Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 8: Akar Nafas Bumi

 

Episode 8

KABUT pagi masih menyelimuti hutan pegunungan ketika Jaka berdiri tegak di tengah tanah datar yang menjadi tempat latihannya.

Embun masih menempel di daun-daun pinus. Udara dingin mengalir lembut bersama angin yang turun dari punggung gunung.

Di tempat inilah beberapa waktu lalu tiga sosok bertopeng muncul dari kabut.

Mereka memperhatikan Jaka dan Resi Wiradarma tanpa berbicara.

Lalu menghilang begitu saja.

Namun Resi Wiradarma tahu satu hal.

Orang-orang dari Perguruan Bayangan Krawang tidak pernah muncul hanya untuk melihat-lihat.

Mereka datang untuk sesuatu.

Dan suatu saat mereka pasti kembali.

***

 

Jaka berdiri dalam posisi kuda-kuda rendah.

Kedua telapak tangannya terbuka di depan dada.

Matanya terpejam.

Napasnya perlahan.

Masuk.

Tahan.

Lalu keluar perlahan.

Itulah Jurus Nafas Bumi.

Ilmu pertama yang diajarkan Resi Wiradarma kepadanya.

Di atas batu besar, Resi Wiradarma berdiri mengawasi.

Jubah sederhananya berkibar pelan tertiup angin.

“Perlambat napasmu,” kata sang resi.

Jaka mengangguk tanpa membuka mata.

Ia menarik napas lebih dalam.

Resi Wiradarma berjalan mendekat.

“Jangan bernapas dengan dadamu,” katanya.

“Tarik dari pusat tubuhmu.”

Jaka mencoba lagi.

Kali ini perutnya mengembang perlahan saat menarik napas.

Ia menahannya beberapa saat.

Lalu melepaskannya perlahan.

Tanah di bawah kakinya terasa berbeda.

Dingin.

Namun kokoh.

Seolah-olah ada sesuatu yang menopang tubuhnya dari bawah.

“Sekarang rasakan bumi,” kata Resi Wiradarma.

Jaka menenangkan pikirannya.

Ia tidak memikirkan apa pun.

Tidak memikirkan masa lalunya.

Tidak memikirkan ancaman dari orang-orang bertopeng.

Hanya napas.

Dan tanah.

Beberapa saat kemudian, sesuatu muncul.

Getaran halus.

Sangat halus.

Seperti denyut kecil yang bergerak dari dalam tanah.

Jaka membuka mata.

“Aku merasakannya, Eyang.”

Resi Wiradarma mengangguk.

“Bagus.”

Sang resi lalu mengambil ranting kecil dari tanah.

Tanpa peringatan, ia melemparkannya ke arah kaki Jaka.

Ranting itu meluncur cepat.

Namun Jaka tetap diam.

Kuda-kudanya tidak goyah.

Ranting itu mengenai lututnya lalu jatuh ke tanah.

Resi Wiradarma tersenyum tipis.

“Tubuhmu mulai menyatu dengan tanah.”

Jaka menurunkan tangannya.

“Kapan aku mempelajari jurus lain, Eyang?”

Resi Wiradarma menggeleng pelan.

“Belum.”

Jaka menarik napas panjang.

“Kenapa?”

“Karena Nafas Bumi belum menjadi bagian dari dirimu.”

Sang resi menatap tajam ke arah pemuda itu.

“Pendekar yang belum menguasai dasar akan tumbang sebelum sempat menggunakan jurusnya.”

Jaka mengangguk.

Namun tiba-tiba sesuatu terasa berbeda.

Tanah di bawah kakinya bergetar.

Sangat kecil.

Namun jelas.

Jaka menoleh ke arah hutan.

“Eyang…”

Resi Wiradarma juga sudah merasakan hal yang sama.

Kabut di antara pepohonan bergerak perlahan.

Lalu tiga bayangan muncul dari baliknya.

Langkah mereka ringan.

Diam.

Seperti bayangan yang berjalan.

Tiga orang itu berhenti di tepi dataran.

Wajah mereka tertutup topeng hitam.

Pakaian mereka gelap seperti malam.

Resi Wiradarma menghela napas perlahan.

“Seperti yang kuduga,” katanya.

Jaka menatap mereka tajam.

“Tiga orang itu…”

“Ya,” jawab Resi Wiradarma.

“Orang-orang dari Perguruan Bayangan Krawang.”

Salah satu dari mereka melangkah maju.

Suara pria terdengar dari balik topengnya.

“Resi Wiradarma.”

Suaranya datar.

Namun mengandung ancaman.

“Sudah lama kita tidak bertemu.”

Resi Wiradarma berdiri tenang.

“Aku tidak mengundang kalian ke sini.”

Pria itu tertawa kecil.

“Kami datang bukan untuk diundang.”

Ia menatap Jaka.

“Jadi ini anak yang kau sembunyikan.”

Jaka mengepalkan tangan.

Namun Resi Wiradarma mengangkat tangan memberi isyarat agar ia tetap tenang.

“Dia bukan urusan kalian,” kata sang resi.

Pria itu menggeleng.

“Justru sebaliknya.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Kami merasakan sesuatu dari tempat ini.”

Matanya tertuju pada Jaka.

“Sesuatu yang tidak seharusnya ada.”

Jaka merasakan tubuhnya menegang.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergerak.

Bayangan Gendra.

Namun Resi Wiradarma berkata pelan tanpa menoleh.

“Tenangkan napasmu.”

Jaka langsung menutup mata.

Ia menarik napas perlahan.

Nafas Bumi.

Udara masuk.

Tahan.

Lepaskan.

Tanah di bawah kakinya terasa kembali kokoh.

Getaran di tubuhnya perlahan mereda.

Pria bertopeng itu menyipitkan mata.

“Hm.”

Ia melirik dua rekannya.

“Anak ini sudah mulai belajar.”

Resi Wiradarma melangkah maju.

“Kalian sudah melihat apa yang kalian inginkan.”

“Sekarang pergilah.”

Pria bertopeng itu tertawa pelan.

“Resi tua… kau masih sama seperti dulu.”

Ia tiba-tiba melangkah cepat.

Gerakannya seperti bayangan yang meluncur.

Dalam sekejap ia sudah berada di depan Jaka.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh pemuda itu—

BRAK!

Resi Wiradarma sudah berdiri di antara mereka.

Tangan sang resi menahan serangan itu dengan satu gerakan ringan.

Tanah di bawah kaki mereka bergetar.

Pria bertopeng itu mundur dua langkah.

Matanya menyipit.

“Masih kuat rupanya.”

Resi Wiradarma tidak menjawab.

Namun suaranya tegas.

“Kalian belum cukup kuat untuk mengambilnya.”

Pria itu tertawa lagi.

“Kami tidak terburu-buru.”

Ia menatap Jaka sekali lagi.

“Anak itu belum menguasai kekuatannya.”

“Suatu hari nanti kami akan kembali.”

Lalu ia memberi isyarat pada dua rekannya.

Ketiganya mundur perlahan.

Kabut kembali menelan mereka.

Dalam beberapa saat mereka sudah hilang.

Hutan kembali sunyi.

Jaka membuka mata.

Napasnya masih teratur.

Ia menoleh pada Resi Wiradarma.

“Eyang…”

Resi Wiradarma memandang ke arah kabut tempat mereka menghilang.

“Mereka datang untuk memastikan sesuatu.”

“Apa?”

Sang resi menatap Jaka.

“Bahwa kekuatan Gendra benar-benar ada di dalam dirimu.”

Jaka mengepalkan tangan.

“Apakah mereka akan kembali?”

Resi Wiradarma mengangguk pelan.

“Pasti.”

Ia lalu menunjuk tanah di bawah kaki Jaka.

“Karena itu kau harus menguasai Nafas Bumi.”

Jaka mengangguk mantap.

“Baik, Eyang.”

Resi Wiradarma berjalan kembali ke batu tempatnya berdiri tadi.

“Sekarang lanjutkan latihanmu.”

Jaka kembali mengambil posisi kuda-kuda.

Napasnya perlahan.

Masuk.

Tahan.

Keluar.

Namun kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Tanah di bawah kakinya terasa lebih hidup.

Seolah-olah bumi sendiri mendengarkan napasnya.

Dan jauh di balik hutan berkabut, tiga sosok bertopeng masih berdiri mengamati dari kejauhan.

Menunggu.

Karena mereka tahu satu hal.

Jika anak itu benar-benar berhasil menguasai kekuatan di dalam dirinya—

Maka dunia persilatan akan berubah selamanya.

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *