Episode: 1
MALAM itu bukan malam biasa.
Langit di lereng Gunung Lawu tampak terlalu bersih. Tidak ada bintang, tidak ada bulan. Seolah-olah langit sedang menahan napas.
Di sebuah rumah kayu sederhana, lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin tipis yang menyusup dari sela-sela dinding. Bau kayu jati tua bercampur dengan aroma malam satu Suro yang selalu terasa lebih berat dari malam-malam lainnya.
Di tengah ruangan, seorang lelaki paruh baya duduk bersila.
Tangannya memegang tatah kecil dan sebilah palu kayu. Di hadapannya, selembar kulit kerbau yang telah direndam dan dikeringkan terbentang rapi. Ia sedang mengukir wayang.
Namanya Ki Wira Wening. Pembuat wayang turun-temurun. Leluhurnya pernah menjadi empu kesenian di keraton kecil yang kini tinggal nama.
Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun memperhatikan dengan mata tak berkedip.
Itulah Jaka Wening.
Biasanya ia hafal bentuk wayang yang dibuat ayahnya. Arjuna yang halus. Bima yang gagah. Rahwana yang garang.
Tapi malam ini berbeda.
Sosok yang diukir ayahnya memiliki dua wajah.
Satu wajah tersenyum tenang.
Satu wajah lainnya menyeringai penuh amarah.
“Bapak…” suara Jaka pelan, hampir takut mengganggu kesunyian. “Itu wayang siapa?”
Ki Wira tidak menjawab.
Tangannya berhenti sebentar. Lalu kembali menatah. Bunyi tok… tok… tok… terdengar lebih keras dari biasanya.
“Bapak belum pernah membuat yang seperti itu.”
Ki Wira menarik napas dalam.
“Tidak semua yang digambar,” katanya pelan, “boleh disebutkan namanya.”
Jaka tidak mengerti.
Ia bangkit, melangkah mendekat. Bayangan lampu minyak membuat wajah wayang itu tampak hidup. Seolah kedua wajah itu benar-benar berbeda jiwa.
“Kenapa yang satu marah sekali?”
Ki Wira berhenti lagi.
Kali ini tangannya gemetar.
“Karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk memaafkan.”
Angin tiba-tiba berhenti.
Benar-benar berhenti.
Lampu minyak yang tadinya bergoyang kini diam seperti terpaku. Api tidak berkedip. Suara jangkrik di luar mendadak lenyap.
Jaka merasakan sesuatu di dadanya.
Bukan sakit.
Tapi seperti ada yang mengetuk dari dalam.
Sekali.
Pelan.
“Bapak…”
Ki Wira menatap wayang itu lama sekali. Lalu tanpa aba-aba, ia menjatuhkan tatah dan berdiri.
“Jaka. Masuk ke kamar.”
“Tapi—”
“Sekarang.”

Nada suaranya tidak biasa. Tegas. Tegang.
Jaka menurut.
Ia melangkah ke kamar kecil di samping dapur. Tapi sebelum benar-benar masuk, ia menoleh sekali lagi.
Dan saat itulah ia melihatnya.
Wayang itu bergerak.
Bukan tertiup angin.
Bukan jatuh.
Tapi kepalanya yang bermuka dua itu perlahan menoleh.
Menghadap ke arah Jaka.
Lampu minyak padam.
Gelap menelan segalanya.
***
Jaka terbangun dengan napas terengah.
Pagi telah datang.
Cahaya matahari menembus sela-sela jendela bambu. Ayam berkokok seperti biasa. Dunia tampak normal.
Terlalu normal.
Ia berlari ke ruang depan.
Wayang itu masih ada. Tergeletak di atas meja. Tidak bergerak. Tidak berubah.
Ki Wira duduk di beranda, memandang gunung yang tertutup kabut.
“Bapak…” Jaka mendekat perlahan. “Tadi malam—”
“Apa pun yang kamu lihat,” potong ayahnya, tanpa menoleh, “anggap saja angin.”
“Tapi itu bergerak.”
“Angin.”
Jaka terdiam.
Ia tahu ayahnya bukan orang yang mudah takut. Tapi pagi itu, Ki Wira tampak lebih tua dari biasanya. Garis di wajahnya terlihat dalam.
“Wayang itu untuk siapa, Pak?”
Ki Wira akhirnya menoleh.
Tatapannya tidak lagi setenang biasanya.
“Itu bukan untuk siapa-siapa.”
“Lalu kenapa dibuat?”
Hening.
Beberapa detik yang terasa panjang.
“Karena sudah waktunya.”
Jawaban itu menggantung.
Jaka ingin bertanya lagi. Tapi sesuatu di dadanya kembali berdenyut.
Kali ini lebih kuat.
Seperti ada suara.
Sangat pelan.
…dengar…
Jaka menoleh cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya angin pagi.
***
Siang harinya, kabar datang dari desa bawah.
Beberapa pemuda padepokan Gunung Kendalisada terlihat di pasar. Mereka tidak biasa turun ke desa tanpa alasan.
Padepokan itu terkenal keras. Pemimpinnya, Ki Lodra Seta, dikenal sebagai pendekar sakti yang tidak suka wilayahnya diganggu.
Menjelang sore, tiga orang lelaki berseragam hitam berdiri di depan rumah Ki Wira.
Jaka melihat mereka dari balik pintu.
Wajah mereka dingin.
“Ki Wira Wening,” salah satu dari mereka berbicara, “kami mendengar engkau membuat sesuatu yang tidak seharusnya dibuat.”
Ki Wira tetap duduk bersila.
“Apa yang saya buat hanyalah wayang.”
“Wayang bisa menjadi panggilan.”
Jaka merasakan lagi ketukan di dadanya.
Lebih keras.
Seolah-olah jantungnya bukan lagi miliknya sendiri.
Lelaki kedua melangkah masuk tanpa izin. Matanya menyapu ruangan. Lalu berhenti pada meja.
Di sana, wayang bermuka dua itu masih tergeletak.
Ia mendekat.
Tangannya hendak menyentuhnya.
“Jangan,” kata Ki Wira pelan.
Terlambat.
Begitu jari lelaki itu menyentuh kulit wayang—
Udara di ruangan berubah dingin.
Lampu minyak yang sudah padam sejak pagi tiba-tiba menyala sendiri.
Api berwarna kebiruan.
Lelaki itu terlempar ke belakang seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat.
Jaka memekik.
Dari dalam dadanya, suara itu kini jelas.
Bangun.
Lelaki ketiga mencabut kerisnya.
“Ini benar,” katanya lirih. “Segel itu melemah.”
Ki Wira berdiri.
“Anak saya tidak tahu apa-apa.”
“Justru itulah masalahnya,” jawab lelaki pertama.
Mata mereka kini tertuju pada Jaka.
Dan untuk pertama kalinya, Jaka merasakan sesuatu yang lain selain takut.
Marah.
Amarah yang bukan miliknya.
Dadanya panas.
Pandangan matanya kabur.
Suara itu kembali berbicara.
Biarkan aku.
Tubuh Jaka bergerak sendiri.
Langkahnya maju satu.
“Jaka, jangan!” teriak Ki Wira.
Tapi sudah terlambat.
Angin berputar di dalam ruangan.
Debu terangkat.
Wayang bermuka dua itu terbang ke udara dan berhenti tepat di depan Jaka.
Kedua wajahnya kini terbuka sempurna.
Wajah tenang berbisik pelan.
Wajah marah tertawa.
Dan dalam hitungan detik, sesuatu masuk.
Bukan dari luar.
Tapi dari dalam dirinya sendiri.
Jaka menjerit.
Suara jeritannya berubah di tengah jalan. Dari suara anak kecil… menjadi suara berat, tua, penuh dendam.
“Akhirnya…”
Lantai kayu retak.
Ketiga lelaki berseragam hitam mundur satu langkah.
“Dia belum siap!” salah satu berteriak.
Tapi yang berdiri di sana bukan lagi sekadar anak pembuat wayang.
Matanya terbuka.
Separuh pupilnya menghitam.
Separuhnya tetap jernih.
“Aku menunggu terlalu lama,” suara itu bergema, bukan hanya di ruangan, tapi seakan di dalam kepala semua orang yang hadir.
Ki Wira menutup mata.
Air mata jatuh tanpa suara.

“Maafkan aku, Nak…”
Lalu ia melompat ke depan, memeluk Jaka erat-erat.
“Tenang! Ingat namamu! Kamu Jaka Wening!”
Nama itu seperti ditarik paksa dari kedalaman.
Jaka.
Wening.
Suara tua itu mendesis.
Nama itu bukan milikku.
Cahaya kebiruan dari lampu minyak meledak.
Gelap kembali menelan semuanya.
***
Ketika Jaka membuka mata, ia terbaring di tanah halaman rumah.
Langit senja memerah.
Rumahnya setengah hancur.
Ketiga lelaki berseragam hitam sudah tidak ada.
Ki Wira duduk di sampingnya, wajahnya pucat.
“Bapak…” suara Jaka parau. “Apa yang terjadi?”
Ki Wira menatapnya lama.
Di matanya ada rasa takut. Tapi juga kepastian.
“Kamu tidak lagi bisa hidup seperti anak biasa.”
Jaka menelan ludah.
“Suara itu… siapa?”
Ki Wira memandang gunung yang kini tampak lebih gelap dari biasanya.
“Itu bukan suara dari luar.”
Ia menoleh.
“Itu darahmu sendiri.”
Angin kembali berembus.
Kali ini membawa bisikan yang hanya Jaka dengar.
Namaku… Gendra.
Dan kita belum selesai.
Matahari tenggelam di balik gunung, sementara bayangan Jaka di tanah tampak memiliki dua kepala.
Dan untuk pertama kalinya, desa kecil itu menyadari…
Sesuatu telah bangkit.
BERSAMBUNG