Episode 9
KABUT pagi turun perlahan di lereng hutan pegunungan tempat Resi Wiradarma tinggal. Udara masih dingin dan basah oleh embun malam yang belum sepenuhnya menguap. Di antara batang-batang pinus yang tinggi, cahaya matahari baru mulai menembus tipis-tipis, menciptakan garis keemasan yang jatuh di atas tanah lembap.
Di sebuah dataran kecil yang dikelilingi batu besar, seorang pemuda berdiri dalam posisi kuda-kuda rendah.
Kedua kakinya menapak kuat pada tanah.
Tangannya terbuka di depan dada.
Napasnya perlahan.
Masuk.
Tahan.
Keluar.
Gerakan itu diulang berkali-kali tanpa tergesa.
Itulah latihan yang sejak beberapa hari terakhir terus dilakukan oleh pemuda bernama Jaka Gendra.
Dahulu ia dikenal sebagai Jaka Wening, tetapi sejak peristiwa kemunculan bayangan besar di belakang tubuhnya—saat kekuatan Gendra pertama kali terasa jelas—Resi Wiradarma mulai memanggilnya dengan nama baru itu.
Nama yang tidak sekadar panggilan.
Tetapi pengingat akan kekuatan yang kini hidup di dalam dirinya.
Resi Wiradarma berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan dengan tenang.
“Jangan biarkan napasmu terputus,” kata sang resi dengan suara pelan namun jelas.
Jaka mengangguk tanpa membuka mata.
“Aku mengingatnya, Eyang.”
Resi Wiradarma berjalan perlahan mengitari muridnya.
“Kekuatan sejati tidak datang dari gerakan cepat,” lanjutnya.
“Tetapi dari napas yang tenang.”
Jaka menarik napas dalam-dalam.
Udara pegunungan yang dingin mengalir masuk ke paru-parunya.
Ia menahannya beberapa saat.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Tubuhnya terasa semakin berat dan kokoh.

Seolah-olah kedua kakinya bukan lagi sekadar menapak tanah, tetapi benar-benar menyatu dengan bumi.
Itulah inti dari Jurus Nafas Bumi.
Ilmu dasar yang menurut Resi Wiradarma harus dikuasai sebelum mempelajari jurus-jurus lainnya.
Namun Jaka tahu alasan lain di balik latihan itu.
Jurus itu bukan sekadar teknik pernapasan.
Tetapi juga cara untuk mengendalikan Gendra di dalam dirinya.
***
Di tempat yang cukup jauh dari dataran latihan, tiga sosok berdiri di balik pepohonan yang tertutup kabut.
Mereka mengenakan pakaian hitam panjang.
Wajah mereka tertutup topeng gelap.
Mata mereka mengamati dataran tempat Jaka berlatih.
“Anak itu berkembang cepat,” kata salah satu dari mereka dengan suara rendah.
Pria yang berdiri di tengah tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap dengan tajam.
“Resi Wiradarma memang tidak pernah sembarangan memilih murid.”
Orang ketiga menyilangkan tangan.
“Tapi jika benar dia memiliki roh Gendra, kita tidak boleh membiarkannya hidup terlalu lama.”
Pria di tengah tersenyum tipis di balik topengnya.
“Tenang.”
“Perguruan Bayangan Krawang selalu sabar.”
Ia menatap lebih lama.
“Namun kesabaran juga ada batasnya.”
Angin gunung berhembus pelan, menggerakkan jubah hitam mereka.
Pria itu akhirnya berkata lagi.
“Hari ini kita hanya menguji.”
***
Di dataran latihan, Jaka tiba-tiba membuka mata.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Getaran.
Sangat halus.
Datangnya dari tanah.
Ia memejamkan mata kembali dan berkonsentrasi.
Getaran itu tidak berasal dari hewan.
Langkahnya ringan.
Cepat.
Dan lebih dari satu.
“Eyang,” kata Jaka pelan.
Resi Wiradarma sudah berdiri di sampingnya.
“Ya.”
“Ada orang di hutan.”
Resi Wiradarma mengangguk kecil.
“Berapa?”
Jaka menarik napas.
Ia mencoba merasakan getaran yang merambat melalui tanah.
Satu.
Dua.
Tiga.
“Tiga orang.”
Sang resi tersenyum tipis.
“Bagus.”
Namun belum sempat Jaka membuka mata sepenuhnya—
SWUUT!
Sesuatu meluncur cepat dari balik pepohonan.
Jaka refleks memiringkan tubuhnya.
Sebuah pisau kecil menancap di tanah tepat di belakangnya.
Jaka langsung menoleh ke arah hutan.
Kabut bergerak pelan.
Lalu satu sosok muncul dari balik pepohonan.
Ia mengenakan topeng hitam yang sama seperti yang pernah mereka lihat beberapa hari lalu.
Salah satu dari tiga orang itu.
Ia berdiri santai seolah sedang berjalan-jalan di hutan.
“Lumayan,” katanya.
“Sensormu tidak buruk.”
Jaka mengepalkan tangan.
Resi Wiradarma melangkah sedikit ke depan.
“Pergilah,” kata sang resi datar.
Pria bertopeng itu tertawa kecil.
“Aku hanya ingin melihat perkembangan muridmu.”
Ia menatap Jaka dari ujung kepala sampai kaki.
“Jadi kau yang disebut-sebut memiliki roh Gendra.”
Jaka tidak menjawab.
Ia hanya berdiri tegap.
Pria itu melangkah mendekat.
“Buktikan.”
Tanpa peringatan, tubuhnya melesat seperti bayangan hitam.
Gerakannya sangat cepat.
Namun sebelum Jaka bergerak, Resi Wiradarma berkata pelan.
“Jaka.”
“Gunakan Nafas Bumi.”
Jaka menarik napas dalam.
Tubuhnya tetap dalam posisi kuda-kuda.
Ia tidak maju.
Tidak menyerang.
Hanya menunggu.
Serangan pria bertopeng itu datang dalam sekejap.
Tangannya mengarah ke bahu Jaka.
Namun pada saat terakhir—
Jaka memutar tubuhnya sedikit.
Serangan itu meleset.
Pria bertopeng itu mengangkat alis.
“Hmm.”
Ia menyerang lagi.
Kali ini lebih cepat.
Namun Jaka tetap tenang.
Gerakannya kecil.
Efisien.
Seolah-olah ia sudah tahu dari mana serangan itu datang.
Resi Wiradarma memperhatikan tanpa bergerak.
Itulah kekuatan dari Nafas Bumi.
Pendekar yang menyatu dengan tanah mampu merasakan gerakan lawan sebelum serangan benar-benar datang.
Pria bertopeng itu berhenti menyerang.
Ia mundur beberapa langkah.
“Kau tidak buruk.”
Ia menatap Resi Wiradarma.
“Resi tua… kau benar-benar mengajarkan cara lama.”
Resi Wiradarma menjawab singkat.
“Cara lama masih cukup untuk menghadapi orang sepertimu.”
Pria bertopeng itu tertawa pelan.
“Baiklah.”
Ia mundur lagi.
Kabut perlahan menutup tubuhnya.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia berkata lagi.
“Kita akan bertemu lagi.”
Ia menatap Jaka.
“Dan saat itu… kau tidak akan hanya bertahan.”
Tubuhnya menghilang di balik kabut.
Hutan kembali sunyi.
Jaka menurunkan tangannya.
Napasnya masih stabil.
Resi Wiradarma mendekat.
“Kau tidak terpancing.”
Jaka mengangguk.
“Aku hanya melakukan yang Eyang ajarkan.”
Resi Wiradarma tersenyum tipis.
“Dan itu menyelamatkanmu.”
Jaka menatap ke arah hutan.
“Eyang… apakah mereka akan terus datang?”

Resi Wiradarma memandang kabut yang bergerak di antara pepohonan.
“Ya.”
Jawaban itu singkat.
Namun cukup jelas.
Jaka terdiam beberapa saat.
“Kenapa mereka begitu mengincarku?”
Resi Wiradarma menatap muridnya.
“Karena mereka takut.”
“Takut pada apa?”
Sang resi menjawab pelan.
“Pada kekuatan yang bahkan belum kau pahami.”
Angin pegunungan kembali berhembus pelan.
Kabut bergerak di antara pepohonan tinggi.
Namun jauh di dalam hutan, tiga sosok bertopeng masih berdiri di tempat mereka tadi.
Pria di tengah menyilangkan tangan.
“Anak itu memang memiliki bakat.”
Salah satu rekannya berkata pelan.
“Apakah kita akan melaporkannya pada guru besar?”
Pria itu mengangguk.
“Ya.”
Ia menatap dataran latihan sekali lagi.
“Jika dia terus berkembang seperti ini…”
Ia berhenti sejenak.
“Maka suatu hari nanti dia akan menjadi ancaman bagi Perguruan Bayangan Krawang.”
Kabut perlahan menelan ketiga sosok itu.
Sementara di dataran latihan, Jaka kembali mengambil posisi kuda-kuda.
Napasnya perlahan.
Masuk.
Tahan.
Keluar.
Namun kali ini ia tahu satu hal.
Latihannya bukan lagi sekadar belajar ilmu silat.
Tetapi persiapan menghadapi musuh yang perlahan mulai bergerak dari bayangan.
Dan di dalam tubuhnya—
Gendra terasa bergerak perlahan.
Seolah ikut mendengarkan setiap napas yang ia tarik dari bumi.
***