Oleh: Eni Kaharti
GAGASAN tentang circular economy semakin relevan di tengah tantangan global yang menuntut efisiensi sumber daya dan keberlanjutan. Konsep ini menekankan penghematan energi, pengurangan konsumsi berlebih, serta pemanfaatan kembali barang bekas hingga mendekati kondisi zero waste. Bagi Indonesia, konsep ini bukan sekadar wacana global, melainkan kebutuhan nyata yang dapat dimulai dari level paling sederhana: rumah tangga.
Dalam kehidupan sehari-hari, pemborosan sumber daya masih menjadi persoalan umum—mulai dari penggunaan air bersih, listrik, hingga makanan yang terbuang sia-sia. Tanpa pengelolaan yang tepat, pola konsumsi seperti ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak pada lingkungan dan ekonomi secara luas. Di sinilah circular economy menawarkan solusi: mengubah limbah menjadi sumber daya baru yang bernilai.
Namun, implementasi konsep ini tidak cukup hanya melalui kampanye atau imbauan. Dibutuhkan pendekatan sistematis yang dimulai dari dunia pendidikan. Sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai keberlanjutan kepada generasi muda sejak dini. Integrasi circular economy dalam kurikulum, dari tingkat dasar hingga menengah, akan membentuk pola pikir yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengelola sumber daya.
Agar implementasi ini berjalan efektif, diperlukan dukungan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pendidikan yang terintegrasi. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai pengelola administrasi pendidikan, tetapi juga sebagai pengolah big data yang mencakup data siswa, tenaga pengajar, kurikulum, hingga output pembelajaran. Dengan sistem yang akuntabel, pemerintah dapat memetakan kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia secara nasional.
Lebih dari itu, SIM Pendidikan berbasis circular economy dapat menjadi jembatan antara teori dan praktik. Siswa tidak hanya diajarkan konsep, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Misalnya, pengolahan limbah plastik menjadi pot tanaman, pemanfaatan barang bekas untuk budidaya ikan, hingga pengelolaan hasil panen sederhana seperti sayur atau buah.
Proses pembelajaran ini bersifat siklus: dari pengolahan bahan bekas, produksi, konsumsi, hingga pengelolaan kembali sisa hasil. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep keberlanjutan, tetapi juga menguasai keterampilan hidup (life skills) yang aplikatif.
Nilai tambah dari pendekatan ini adalah potensi ekonomi. Produk hasil pengolahan dapat dikembangkan menjadi usaha sederhana. Dari sinilah circular economy bertransformasi menjadi sumber kemandirian finansial. Generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang ekonomi berbasis sumber daya yang tersedia di sekitarnya.
Konteks ini menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan isu bonus demografi. Indonesia diproyeksikan memiliki sekitar 318 juta penduduk pada 2045, dengan mayoritas berada pada usia produktif. Kondisi ini dapat menjadi kekuatan besar, tetapi juga berpotensi menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik.
Bonus demografi pada dasarnya adalah peluang sekaligus tantangan. Tanpa keterampilan yang memadai, jumlah penduduk usia produktif justru dapat meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan. Sebaliknya, jika dibekali keterampilan hidup dan kewirausahaan sejak dini, mereka dapat menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Di sinilah peran pendidikan menjadi krusial. Sekolah tidak lagi cukup hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus membekali mereka dengan kemampuan bertahan hidup—terutama dalam hal ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi. Kemampuan mengolah sumber daya, berhemat, memproduksi, hingga mengomersialkan hasil menjadi kompetensi yang harus dimiliki.
Integrasi SIM Pendidikan dengan pendekatan circular economy menawarkan solusi jangka panjang. Sistem ini memungkinkan pembelajaran yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Jika diterapkan secara nasional, konsep ini berpotensi menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi, tangguh menghadapi krisis, dan mampu mengelola sumber daya secara bijak.
Pada akhirnya, kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya. Dengan membangun generasi yang memiliki kesadaran keberlanjutan dan keterampilan praktis, Indonesia tidak hanya siap menghadapi tantangan global, tetapi juga mampu mewujudkan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.
Eni Kaharti, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Semarang tahun Angkatan Tahun 2025