EPISODE 19
LANGIT malam di pegunungan Krawang tampak bersih tanpa awan. Bintang-bintang bertebaran seperti butiran pasir perak di bentangan hitam yang luas.
Di sebuah dataran batu yang dikelilingi pohon-pohon besar, Jaka Gendra berdiri sendirian.
Tubuhnya tegak. Kedua kakinya menapak kuat di tanah. Tangannya perlahan bergerak membuka ke samping.
Ia sedang melatih kembali Jurus Nafas Bumi.
Angin gunung berembus perlahan, menyapu dedaunan yang bergesekan halus di kegelapan malam.
Dari kejauhan, Resi Wiradarma duduk bersila di bawah pohon besar. Mata sang resi terpejam, tetapi kesadarannya mengikuti setiap gerakan muridnya.
Sudah beberapa hari sejak pertemuan mereka dengan orang-orang dari Perguruan Bayangan Krawang.
Sejak malam itu pula, latihan Jaka berubah.
Bukan hanya kekuatan tubuh.
Tetapi juga pengendalian Gendra yang hidup di dalam dirinya.
***
Jaka menarik napas panjang.
Udara malam yang dingin masuk perlahan ke dalam paru-parunya.
Ia menahan napas itu.
Kemudian mengalirkannya ke seluruh tubuh.
Kaki.
Pinggang.
Dada.
Tangan.

Setiap aliran tenaga mengikuti jalur yang diajarkan Resi Wiradarma.
Nafas Bumi.
Jurus dasar perguruan.
Jurus yang dulu terasa sederhana.
Namun kini, setelah Gendra bangkit di dalam dirinya, jurus itu terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Seolah tanah di bawah kakinya benar-benar hidup.
Jaka menghembuskan napas perlahan.
Debu tipis di sekitar kakinya bergetar.
Daun-daun kering bergeser beberapa jengkal.
Resi Wiradarma membuka matanya.
Tatapan sang resi tenang, namun penuh perhatian.
“Bagus,” gumamnya lirih.
***
Namun di dalam tubuh Jaka, sesuatu bergerak.
Suara itu kembali.
Suara yang pernah ia dengar sebelumnya.
Suara berat, tua, namun penuh tenaga.
Masih terlalu lemah.
Jaka mengerutkan dahi.
Tenagamu belum cukup untuk menghadapi mereka.
Jaka tetap mempertahankan gerakannya.
“Diam,” bisiknya pelan.
Ia sudah mulai terbiasa dengan suara itu.
Gendra.
Roh leluhur yang berdiam di dalam dirinya.
Dulu suara itu terasa menakutkan.
Kini tidak lagi.
Kini suara itu seperti bayangan yang selalu mengikuti.
Kadang mengganggu.
Kadang membantu.
Jika kau terus menahan diriku, kau akan kalah.
Jaka menarik napas lagi.
Kali ini lebih dalam.
“Aku tidak menahanmu,” kata Jaka pelan.
“Aku mengendalikanmu.”
Suara itu terdiam sejenak.
Kemudian terdengar tawa rendah.
Menarik.
***
Resi Wiradarma perlahan berdiri.
Ia melangkah mendekati Jaka.
“Bagaimana rasanya?” tanya sang resi.
Jaka membuka mata.
“Ada suara lagi.”
Resi Wiradarma mengangguk pelan.
“Itu wajar.”
Jaka memandang gurunya.
“Kadang ia ingin mengambil alih.”
“Itu juga wajar.”
Jaka mengerutkan dahi.
“Kalau suatu saat aku kalah?”
Resi Wiradarma menatapnya tajam.
“Kalau kau kalah…”
Sang resi berhenti sejenak.
“…maka yang berdiri di sini bukan lagi Jaka.”
Angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
***
Tiba-tiba Jaka merasakan sesuatu.
Ia menoleh ke arah hutan.
Daun-daun bergerak.
Bukan karena angin.
Seseorang datang.
Resi Wiradarma juga merasakannya.
Tatapan sang resi langsung mengeras.
“Tampaknya tamu kita datang lebih cepat.”
Dari balik pepohonan, tiga bayangan muncul.
Langkah mereka ringan.
Namun penuh ancaman.
Mereka berhenti beberapa langkah dari Jaka dan Resi Wiradarma.
Tiga orang yang sama.
Topeng gelap.
Pakaian hitam panjang.
Orang-orang dari Perguruan Bayangan Krawang.
Yang berdiri di tengah adalah pria bertubuh tinggi yang pernah berbicara malam sebelumnya.
Suara seraknya kembali terdengar.
“Kami sudah bilang,” katanya dingin.
“Kami akan kembali.”
Resi Wiradarma melangkah sedikit ke depan.
“Apa yang kalian cari?”
Pria bertopeng itu menunjuk Jaka.
“Dia.”
Jaka tidak bergerak.
Tatapannya tenang.
“Kenapa?”
Pria itu tertawa pendek.
“Karena kami merasakan sesuatu di dalam tubuhmu.”
Ia sedikit memiringkan kepala.
“Sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki manusia biasa.”
Resi Wiradarma berkata tegas.
“Kalian tidak berhak menilai.”
Pria itu mengangkat tangannya.
Dua orang di belakangnya langsung menyebar.
Gerakan mereka cepat.
Dalam sekejap, mereka sudah mengelilingi Jaka.
“Sayang sekali,” kata pria itu.
“Kami tidak datang untuk menilai.”
Ia berhenti sejenak.
“Kami datang untuk membawanya.”
***
Jaka perlahan mengambil posisi kuda-kuda.
Telapak tangannya terbuka.
Posisi Jurus Nafas Bumi.
Pria bertopeng memperhatikan dengan mata tajam.
“Ah.”
“Jurus tanah.”

“Menarik.”
Salah satu anggota Bayangan Krawang tiba-tiba bergerak.
Cepat.
Tangannya menyambar ke arah bahu Jaka.
Jaka langsung mengalirkan napasnya.
Kakinya menekan tanah.
Tubuhnya berputar.
Serangan itu meleset.
Dalam satu gerakan halus, telapak tangan Jaka mendorong dada lawannya.
DUM!
Pria bertopeng itu terpental beberapa langkah.
Namun ia tidak jatuh.
Ia justru tersenyum di balik topengnya.
“Lumayan.”
Anggota kedua langsung menyerang.
Gerakannya lebih cepat.
Serangan beruntun ke arah pinggang dan leher.
Jaka bertahan.
Ia tidak menyerang balik.
Ia hanya mengalirkan tenaga seperti yang diajarkan dalam Nafas Bumi.
Serangan datang.
Tenaga diserap.
Dialirkan ke tanah.
Namun lawannya bukan orang biasa.
Salah satu serangan berhasil menyentuh bahu Jaka.
Tubuhnya terdorong mundur.
Tanah berderak di bawah kakinya.
Resi Wiradarma memperhatikan dengan tajam.
Ia belum bergerak.
Ini adalah ujian.
***
Di dalam tubuh Jaka, Gendra kembali berbicara.
Biarkan aku.
Jaka menahan napasnya.
“Belum.”
Serangan berikutnya datang lebih keras.
Jaka hampir kehilangan keseimbangan.
Jika kau terus menolak, kau akan kalah.
Jaka menggeram pelan.
Ia menghentakkan kakinya ke tanah.
DUK!
Tenaga Nafas Bumi meledak.
Tanah di sekitarnya bergetar.
Serangan lawan terpental oleh gelombang tenaga itu.
Ketiga orang Bayangan Krawang mundur beberapa langkah.
Pria bertopeng yang memimpin mereka menatap Jaka lebih serius sekarang.
“Jadi benar.”
“Gendra.”
Jaka menatapnya dingin.
“Pergi dari sini.”
Pria itu tertawa rendah.
“Kau bahkan belum tahu siapa kami sebenarnya.”
Ia melangkah maju.
Lambat.
Namun setiap langkahnya terasa berat.
Seperti bayangan yang merayap.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
Ia berhenti beberapa langkah dari Jaka.
“Apakah roh itu benar-benar telah memilihmu.”
Jaka tidak menjawab.
Pria itu mengangkat tangannya.
Energi gelap mulai berputar di sekitar tubuhnya.
Resi Wiradarma akhirnya melangkah maju.
Suaranya tenang, namun penuh peringatan.
“Cukup.”
Angin di dataran itu tiba-tiba berubah arah.
Pria bertopeng itu menoleh ke arah sang resi.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Kemudian ia tertawa lagi.
“Kami akan kembali.”
Ia menurunkan tangannya.
“Dan saat itu…”
Ia menunjuk Jaka sekali lagi.
“…anak ini harus memilih.”
“Menjadi manusia.”
“Atau menjadi Gendra sepenuhnya.”
Tiga sosok itu lalu melompat mundur.
Dalam beberapa detik saja mereka sudah lenyap di dalam hutan.
Hanya suara dedaunan yang tersisa.
***
Jaka masih berdiri dengan napas berat.
Resi Wiradarma menatap ke arah hutan.
“Mereka tidak menyerang dengan sungguh-sungguh,” kata sang resi.
Jaka mengangguk.
“Mereka hanya menguji.”
Resi Wiradarma menatapnya.
“Dan mereka sudah melihat apa yang mereka cari.”
Jaka memandang tangannya sendiri.
Di telapak tangannya, tanah masih bergetar halus.
Suara Gendra terdengar lagi.
Ini baru permulaan.
Jaka mengangkat wajahnya ke langit malam.
“Kalau begitu,” katanya pelan.
“Kita juga baru mulai.”
Di kejauhan, seekor burung malam terbang melintas di atas pegunungan Krawang.
Dan untuk pertama kalinya…
bayangan perang besar mulai terasa nyata.
***
BERSAMBUNG