tidak langsung menjawab.

Beberapa saat ia hanya berjalan sambil memperhatikan jalan setapak di depan mereka.

“Perguruan Bayangan Krawang tidak terkenal karena jumlah muridnya,” katanya akhirnya.

“Lalu?”

“Karena pengetahuan mereka.”

Jaka menoleh.

“Pengetahuan?”

Sang resi mengangguk.

“Mereka mempelajari banyak ilmu yang tidak dipelajari oleh perguruan lain.”

“Ilmu apa?”

“Ilmu yang berkaitan dengan roh.”

***

 

Langkah Jaka sedikit melambat.

“Roh… seperti Gendra?”

“Ya.”

Resi Wiradarma berhenti sejenak di tepi tebing kecil yang menghadap ke lembah luas di bawah.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan.

“Beberapa puluh tahun lalu,” lanjutnya, “perguruan itu mulai mencari cara untuk memanfaatkan kekuatan roh kuno.”

Jaka merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.

Suara Gendra muncul pelan.

Manusia selalu ingin menguasai apa yang tidak mereka pahami.

Jaka menahan napas.

Namun ia tidak menjawab suara itu.

***

 

Resi Wiradarma melanjutkan,

“Banyak orang percaya bahwa roh seperti Gendra hanya legenda.”

“Namun mereka tidak percaya begitu saja.”

“Mereka mencari bukti.”

Jaka memandang gurunya dengan serius.

“Dan sekarang mereka menemukannya.”

Resi Wiradarma menatap langsung ke mata Jaka.

“Ya.”

***

 

Beberapa saat mereka terdiam.

Angin dari lembah membawa aroma tanah dan dedaunan basah.

Jaka merasakan beban yang semakin besar di dadanya.

“Guru,” katanya perlahan.

“Apakah mereka ingin membunuhku?”

Resi Wiradarma menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Mereka ingin sesuatu yang ada di dalam dirimu.”

Jaka langsung memahami.

“Gendra.”

Sang resi mengangguk.

***

 

Tiba-tiba langkah Resi Wiradarma berhenti lagi.

Ia memandang ke arah lereng di sisi timur.

Jaka mengikuti arah pandangannya.

Di kejauhan, di antara batang-batang pohon yang tinggi, terlihat sesuatu bergerak.

Sebuah bayangan hitam.

Cepat.

Hanya sesaat.

Namun cukup untuk membuat Jaka menyadari satu hal.

“Mereka masih mengikuti kita.”

Resi Wiradarma tidak terlihat terkejut.

“Sudah kuduga.”

***

Sang resi lalu berbalik dan menatap Jaka dengan lebih serius dari sebelumnya.

“Kita tidak bisa terus berjalan seperti ini.”

“Maksud Guru?”

“Mereka akan terus mengawasi sampai waktu yang tepat.”

Jaka mengepalkan tangannya.

“Kalau begitu kita hadapi saja mereka.”

Resi Wiradarma tersenyum tipis.

“Kau belum siap menghadapi seluruh perguruan itu.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Sang resi memandang ke arah puncak gunung yang terlihat jauh di utara.

“Ada satu tempat yang harus kita datangi.”

“Tempat apa?”

Resi Wiradarma menjawab pelan,

“Tempat di mana kekuatan seperti Gendra pernah disegel.”

Jaka merasakan getaran kuat di dalam tubuhnya.

Seolah tubuhnya sendiri mengenali kata-kata itu.

Suara Gendra muncul lagi.

Lebih jelas dari sebelumnya.

Ya…

Di sana semuanya bermula.

Jaka menatap ke arah utara.

Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa perjalanan mereka tidak sekadar menghindari musuh.

Mereka sedang menuju rahasia yang jauh lebih tua dari Perguruan Bayangan Krawang.

Dan rahasia itu…

mungkin berhubungan langsung dengan dirinya.

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *