SEMARANG, top62.id – Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat dukungan terhadap pendidikan dan kesejahteraan santri. Yayasan Alfatihah melalui program AQSI (Al-Qur’an Santri) dan Ekspedisi Quran berkolaborasi dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta PWNU Jawa Tengah meluncurkan program Alquran dan Gizi untuk Santri (AGUS).
Program tersebut diluncurkan di Pondok Pesantren Al-Uswah, Gunungpati, Semarang, Minggu (8/3/2026).
Dalam program tersebut disalurkan mushaf Alquran senilai sekitar Rp10 miliar serta 12.500 butir telur untuk para santri. Kegiatan launching ditandai dengan penyerahan simbolis mushaf Alquran kepada santri, dilanjutkan doa bersama, buka puasa, salat berjamaah, serta silaturahmi antara ulama, tamu undangan, dan para santri.
Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf mengatakan program tersebut menjadi upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi santri di pesantren.
“Kemampuan kita untuk berakselerasi memberi makan santri mungkin masih belum berimbang. Maka dengan adanya Gerakan AGUS ini bisa menambal adanya ketimpangan belum mendapatnya program MBG, khususnya untuk santri,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa perhatian terhadap gizi santri sangat penting, mengingat masih terdapat tantangan kesehatan di lingkungan pesantren.
“Terdapat sekitar 19 persen santri terdata memiliki gejala anemia, yang salah satunya dipengaruhi oleh kebutuhan gizi yang belum terpenuhi secara optimal,” katanya.
Distribusi 100 Ribu Alquran
Manager Proyek Ekspedisi Quran Yayasan Alfatihah, Nalurita Firdausyah, menjelaskan dalam program tersebut juga dilakukan distribusi mushaf Alquran untuk pesantren yang membutuhkan.
“Untuk programnya sendiri mendistribusikan 100.000 Alquran yang nantinya dikirimkan secara bertahap,” ujarnya.
Pada tahap pertama, sebanyak 5.860 mushaf Alquran disalurkan kepada sejumlah pesantren di wilayah Semarang dan sekitarnya yang hadir dalam kegiatan launching tersebut.
Menurut Nalurita, program ini bertujuan membantu pesantren yang masih kekurangan mushaf Alquran sekaligus mendukung lahirnya generasi Qurani.
“Tujuannya untuk membantu ponpes-ponpes yang masih kekurangan Alquran dan juga untuk mencetak generasi Qurani,” jelasnya.
Donatur Didokan Santri
Sementara itu, Manager Program AQSI, Meida Yusna Ilmiah, mengatakan setiap mushaf Alquran yang diwakafkan donatur akan didoakan langsung oleh para santri penghafal Alquran.
“Setiap donatur yang mewakafkan mushaf akan mendapatkan doa langsung dari santri penghafal Alquran. Nama wakif dan doa dari donatur juga dituliskan di setiap mushaf,” ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian dari amal jariah bagi para donatur yang mewakafkan Alquran.
“Ketika mushaf itu dibaca oleh santri, maka doa untuk wakif juga akan dibacakan. Itu menjadi amal jariah bagi para donatur,” katanya.
Ia menambahkan, program wakaf Alquran tersebut mendapat dukungan donatur dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Papua, Jakarta hingga Jawa Timur.
Program AQSI sendiri telah berjalan sejak 2019 dan hingga kini telah membantu ribuan pesantren yang membutuhkan mushaf Alquran.
“Tidak sedikit santri di pesantren yang masih belajar dengan mushaf yang sudah usang bahkan harus bergantian. Dari situlah program ini lahir untuk membantu mencukupi kebutuhan Alquran di pesantren,” ujarnya.