EPISODE 10
KABUT pagi masih menggantung rendah di antara pepohonan hutan pegunungan ketika Jaka Gendra membuka mata.
Udara dingin menusuk kulit, namun tubuhnya terasa hangat dari dalam. Napasnya mengalir pelan, panjang, mengikuti irama yang telah diajarkan oleh Resi Wiradarma.
Jurus Nafas Bumi.
Tarik napas.
Tahan.
Lepaskan perlahan.
Tanah lembap di bawah telapak kakinya terasa hidup. Seolah ada aliran halus yang merambat naik melalui tubuhnya.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di dalam dada Jaka Gendra, kekuatan itu terasa lebih berat. Lebih padat. Seperti batu yang mulai membentuk inti.
Ia membuka mata perlahan.
Di depannya, Resi Wiradarma berdiri dengan kedua tangan terlipat di balik punggung.
Sang resi tidak berkata apa-apa.
Hanya mengamati.
“Ada yang berubah,” kata Resi Wiradarma akhirnya.
Jaka Gendra mengangguk pelan.
“Saya merasakannya, Guru.”
“Kekuatan gendra itu mulai menyesuaikan diri dengan napasmu.”
Jaka Gendra menunduk sedikit.
“Tapi kadang terasa seperti ingin meledak.”
Resi Wiradarma tersenyum tipis.
“Itu sebabnya kau harus mematangkan Jurus Nafas Bumi.”
Beliau melangkah mendekat.
“Kekuatan gendra bukan sekadar tenaga besar. Jika tidak dikendalikan, ia akan menghancurkan tubuhmu sendiri.”
Jaka Gendra menarik napas lagi.
Ia menutup mata.
Menarik napas panjang.
Namun sebelum napas itu selesai dilepaskan—
Resi Wiradarma tiba-tiba mengangkat tangan.
“Berhenti.”
Jaka Gendra langsung membuka mata.
“Ada apa, Guru?”
Resi Wiradarma menoleh ke arah pepohonan di sisi utara hutan.

Kabut di sana bergerak.
Bukan karena angin.
Seolah ada sesuatu yang berjalan di dalamnya.
Tatapan sang resi menjadi tajam.
“Mereka datang lagi.”
Jaka Gendra langsung berdiri tegak.
Perguruan Bayangan Krawang.
Nama itu langsung muncul di kepalanya.
“Yang kemarin?” tanya Jaka Gendra.
Resi Wiradarma mengangguk pelan.
“Ya.”
Kabut di antara pepohonan mulai terbelah.
Tiga sosok muncul dari sana.
Tinggi.
Ramping.
Wajah mereka masih tertutup topeng hitam yang sama seperti sebelumnya.
Pakaian mereka gelap, dengan lambang cakar melengkung di dada.
Langkah mereka ringan.
Seperti bayangan yang berjalan di atas tanah.
Salah satu dari mereka berhenti sekitar dua puluh langkah dari Resi Wiradarma dan Jaka Gendra.
“Kami sudah menduga kalian masih di sini.”
Suaranya datar.
Tanpa emosi.
Resi Wiradarma tidak bergerak sedikit pun.
“Kalian tidak menyerah juga.”
Orang bertopeng itu tertawa kecil.
“Kami hanya ingin memastikan sesuatu.”
Tatapan di balik topeng itu beralih ke Jaka Gendra.
“Anak itu.”
Jaka Gendra merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
“Mendekatlah,” kata orang bertopeng itu.
Resi Wiradarma langsung melangkah satu langkah ke depan.
“Tidak perlu.”
Dua orang lainnya berdiri menyebar.
Seolah mengepung.
“Kami tidak ingin bertarung,” kata orang bertopeng pertama.
“Tapi jika perlu, kami tidak keberatan.”
Resi Wiradarma tersenyum tipis.
“Kalau begitu kalian datang ke tempat yang salah.”
Keheningan jatuh sejenak.
Kabut bergeser perlahan.
Burung-burung di atas pohon tiba-tiba terbang menjauh.
Orang bertopeng itu mengangkat tangan sedikit.
“Kami hanya ingin melihat… apakah benar.”
“Apakah benar apa?” tanya Resi Wiradarma.
Orang itu menunjuk ke arah Jaka Gendra.
“Bahwa di dalam tubuh anak itu… benar-benar ada gendra.”
Jaka Gendra merasakan dadanya bergetar.
Jadi mereka tahu.
Resi Wiradarma tidak menjawab.
Namun sikap tubuhnya berubah.
Lebih siap.
“Kalau memang benar,” lanjut orang bertopeng itu, “maka kami tidak bisa membiarkannya hidup bebas.”
Jaka Gendra mengepalkan tangan.
“Kenapa?”
Orang bertopeng itu menoleh sedikit.
“Karena kekuatan seperti itu… hanya akan membawa bencana.”
Resi Wiradarma menggeleng pelan.
“Bencana datang dari orang yang salah memakainya.”
Tiba-tiba—
Salah satu dari tiga orang itu bergerak.
Cepat sekali.
Dalam sekejap ia sudah melesat menuju Jaka Gendra.
Jaka Gendra terkejut.
Namun tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Napasnya turun.
Kakinya menekan tanah.
Jurus Nafas Bumi.
Tenaga dari tanah naik melalui tubuhnya.
Ia memutar tubuh.
BRAK!
Telapak tangannya menangkis serangan itu.
Benturan keras terjadi.
Orang bertopeng itu mundur dua langkah.
Jaka Gendra sendiri terdorong satu langkah ke belakang.
Matanya membesar.
Tenaganya jauh lebih kuat dibanding pertemuan sebelumnya.
Orang bertopeng itu juga terlihat terkejut.
“Menarik.”
Resi Wiradarma mengangguk pelan.
“Teruskan.”
Orang bertopeng itu kembali menyerang.
Gerakannya seperti bayangan.
Cepat.
Licin.
Serangannya datang dari samping.
Jaka Gendra menurunkan napasnya lagi.
Ia mengingat latihan berulang-ulang yang diajarkan Resi Wiradarma.
Jangan melawan tenaga.
Serap tenaga.
Arahkan kembali.
Orang bertopeng itu menendang.
Jaka Gendra memutar tubuh.
Tangannya menangkap pergelangan kaki lawan.
BRAK!
Ia membantingnya ke tanah.
Tanah bergetar keras.
Namun lawannya langsung berguling dan melompat berdiri lagi.
Kali ini dua orang lainnya ikut bergerak.
“Cukup.”
Resi Wiradarma akhirnya melangkah maju.
Langkahnya pelan.
Namun tekanan hawa dari tubuhnya membuat tanah di sekitarnya seperti bergetar.
Tiga orang bertopeng itu berhenti.
Mereka saling berpandangan.
“Kami hanya ingin memastikan,” kata salah satu dari mereka.
“Dan sekarang kami sudah melihatnya.”
Tatapan mereka kembali ke Jaka Gendra.
“Kekuatan itu memang ada.”
Resi Wiradarma menatap mereka tajam.
“Kalau begitu pergilah.”
Orang bertopeng itu mengangguk sedikit.
“Kami akan kembali.”
Jaka Gendra mengerutkan dahi.
“Kembali?”
Orang itu menunjuknya.
“Karena mulai hari ini…”
“Seluruh Perguruan Bayangan Krawang akan memburumu.”
Angin tiba-tiba bertiup keras.
Kabut menelan tubuh mereka.
Dalam sekejap tiga sosok itu menghilang lagi ke dalam hutan.
Keheningan kembali.
Jaka Gendra masih berdiri dengan napas berat.
“Guru…”
Resi Wiradarma menatap ke arah kabut tempat mereka menghilang.

“Ini baru permulaan.”
Jaka Gendra menelan ludah.
“Kenapa mereka mengincar saya?”
Resi Wiradarma terdiam cukup lama.
Lalu berkata pelan.
“Karena kekuatan gendra yang ada dalam dirimu… bukan kekuatan biasa.”
Beliau menoleh.
Tatapannya serius.
“Dan jika kabar itu sudah sampai ke Bayangan Krawang…”
Sang resi berhenti sejenak.
“Berarti perguruan lain juga akan segera mengetahuinya.”
Jaka Gendra merasakan dadanya kembali bergetar.
Jadi ini belum apa-apa.
Baru permulaan.
Resi Wiradarma berjalan menuju sebuah batu besar.
“Mulai hari ini latihanmu akan berubah.”
Jaka Gendra menatapnya.
“Berubah bagaimana, Guru?”
Resi Wiradarma menatap langsung ke matanya.
“Kau harus mematangkan Jurus Nafas Bumi… sampai pada tingkat yang tidak pernah diajarkan kepada siapa pun.”
Angin hutan kembali bertiup.
Kabut bergeser perlahan.
Dan untuk pertama kalinya Jaka Gendra merasa—
Bahwa jalan hidupnya tidak lagi bisa kembali seperti dulu.
Di kejauhan, tiga bayangan hitam masih mengawasi dari balik pepohonan.
Dan mereka tidak sendirian.
***
BERSAMBUNG