EPISODE 12
LANGKAH kaki Jaka Gendra berhenti mendadak.
Ia mengangkat tangan memberi isyarat kepada Resi Wiradarma yang berjalan beberapa langkah di depannya.
“Hentikan langkah, Guru.”
Resi Wiradarma berhenti tanpa bertanya.
Beliau tahu muridnya tidak akan sembarangan memberi peringatan.
Jaka menunduk sedikit, menempelkan telapak kakinya lebih kuat ke tanah.
Ia menarik napas perlahan.
Teknik yang sama yang diajarkan oleh Resi Wiradarma sejak awal latihan.
Jurus Nafas Bumi.
Hutan di sekitar mereka tampak tenang.
Tidak ada suara manusia.
Tidak ada ranting patah.
Namun Jaka tetap berdiri diam beberapa saat.
Resi Wiradarma akhirnya bertanya pelan.
“Apa yang kau rasakan?”
Jaka membuka mata.
“Tanah di depan… terasa berbeda.”
Resi Wiradarma menatap ke arah jalur yang mereka tuju.
“Berbeda bagaimana?”
“Ada getaran kecil. Seperti langkah kaki… tapi tertahan.”
Resi Wiradarma mengangguk pelan.
“Itu artinya latihanmu mulai berhasil.”
Jaka sedikit terkejut.
“Maksud Guru?”
“Jurus Nafas Bumi bukan hanya untuk mengatur tenaga dalam,” kata Resi Wiradarma.
“Jurus itu juga membuatmu peka terhadap gerakan di sekitar.”
Beliau menunjuk tanah.
“Setiap langkah manusia meninggalkan getaran.”
Jaka menatap ke depan lagi.
“Berarti memang ada orang di depan?”
Resi Wiradarma menjawab tenang.
“Bisa jadi.”
“Tapi bisa juga jebakan.”
Mereka kembali berjalan, tetapi lebih hati-hati.
Jalur hutan mulai menanjak.

Pepohonan semakin jarang.
Batu-batu besar mulai mendominasi tanah.
Tempat ini terasa lebih tua dibandingkan bagian hutan sebelumnya.
Resi Wiradarma berhenti lagi ketika mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dikelilingi tebing rendah.
Beliau mengamati tanah.
Ada bekas goresan.
Bekas sepatu.
Dan beberapa cabang pohon yang sengaja dipatahkan.
“Tempat ini pernah dipakai orang,” kata beliau pelan.
Jaka ikut memperhatikan.
“Belum lama.”
Tiba-tiba—
Suara seseorang terdengar dari balik pohon.
“Kalian ternyata memang datang ke arah ini.”
Jaka langsung berbalik.
Seorang gadis berdiri di sana.
Usianya tidak jauh berbeda dengannya.
Pakainnya sederhana, tetapi sikap tubuhnya menunjukkan ia bukan orang biasa.
Di pinggangnya tergantung pedang pendek.
Tatapannya tajam.
“Siapa kau?” tanya Jaka.
Gadis itu melangkah mendekat beberapa langkah.
“Aku yang seharusnya bertanya.”
Ia memandang Jaka dengan penuh perhatian.
“Apakah kau yang mereka sebut… Jaka Gendra?”
Jaka tidak langsung menjawab.
Ia menoleh kepada Resi Wiradarma.
Namun sang resi justru terlihat tenang.
Beliau malah balik bertanya.
“Siapa namamu?”
Gadis itu menyilangkan tangan.
“Sekar Laras.”
Jaka mengernyit.
“Kenapa kau menunggu di sini?”
Sekar Laras menunjuk jalur yang baru saja mereka lewati.
“Karena orang-orang Bayangan Krawang juga sedang mencari kalian.”
Jaka langsung tegang.
“Jadi mereka memang mengikuti?”
Sekar Laras mengangguk.
“Sudah sejak dua hari lalu.”
Jaka terkejut.
“Dua hari?”
Sekar Laras menatapnya.
“Kalau aku tidak mengalihkan mereka kemarin, mungkin kalian sudah disergap di lembah.”
Resi Wiradarma memperhatikan gadis itu dengan lebih serius.
“Kenapa kau membantu kami?”
Sekar Laras tersenyum tipis.
“Bukan membantu.”
“Aku hanya tidak suka melihat mereka menang.”
Jaka menatapnya.
“Kenapa?”
Sekar Laras tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah dingin.
“Karena mereka yang membunuh keluargaku.”
Suasana langsung sunyi.
Angin pegunungan berhembus pelan.
Resi Wiradarma akhirnya berkata.
“Berarti tujuan kita sama.”
Sekar Laras menggeleng.
“Tidak sepenuhnya.”
Ia menunjuk ke arah utara.
“Perguruan Bayangan Krawang memiliki tempat pengawasan di jalur pegunungan depan.”
“Jika kalian berjalan lurus, kalian akan masuk ke wilayah pengintaian mereka.”
Jaka bertanya.
“Lalu jalan lain?”
Sekar Laras menunjuk lereng curam di sisi kanan.
“Ada jalur tua di sana.”
“Jalur itu hampir tidak dipakai lagi.”
Resi Wiradarma mengangguk.
“Aku pernah mendengar tentang jalur itu.”
Sekar Laras memandangnya.
“Kalau begitu Guru ini memang tahu ke mana kalian pergi.”
Resi Wiradarma menjawab tenang.
“Kami menuju tempat yang berkaitan dengan asal kekuatan Gendra.”
Sekar Laras memandang Jaka.
Lama.
“Jadi cerita itu benar.”
Jaka bertanya.
“Cerita apa?”
Sekar Laras berkata pelan.
“Bahwa seseorang dengan roh leluhur besar akan muncul kembali.”
Jaka terdiam.
Resi Wiradarma berkata.
“Kekuatan itu belum sepenuhnya bangkit.”
Sekar Laras menatap Jaka lagi.
“Tapi mereka sudah mencium keberadaannya.”
Jaka mengepalkan tangan.
“Kalau begitu kita tidak punya waktu.”
Sekar Laras mengangguk.
“Benar.”
Ia berbalik menuju lereng.
“Ikuti aku.”
Namun saat mereka mulai bergerak—
Jaka tiba-tiba berhenti lagi.
Ia menarik napas.
Telapak kakinya menekan tanah.
Getaran.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Jaka langsung berkata pelan.
“Mereka datang.”
Sekar Laras berhenti.
“Berapa orang?”
Jaka memejamkan mata.
Tiga.
Lalu satu lagi.
“Empat.”
Sekar Laras tersenyum tipis.
“Cepat juga.”
Resi Wiradarma berkata tenang.
“Kalau begitu kita tidak bisa menghindar lagi.”
Beberapa detik kemudian—
Empat sosok berpakaian hitam muncul dari balik pepohonan.

Topeng mereka menutup separuh wajah.
Lambang cakar hitam terlihat di dada pakaian mereka.
Sekar Laras mendengus.
“Anjing Bayangan Krawang.”
Salah satu dari mereka maju.
“Serahkan pemuda itu.”
Jaka langsung mengambil kuda-kuda.
Resi Wiradarma berkata pelan.
“Ingat latihanmu.”
“Gunakan Nafas Bumi.”
Jaka menarik napas perlahan.
Kakinya menancap kuat di tanah.
Empat orang itu bergerak hampir bersamaan.
Dua menyerang Jaka.
Satu menuju Sekar Laras.
Satu lagi menghadapi Resi Wiradarma.
Pedang pertama menyambar ke arah leher Jaka.
Namun tubuh Jaka bergerak rendah.
<p><p>Ia tidak melompat.<p>I
a juga tidak mundur.
Ia lalu menggeser tub
uhnya mengikuti
aliran tenaga tanah.
Gerakan yang diajarkan Resi Wiradarma.
Pedang itu meleset.
Jaka memutar tubuh.
Telapak tangannya mendorong dada lawan.
Tenaga dari kuda-kuda yang menancap kuat membuat lawan itu terpental.
Namun penyerang kedua sudah datang.
Tendangan keras menuju rusuknya.
Jaka menahan dengan lengan.
Benturan keras membuat tubuhnya bergeser satu langkah.
Namun kakinya tidak goyah.
Nafas Bumi menahan posisinya.
Ia membalas dengan dorongan telapak tangan.
Penyerang kedua mundur.
Di sisi lain—
Sekar Laras bergerak cepat.
Pedangnya melintas seperti kilat.
Penyerangnya terpaksa mundur.
Sementara itu Resi Wiradarma hanya menghindar.
Setiap serangan lawannya selalu meleset beberapa jari.
Pertarungan berlangsung singkat.
Namun sengit.
Akhirnya salah satu penyerang bersiul pendek.
Mereka mundur bersamaan.
Pemimpin mereka berkata dingin.
“Kami sudah memastikan.”
Ia menatap Jaka Gendra.
“Memang benar… kau orangnya.”
Lalu mereka menghilang kembali ke dalam hutan.
Sekar Laras menghela napas.
“Mereka hanya menguji.”
Resi Wiradarma mengangguk.
“Dan mereka sudah mendapatkan jawaban.”
Jaka mengepalkan tangan.
“Berarti mereka akan datang lagi.”
Resi Wiradarma memandang ke arah pegunungan utara.
“Bukan hanya mereka.”
“Yang lebih berbahaya akan segera turun tangan.”
Sekar Laras berkata pelan.
“Kalau begitu kita harus mencapai tujuan kalian sebelum itu terjadi.”
Mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan.
Namun kini mereka tahu satu hal.
Bayangan Krawang sudah memastikan sesuatu.
Dan mulai sekarang—
Perburuan terhadap Jaka Gendra akan menjadi jauh lebih berbahaya.
***
BERSAMBUNG