Cerita Silat JAKA GENDRA Episode 7: Bayangan dari Perguruan Hitam

 

 

Episode 7

 

PAGI itu udara di dataran latihan terasa lebih berat dari biasanya. Kabut menggantung lebih rendah di antara pepohonan, seolah menutup pandangan jauh ke dalam hutan.

Jaka berdiri di tengah tanah lapang, kakinya terbuka dalam posisi Langkah Bayu Tanah. Napasnya mengalir perlahan seperti yang diajarkan Resi Wiradarma.

Tarik napas.

Tenaga turun ke perut.

Hembuskan.

Tanah di bawah telapak kakinya terasa hangat, seolah menyimpan energi yang perlahan mengalir naik ke tubuhnya.

Di depan, Resi Wiradarma mengawasi dengan mata tajam namun tenang.

“Jangan paksa tenaga,” katanya.

Jaka mengangguk.

Ia mulai mengerti bahwa kekuatan tidak datang dari kerasnya otot, tetapi dari keseimbangan.

Namun saat ia menutup mata sejenak untuk merasakan aliran napas, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.

Ada sesuatu yang salah.

Hutan tiba-tiba terlalu sunyi.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada suara serangga.

Jaka membuka mata.

“Yang…,” katanya pelan.

Resi Wiradarma sudah lebih dulu berdiri tegak.

“Aku juga merasakannya.”

Angin bergerak pelan.

Dari balik pepohonan, tiga sosok muncul perlahan.

Mereka mengenakan pakaian hitam kusam. Wajah mereka tertutup topeng kayu gelap dengan ukiran aneh menyerupai taring.

Langkah mereka ringan, hampir tanpa suara.

Jaka merasakan dada menjadi panas.

Resi Wiradarma melangkah satu langkah ke depan.

“Siapa kalian?” suaranya tenang namun tegas.

Salah satu dari mereka tertawa kecil.

“Resi Wiradarma… sudah lama tidak bertemu.”

Suara itu berat dan serak.

“Perguruan Bayangan Krawang,” gumam Resi Wiradarma.

Jaka belum pernah mendengar nama itu.

Sosok di tengah membuka tangannya.

“Kami datang untuk anak itu.”

Ia menunjuk Jaka.

Jaka mengepalkan tangan.

Resi Wiradarma berdiri lebih tegak di depannya.

“Anak ini bukan urusan kalian.”

Sosok bertopeng itu tertawa lagi.

“Oh, justru sebaliknya.”

Ia melangkah maju satu langkah.

“Anak itu adalah kunci yang selama ini kami cari.”

Jaka merasakan panas di dalam tubuhnya mulai bergerak.

Namun ia mengingat pesan Resi Wiradarma.

Tarik napas.

Tenaga turun.

Jangan meledak.

***

 

Ujian Nyata

Sosok bertopeng yang paling kiri tiba-tiba bergerak.

Cepat sekali.

Tubuhnya melesat seperti bayangan.

Jaka bahkan hampir tidak melihat gerakannya.

Namun Resi Wiradarma sudah lebih dulu melangkah.

Tangannya bergerak ringan.

Pak!

Telapak tangan sang resi menangkis serangan itu.

Tubuh penyerang terpental mundur beberapa langkah.

Jaka terkejut.

Selama ini ia belum pernah melihat Resi Wiradarma bertarung.

“Jangan ikut campur dulu,” kata sang resi tanpa menoleh.

Namun sosok bertopeng di tengah tersenyum.

“Jadi kau masih bisa bergerak secepat itu.”

Lalu ia memberi isyarat kecil.

Dua orang lainnya langsung menyerang bersamaan.

Gerakan mereka aneh.

Tubuh mereka seperti tidak memiliki berat.

Mereka meluncur rendah di atas tanah.

Resi Wiradarma bergerak menahan.

Tangannya memutar.

Langkahnya ringan namun stabil seperti pohon tua yang tertanam kuat.

Namun Jaka bisa melihat sesuatu.

Serangan mereka bukan sekadar pukulan.

Ada energi hitam tipis yang mengikuti gerakan tangan mereka.

“Ilmu bayangan,” bisik Resi Wiradarma.

***

Jaka Terlibat

Salah satu penyerang tiba-tiba mengubah arah.

Bukannya menyerang Resi Wiradarma, ia langsung melompat ke arah Jaka.

Refleks Jaka bekerja.

Langkah Bayu Tanah.

Tubuhnya berputar.

Serangan itu meleset.

Namun penyerang itu sangat cepat.

Tangannya menyapu rendah ke arah kaki Jaka.

Jaka hampir kehilangan keseimbangan.

Tarik napas.

Tenaga di perutnya berputar.

Ia mendorong telapak tangannya ke depan seperti saat menghadapi serigala.

DOR!

Udara bergetar.

Penyerang itu terpental beberapa langkah.

Topengnya retak.

Namun ia justru tertawa.

“Bagus.”

Dari balik retakan topeng, matanya bersinar aneh.

“Benar kata mereka.”

“Apa maksudmu?” tanya Jaka.

“Tenaga Gendra sudah mulai bangun.”

Dada Jaka terasa panas mendengar nama itu.

***

Pertarungan Memanas

Resi Wiradarma kini menghadapi dua penyerang sekaligus.

Gerakan mereka semakin cepat.

Satu menyerang dari depan.

Satu dari belakang.

Namun sang resi tetap tenang.

Langkahnya kecil namun tepat.

Setiap tangkisan membuat lawannya terdorong mundur.

Namun Jaka bisa melihat sesuatu yang membuatnya cemas.

Napas Resi Wiradarma mulai berat.

Sosok bertopeng di tengah akhirnya bergerak.

Ia berjalan pelan mendekati Jaka.

“Anak muda,” katanya.

“Apakah kau tahu siapa sebenarnya yang tinggal di dalam tubuhmu?”

Jaka tidak menjawab.

“Perguruan kami telah mencari kekuatan itu selama puluhan tahun.”

Ia berhenti dua langkah di depan Jaka.

“Kau bisa ikut kami… dan menjadi jauh lebih kuat.”

Jaka menggeleng.

“Aku tidak butuh itu.”

Sosok itu tertawa.

“Bukan soal butuh.”

Ia mengangkat tangan.

“Ini soal takdir.”

***

Api Gendra Bergetar

Tiba-tiba salah satu murid Bayangan Krawang berhasil menembus pertahanan Resi Wiradarma.

Pukulan energi hitam menghantam bahu sang resi.

BUK!

Resi Wiradarma terdorong mundur.

“Yang!” teriak Jaka.

Amarah langsung melonjak di dadanya.

Panas di tubuhnya meledak naik ke dada.

Di belakangnya, bayangan besar mulai muncul.

Suara berat bergema di dalam kepalanya.

“Lepaskan saja…”

Gendra.

Jaka menggertakkan gigi.

Tidak.

Ia teringat latihan Nafas Bumi.

Tarik napas.

Tenaga turun.

Namun amarah masih mendidih.

Sosok bertopeng di tengah tersenyum lebar.

“Ya… seperti itu.”

“Biarkan dia keluar.”

***

Keputusan Jaka

Jaka menatap Resi Wiradarma yang masih berdiri meski terluka.

Ia tidak ingin kehilangan kendali.

Namun ia juga tidak bisa membiarkan gurunya terluka.

Tarik napas.

Tenaga turun.

Ia membuka langkah Langkah Bayu Tanah.

Tubuhnya bergerak.

Cepat.

Lebih cepat dari sebelumnya.

Ia muncul di depan penyerang yang tadi memukul sang resi.

Telapak tangannya mendorong.

Tenaga dari perutnya mengalir deras.

DUUAR!

Tanah bergetar.

Penyerang itu terpental jauh hingga menghantam pohon.

Semua orang terdiam sejenak.

Resi Wiradarma menatap Jaka dengan mata tajam.

Tenaga itu lebih besar dari sebelumnya.

Namun masih terkendali.

Sosok bertopeng di tengah perlahan bertepuk tangan.

“Menarik.”

Ia menatap Jaka dalam-dalam.

“Benar-benar menarik.”

Lalu ia memberi isyarat mundur.

Dua muridnya segera menarik rekan mereka yang terluka.

“Sampai di sini dulu.”

Ia berbalik.

Namun sebelum pergi, ia berkata pelan.

“Namaku Raksa Wulung.”

Ia menoleh sedikit ke arah Jaka.

“Dan kami akan datang lagi.”

Kabut hutan kembali menelan mereka.

***

Awal Konflik Besar

Setelah mereka pergi, Jaka segera berlari ke Resi Wiradarma.

“Yang, apakah luka Yang parah?”

Resi Wiradarma menggeleng.

“Hanya goresan tenaga.”

Namun wajahnya serius.

“Perguruan Bayangan Krawang bukan lawan biasa.”

Jaka mengepalkan tangan.

“Mereka ingin Gendra.”

Resi Wiradarma menatapnya lama.

“Dan itu berarti perjalanan kita tidak akan tenang lagi.”

Angin malam mulai turun di hutan.

Di dalam dada Jaka, api Gendra masih bergetar pelan.

Untuk pertama kalinya, ia sadar—

kekuatan dalam dirinya bukan hanya membawa bahaya…

tetapi juga mengundang musuh yang jauh lebih besar.

 

BERSAMBUNG

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *