EPISODE 17
RAKSA Wening menurunkan tangannya perlahan.
Isyarat itu cukup.
Sepuluh anggota Perguruan Bayangan Krawang langsung bergerak serempak.
Langkah mereka ringan seperti bayangan yang meluncur di atas tanah berbatu.
Sekar Laras menggeser posisi sedikit ke depan.
Pedangnya terangkat.
“Kali ini mereka tidak main-main,” gumamnya.
Resi Wiradarma tetap tenang.
Namun sorot matanya berubah tajam.
“Jaga posisi kalian.”
Jaka Gendra tidak menjawab.
Ia sudah menurunkan pusat tubuhnya.
Kuda-kuda rendah.
Telapak kaki menekan tanah dengan kuat.
Tarik napas.
Tahan.
Lepaskan perlahan.
Jurus Nafas Bumi.
Getaran tanah langsung terasa jelas di telapak kakinya.
Sepuluh lawan bergerak dalam pola yang rapi.
Empat menyerang Jaka.
Tiga menuju Sekar Laras.
Tiga lainnya mengincar Resi Wiradarma.
Raksa Wening tetap berdiri di tempatnya.
Mengamati.
Penyerang pertama melompat ke arah Jaka dengan pedang pendek yang mengarah lurus ke dada.
Namun sebelum pedang itu mencapai sasaran—
Jaka bergerak.
Tubuhnya tidak mundur.
Ia justru melangkah masuk.
Tangannya menepis pergelangan lawan dengan gerakan pendek.
Tenaga dari kuda-kuda yang menancap kuat membuat tepisan itu terasa berat.
Pedang lawan melenceng.
Jaka langsung memutar tubuh.
Siku kanannya menghantam dada penyerang itu.
DUK!

Orang itu terpental beberapa langkah.
Namun tiga penyerang lain sudah masuk.
Satu menyapu kaki.
Satu menusuk dari samping.
Satu lagi meloncat dari belakang.
Jaka menarik napas lebih dalam.
Nafas Bumi mengalir deras melalui tubuhnya.
Ia menekan kakinya ke tanah.
Debu kecil terangkat.
Gerakannya berubah.
Ia tidak lagi sekadar menangkis.
Ia mulai mengalihkan tenaga lawan ke tanah.
Tendangan yang menyapu kakinya ia tahan dengan tumit yang menekan kuat.
Tubuhnya hanya bergeser sedikit.
Tusukan pedang dari samping ia tangkis dengan lengan kiri.
Lalu tangan kanannya mendorong dada penyerang itu.
Tenaga yang mengalir dari tanah membuat dorongan itu seperti hantaman batu.
Penyerang itu jatuh berguling.
Sementara itu di sisi kiri, Sekar Laras sudah terlibat pertarungan sengit dengan tiga lawan.
Pedangnya bergerak cepat.
Setiap tebasan tajam dan akurat.
Namun lawan-lawannya tidak mudah ditaklukkan.
Mereka bergerak seperti bayangan yang selalu menghindari serangan langsung.
“Licik!” seru Sekar Laras.
Ia memutar tubuh dan menendang salah satu penyerang.
Namun dua lainnya langsung menekan dari sisi berbeda.
Di sisi kanan, Resi Wiradarma menghadapi tiga orang sekaligus.
Namun berbeda dengan yang lain.
Beliau tidak terlihat terburu-buru.
Setiap langkahnya ringan.
Setiap gerakannya sederhana.
Namun setiap serangan lawan selalu meleset beberapa jari.
Satu sentuhan telapak tangan membuat penyerang pertama mundur dua langkah.
Putaran tubuh kecil membuat pedang penyerang kedua terlepas dari tangan.
Penyerang ketiga mencoba menyerang dari belakang.
Namun Resi Wiradarma hanya menepuk bahunya.
Orang itu langsung kehilangan keseimbangan.
Raksa Wening memperhatikan semua itu dengan tenang.
Namun matanya lebih sering tertuju pada Jaka Gendra.
Di tengah pertempuran, Jaka mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Tanah di bawah kakinya terasa semakin hidup.
Getaran kecil menjalar dari batu ke batu.
Ia bisa merasakan setiap langkah lawan bahkan sebelum mereka benar-benar menyerang.
Penyerang terakhir melompat tinggi.
Pedangnya menebas dari atas.
Jaka menggeser tubuh sedikit.
Pedang itu menghantam tanah.
Pada saat yang sama—
Jaka menghentakkan telapak tangannya ke tanah.
BRAK!
Tenaga dalam yang mengalir melalui Nafas Bumi meledak keluar.
Debu dan kerikil terangkat.
Penyerang di dekatnya kehilangan keseimbangan.
Sekar Laras yang melihat itu berseru,
“Jaka!”
Ia belum pernah melihat dorongan tenaga seperti itu sebelumnya.
Raksa Wening menyipitkan mata.
“Menarik…”
Namun Jaka sendiri tampak terkejut.
Ia tidak menyangka tenaga itu bisa keluar begitu kuat.
Resi Wiradarma berkata keras dari sisi lain,
“Jangan kehilangan kendali!”
Jaka mengangguk cepat.
Ia kembali menurunkan napasnya.
Namun di dalam tubuhnya—
Energi lain ikut bergerak.
Gendra.

Getaran itu muncul seperti gelombang panas di dalam dadanya.
Seolah roh yang berdiam di dalam tubuhnya ikut bereaksi terhadap pertarungan.
Raksa Wening tersenyum tipis.
“Jadi akhirnya bangkit juga.”
Ia melangkah maju untuk pertama kalinya.
Langkahnya tenang.
Namun tekanan dari tubuhnya langsung terasa di seluruh dataran.
Sekar Laras langsung menyadarinya.
“Dia akhirnya turun tangan.”
Resi Wiradarma juga berhenti bergerak.
Matanya tertuju pada Raksa Wening.
“Jaka.”
Suaranya rendah.
“Yang satu itu bukan lawan biasa.”
Raksa Wening berhenti sekitar lima langkah dari Jaka Gendra.
Ia menatap pemuda itu lama.
“Energi itu memang nyata.”
Jaka tidak menjawab.
Ia tetap dalam kuda-kuda Nafas Bumi.
Raksa Wening mencabut pedangnya perlahan.
Pedang itu hitam pekat, seperti menyerap cahaya.
“Kalau begitu aku sendiri yang akan memastikan.”
Sekar Laras hendak maju.
Namun Resi Wiradarma menahannya dengan tangan.
“Biarkan Jaka menghadapi langkah pertama.”
Jaka menatap Raksa Wening dengan tenang.
Napasnya perlahan turun.
Tanah di bawah kakinya terasa mantap.
Raksa Wening mengangkat pedangnya.
“Datanglah.”
Jaka tidak bergerak.
Namun di dalam tubuhnya—
Energi Gendra mulai berdenyut semakin kuat.
Pertarungan yang sebenarnya akhirnya akan dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, Jaka Gendra harus menghadapi seorang lawan yang benar-benar mampu menguji batas kekuatannya.
Di depan Gerbang Batu Tua yang menyimpan rahasia masa lalu itu.
***
BERSAMBUNG