Berkendara Aman saat Puasa, Waspadai Low Power Mode Tubuh di Jalan Raya

SEMARANG, top62.id — Memasuki bulan Ramadan, ritme jalanan di Jawa Tengah berubah drastis. Hiruk-pikuk kendaraan dan padatnya lalu lintas menjadi pemandangan biasa, sementara tubuh pengendara sepeda motor menahan lapar dan dahaga. Di balik niat suci menjalankan ibadah, risiko nyata menanti bagi mereka yang tidak memahami perubahan kondisi fisik saat berpuasa.

Oke Desiyanto, Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, menjelaskan analoginya dengan smartphone yang memasuki “Low Power Mode” saat baterainya tinggal 15 persen.

“Tubuh kita saat puasa mirip dengan mode hemat energi itu. Layar otak tetap menyala, tapi respons melambat. Saat ada kendaraan mengerem mendadak, waktu reaksi bisa membengkak dari 0,5 detik menjadi 1 detik atau lebih. Dalam kecepatan tinggi, selisih setengah detik itu bisa menentukan selamat atau celaka,” jelas Oke.

Menurut Oke, ada dua waktu paling kritis bagi pengendara selama Ramadan:

1. Sore Hari (Ngabuburit): Perut kosong, konsentrasi menurun, sementara volume kendaraan meningkat. Fenomena “kesusu” membuat pengendara sering mengabaikan lampu merah atau marka jalan. Ditambah keramaian pedagang takjil, risiko tabrakan meningkat.

2. Pagi Hari (Pasca Sahur): Kurangnya tidur memicu micro-sleep. Di jalur lurus seperti Rembang atau Blora, tidur sekejap 3 detik saat melaju 50 km/jam setara motor berjalan tanpa kendali sejauh hampir 42 meter—sepanjang 9 setengah mobil Avanza.

About The Author

You may be interested

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *