Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 16: Gerbang Batu Tua

 

EPISODE 16

 

SUARA air menetes perlahan dari celah-celah batu.

Tet…

Tet…

Tet…

Di dalam lembah sempit yang mereka tinggalkan, gema pertarungan sudah lama hilang. Namun perjalanan Jaka Gendra, Resi Wiradarma, dan Sekar Laras belum berhenti.

Kini mereka berjalan menyusuri lereng yang lebih curam.

Tanah di jalur itu keras dan berbatu, dipenuhi akar pohon yang menjulur seperti ular raksasa.

Sekar Laras berjalan paling depan.

“Setelah punggung bukit ini,” katanya tanpa menoleh, “kita akan sampai di wilayah yang jarang dimasuki orang.”

Jaka Gendra mengikuti dari belakang sambil menjaga napasnya tetap stabil.

Tarik perlahan.

Tahan.

Lepaskan.

Jurus Nafas Bumi terus ia jalankan bahkan saat berjalan.

Sejak pertarungan di lembah, ia merasakan sesuatu berubah.

Tenaga dalam tubuhnya terasa lebih berat.

Lebih padat.

Namun juga lebih mudah dikendalikan.

Resi Wiradarma yang berjalan di tengah barisan memperhatikan itu.

“Jangan terlalu memaksa,” kata beliau pelan.

Jaka mengangguk.

“Saya hanya mencoba menjaga ritme napas.”

Resi Wiradarma tersenyum tipis.

“Itu bagus. Tapi ingat, Nafas Bumi bukan hanya soal kekuatan.”

“Apa lagi, Guru?”

“Kesabaran.”

Sekar Laras yang mendengar dari depan tertawa kecil.

“Kalau begitu Jaka masih harus belajar banyak.”

Jaka mengangkat alis.

“Kenapa?”

Sekar Laras melirik ke belakang.

“Karena dari tadi wajahmu seperti orang yang sedang menahan amarah.”

Jaka tidak bisa membantah.

Sejak Raksa Wening muncul, pikirannya memang tidak tenang.

Ia masih mengingat tatapan pria itu.

Tatapan seseorang yang yakin bahwa mereka akan bertemu lagi.

Beberapa saat kemudian jalur yang mereka lalui berubah.

Pepohonan semakin jarang.

Batu-batu besar muncul di mana-mana.

Lalu mereka tiba di sebuah dataran kecil di lereng gunung.

Di tengah dataran itu berdiri sesuatu yang tidak mereka duga.

Sebuah gerbang batu tua.

Gerbang itu tinggi hampir tiga kali tinggi manusia.

Bentuknya sederhana, tetapi dipenuhi ukiran yang sudah terkikis oleh waktu.

Jaka Gendra mendekat perlahan.

Tangannya menyentuh permukaan batu yang dingin.

Ukiran di sana tampak seperti pola pusaran.

Namun semakin ia perhatikan, pola itu menyerupai sosok manusia yang sedang berdiri dengan kedua tangan terbuka.

Resi Wiradarma juga mendekat.

Beliau menatap ukiran itu lama sekali.

“Tempat ini…”

Sekar Laras memandang sekeliling.

“Gerbang seperti ini biasanya menandai wilayah tua.”

“Wilayah apa?” tanya Jaka.

Resi Wiradarma menjawab pelan.

“Wilayah para pendekar lama.”

Jaka menatap gurunya.

“Maksud Guru… tempat ini berkaitan dengan roh Gendra?”

Resi Wiradarma tidak langsung menjawab.

Beliau mengangkat tangannya dan menyentuh ukiran itu.

Beberapa detik kemudian ia menarik napas panjang.

“Ya.”

Jaka merasakan dadanya bergetar.

Energi di dalam tubuhnya tiba-tiba bergerak lebih kuat.

Seperti ada sesuatu yang merespons keberadaan gerbang itu.

Sekar Laras menyadari perubahan itu.

“Jaka…”

Jaka memejamkan mata sebentar.

Getaran itu semakin jelas.

Bukan sakit.

Lebih seperti panggilan.

Resi Wiradarma memperhatikan dengan serius.

“Ini pertama kalinya?”

Jaka mengangguk.

“Saya belum pernah merasakan seperti ini.”

Resi Wiradarma berkata pelan,

“Berarti kita memang sudah dekat.”

Sekar Laras mengernyit.

“Dekat dengan apa?”

Resi Wiradarma menunjuk ke balik gerbang batu itu.

“Tempat di mana jejak kekuatan Gendra pernah ditinggalkan.”

Jaka membuka mata.

Ia menatap ke balik gerbang.

Di sana terlihat jalur sempit yang masuk lebih dalam ke gunung.

Namun sebelum mereka melangkah—

Jaka tiba-tiba menegang.

Sekar Laras langsung sadar.

“Ada apa?”

Jaka menekan telapak kakinya ke tanah.

Nafas Bumi.

Getaran tanah langsung terasa.

Bukan satu.

Bukan dua.

Banyak.

Jaka membuka mata.

“Mereka datang lagi.”

Sekar Laras mengumpat pelan.

“Bayangan Krawang?”

Jaka mengangguk.

“Lebih banyak dari sebelumnya.”

Resi Wiradarma menghela napas.

“Tampaknya Raksa Wening tidak ingin kita melewati gerbang ini.”

Beberapa detik kemudian suara langkah kaki terdengar dari balik pepohonan.

Satu demi satu sosok berpakaian hitam muncul.

Sepuluh orang.

Lalu satu lagi berjalan keluar dari tengah barisan.

Raksa Wening.

Ia berhenti beberapa langkah dari gerbang batu.

Tatapannya langsung tertuju pada Jaka Gendra.

“Seperti yang kuduga.”

Ia menatap gerbang itu.

“Kalian benar-benar menuju tempat ini.”

Sekar Laras mencabut pedangnya.

“Kali ini kau membawa lebih banyak anjing.”

Raksa Wening tersenyum tipis.

“Kali ini aku tidak datang untuk menguji.”

Ia menunjuk gerbang batu.

“Tempat itu tidak boleh dibuka.”

Resi Wiradarma maju selangkah.

“Kenapa?”

Raksa Wening menatapnya dingin.

“Karena jika anak itu melewati gerbang itu…”

Ia berhenti sejenak.

Lalu berkata pelan.

“Dunia persilatan akan berubah.”

Jaka mengepalkan tangan.

“Apa yang sebenarnya kalian takutkan?”

Raksa Wening tidak menjawab.

Ia mengangkat tangan perlahan.

Sepuluh anggota Bayangan Krawang langsung bergerak.

Mengepung mereka.

Sekar Laras mengambil posisi di sisi kiri Jaka.

Resi Wiradarma di sisi kanan.

Raksa Wening berkata dengan suara rendah.

“Bunuh mereka.”

“Terutama anak itu.”

Jaka menarik napas panjang.

Nafas Bumi mengalir lebih kuat dari sebelumnya.

Di dalam tubuhnya, energi Gendra mulai bergerak.

Lebih kuat.

Lebih hidup.

Resi Wiradarma berkata pelan tanpa menoleh,

“Jangan biarkan emosimu mengambil alih.”

Jaka mengangguk.

Namun di dalam dirinya, ia tahu satu hal.

Pertarungan kali ini tidak akan sama seperti sebelumnya.

Karena di belakang mereka berdiri gerbang batu tua.

Gerbang yang tampaknya menyimpan rahasia tentang kekuatan yang ada di dalam dirinya.

Dan Raksa Wening jelas tidak ingin rahasia itu terbuka.

***

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *